Dorong Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Keluarga, DWP UIN Bandung Gelar Seminar Hidroponik

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar “Hidroponik: Ekoteologi sebagai Upaya Pemantapan Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga” yang berlangsung di Aula O. Djauharuddin AR Lt. 2, Rabu (06/05/2026).

Dengan menghadirkan narasumber Dr. Budy Frasetya Taufik Qurrohman, S.T.P., M.P., dosen Agroteknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang memaparkan materi bertajuk “Urban Farming: Belajar Hidroponik dari Nol.”

Dalam sambutannya, Ketua DWP UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ny. Hj. Enung Supartini Rosihon, menyampaikan apresiasi atas kehadiran narasumber dan pentingnya mengamalkan ilmu yang diperoleh.

“Terima kasih atas kehadiran narasumber yang telah berbagi ilmu. Pengetahuan yang kita dapatkan hari ini harus dimanfaatkan, diamalkan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di rumah,” tegasnya.

Ekoteologi menjadi landasan penting dalam kegiatan ini. Menurutnya, menjaga lingkungan merupakan bagian dari iman dan bernilai ibadah. “Menjaga alam adalah bagian dari keimanan. Setiap upaya merawat lingkungan akan bernilai pahala,” jelasnya.

Tema ini selaras dengan program Kementerian Agama, sehingga DWP memiliki peran strategis dalam mendukung dan menyukseskannya. “Setelah mendapatkan ilmu dari narasumber, semuanya harus dipraktikkan dalam keluarga untuk memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan,” pesannya.

Dalam laporannya, Ketua Pelaksana, Ima Yudha, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan respons atas kondisi ekonomi global yang tidak stabil. “Alhamdulillah, hari ini kita menghadirkan pakar hidroponik dari Jurusan Agroteknologi. Tema ini diangkat karena keprihatinan terhadap kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil dan harga kebutuhan yang terus meningkat,” ujarnya.

Kehadiran seminar ini dapat menjadi solusi konkret dalam memperkuat ekonomi keluarga. “Harapannya, peserta mampu menghadirkan makanan dan minuman sehat dari rumah sebagai langkah awal memperkuat ketahanan dan kesejahteraan keluarga,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Budy Frasetya Taufik Qurrohman menjelaskan bahwa masih banyak kesalahpahaman masyarakat terkait hidroponik.

Pertama, sebagian orang beranggapan bertanam secara hidroponik berarti memberikan hormon “steroid” atau bahan kimia berbahaya untuk memacu tanaman tumbuh dengan optimal.

Kedua, budidaya tanaman secara hidroponik pada kenyataannya adalah memberikan tanaman kesempatan untuk memaksimalkan potensi genetiknya dengan memberikan apa yang dibutuhkan.

Perbedaan mendasar antara hidroponik dengan pertanian organik adalah pada hidroponik senyawa garam langsung diberikan, sama halnya dengan senyawa garam yang diperoleh dari tanah.

Petanian organik menggunakan kompos dan pupuk kandang, tanaman tidak dapat menggunakan bahan organik kecuali sudah terdekomposisi menjadi senyawa garam (mineralisasi)

“Padahal, hidroponik justru memberikan kesempatan bagi tanaman untuk memaksimalkan potensi genetiknya dengan menyediakan unsur hara yang dibutuhkan secara tepat,” jelasnya.

Perbedaan antara pertanian organik dan hidroponik. Pada sistem hidroponik, unsur hara diberikan dalam bentuk senyawa mineral (garam) yang langsung dapat diserap tanaman. Sementara dalam pertanian organik, bahan seperti kompos dan pupuk kandang harus melalui proses dekomposisi terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan tanaman.

Mengingat pentingnya penggunaan greenhouse di daerah tropis untuk melindungi tanaman dari cuaca ekstrem, serangan hama, serta memudahkan pemeliharaan. “Tanaman hidroponik membutuhkan unsur hara yang sama dengan tanaman konvensional, hanya saja medianya berbeda,” ujarnya.

Dalam aspek teknis, metode penyemaian dapat dilakukan menggunakan media campuran tanah dan pupuk kandang atau langsung menggunakan rockwool. Media tanam hidroponik sangat beragam, mulai dari air, pasir, cocopeat, hingga bahan modern seperti perlit, vermikulit, dan hidrogel.

Pusat Riset Hidroponik ini mengingatkan pentingnya pemantauan faktor abiotik seperti cahaya matahari, suhu, kelembaban, serta kadar oksigen terlarut dalam larutan nutrisi. “Gangguan pada tanaman hidroponik umumnya ditandai dengan daun menguning, layu, hingga pertumbuhan yang terhambat, yang seringkali disebabkan oleh ketidakseimbangan nutrisi, air, atau pencahayaan,” bebernya.

Dosen Agroteknologi ini menekankan pentingnya perencanaan jadwal tanam yang matang, mulai dari pemilihan komoditas, penentuan target panen, hingga estimasi hasil produksi.

Seminar berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat terhadap praktik hidroponik sebagai solusi ketahanan pangan keluarga di era modern.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kemandirian pangan keluarga, memperkuat peran perempuan dalam menjaga ketahanan pangan di era global,” pungkasnya.

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *