Bentuk Jati Diri Umat, 5 Peristiwa Penting yang Terjadi pada Bulan Sya’ban

UINSGD.AC.ID (Humas) — Usai berlalu Rajab, kini kita memasuki Sya’ban. Kehadiran bulan Sya’ban menjadi pertanda bahwa Ramadhan sudah semakin dekat. Bulan ini berfungsi sebagai penghubung spiritual yang mengantarkan umat Islam dari Rajab menuju puncak pengabdian dan ibadah pada Ramadhan.

Dilansir dari MUI, Jumat (23/1/2026), dalam catatan sejarah Islam, Sya’ban tidak hanya dipahami sebagai bulan transisi, tetapi juga sebagai bulan yang menyimpan berbagai keutamaan dan peristiwa penting yang penuh dengan makna spiritual.

Namun, karena letaknya berada di antara dua bulan yang sangat dimuliakan, yaitu Rajab dan Ramadhan, keutamaan Sya’ban sering kali terabaikan dan kurang mendapat perhatian dari banyak kalangan Muslim.

Padahal, Rasulullah SAW dengan jelas menegaskan kemuliaan bulan ini melalui sabda beliau:

ذَاكَ شَهْرٌ تَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan manusia karena terletak di antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.” (HR An-Nasai)

Selain memiliki ragam keutamaan dalam ibadah, para ulama juga mencatat setidaknya lima peristiwa penting yang terjadi pada Sya’ban.

Peristiwa-peristiwa tersebut tidak hanya bernilai sejarah, melainkan pula mengandung pelajaran tentang akidah, ketaatan, serta pembentukan jati diri umat Islam. Berikut di antaranya:

1. Peralihan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah

Salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Islam yang terjadi pada bulan Sya’ban adalah perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah. Peristiwa tersebut berlangsung pada tahun kedua Hijriyah.

Sebelumnya, selama lebih dari enam belas bulan setelah hijrah ke Madinah, kaum Muslimin menunaikan shalat dengan menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem. Peristiwa ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT yang berbunyi:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya: “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam.” (QS Al-Baqarah: 144)

Rasulullah SAW sebelumnya melaksanakan shalat dengan menghadap Baitul Maqdis sejak masa di Makkah hingga sekitar enam bulan setelah hijrah ke Madinah.

Imam Ibn Katsir (wafat 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan secara rinci latar belakang ditetapkannya Baitul Maqdis sebagai kiblat oleh Allah SWT sebelum akhirnya dikembalikan ke Ka’bah.

Kendati demikian, secara batin Rasulullah SAW lebih mencintai Ka’bah sebagai kiblat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Peralihan arah kiblat ini menjadi penanda lahirnya kemandirian identitas umat Islam, sekaligus pembeda yang tegas dari kiblat kaum Yahudi:

لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَكَانَ أَكْثَرُ أَهْلِهَا الْيَهُودَ، فَأَمَرَهُ اللَّهُ أَنْ يَسْتَقْبِلَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَفَرِحَتِ الْيَهُودُ، فَاسْتَقْبَلَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وَكَانَ يُحِبُّ قِبْلَةَ إِبْرَاهِيمَ، فَكَانَ يَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَيَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ إِلَى قَوْلِهِ: فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

Artinya: “Ketika beliau SAW hijrah ke Madinah, sementara mayoritas penduduknya adalah orang-orang Yahudi, maka Allah memerintahkannya untuk menghadap Baitul Maqdis. Orang-orang Yahudi pun merasa gembira. Rasulullah SAW menghadap ke arah itu selama beberapa belas bulan. Namun beliau menyukai kiblat Nabi Ibrahim, sehingga beliau senantiasa berdoa kepada Allah dan menengadahkan pandangannya ke langit. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, hingga firman-Nya: Maka hadapkanlah wajah-wajah kalian ke arahnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], vol 1, h 330)

2. Penyerahan Rekapitulasi Amal Manusia

Peristiwa penting berikutnya yang terjadi pada bulan Sya’ban adalah diangkat dan disampaikannya catatan amal perbuatan manusia kepada Allah SWT. Rasulullah SAW menerangkan bahwa Sya’ban merupakan masa pengangkatan amal tahunan, sebagaimana beliau sampaikan dalam sabdanya:

فَذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ شَهْرِ رَجَبٍ وَشَهْرِ رَمَضَانَ، تُرْفَعُ فِيهِ أَعْمَالُ النَّاسِ، فَأُحِبُّ أَنْ لَا يُرْفَعَ عَمَلِي إِلَّا وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Hal itu (Sya’ban) merupakan bulan yang kerap dilalaikan oleh manusia, yakni antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Aku ingin amalku tidak diangkat kecuali aku sedang berpuasa.” (HR An-Nasa’i)

Syekh Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki (wafat 1425 H) menerangkan bahwa meskipun pengangkatan amal tetap berlangsung baik secara harian dan pekanan, pengangkatan amal pada Sya’ban memiliki cakupan yang paling besar dan paling menyeluruh. Sehingga, Rasulullah SAW memperbanyak ibadah puasa sebagai bentuk kesiapan spiritual ketika amal perbuatannya dipersembahkan kepada Allah SWT:

مِنْ مَزَايَا شَهْرِ شَعْبَانَ الْمَعْرُوفَةِ: رَفْعُ الْأَعْمَالِ فِيهِ، وَهُوَ الرَّفْعُ الْأَكْبَرُ وَالْأَوْسَعُ، وَقَدْ جَاءَ ذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! لِمَ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟

Artinya: “Di antara keutamaan Sya’ban yang telah dikenal, adalah diangkatnya amal-amal perbuatan pada Sya’ban, yaitu pengangkatan yang paling besar dan paling luas. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA. Ia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa pada suatu bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya‘ban.” (Madza fi Sya’ban [Makkah: Haiah As-Shofwah Al-Malikiyyah], h 11)

3. Penentuan Usia dan Ajal Manusia

Pada Sya’ban pula ditampakkan ketetapan usia dan ajal manusia. Hal ini ditegaskan dalam redaksi hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengungkapkan, di bulan tersebut Allah mencatat siapa saja yang akan meninggal dunia pada tahun itu.

Karenanya, beliau sangat menyukai berpuasa di bulan Sya’ban dengan harapan ketika ajal menjemput, beliau berada dalam keadaan beribadah.

Para ulama menegaskan bahwa penetapan ini bukan berarti Allah baru menentukan takdir pada waktu tertentu. Akan tetapi, hal demikian merupakan bentuk penampakan dan penegasan ketetapan-Nya kepada para malaikat, sebab pada hakikatnya perbuatan Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Berkaitan dengan hal ini, Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam salah satu karyanya menyatakan:

وَفِي شَهْرِ شَعْبَانَ تُقَدَّرُ الْأَعْمَارُ، وَالْمَقْصُودُ إِظْهَارُ هَذَا التَّقْدِيرِ وَإِبْرَازُهُ، وَإِلَّا فَإِنَّ أَفْعَالَ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تُقَيَّدُ بِزَمَانٍ وَلَا مَكَانٍ

Artinya: “Pada bulan Sya’ban ditetapkan usia (ajal), yang dimaksud adalah penampakan dan penegasan ketetapan tersebut. Padahal sesungguhnya perbuatan Allah Yang Mahasuci tidak terikat oleh waktu maupun tempat.” (Madza fi Sya’ban [Mekkah: Haiah As-Shofwah Al-Malikiyyah], h 17)

4. Turunnya Ayat Perintah Bershalawat kepada Nabi

Peristiwa penting keempat, adalah diturunkannya ayat yang agung dalam Alquran mengenai perintah untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Imam Al-Qisthalani (wafat 923 H) dalam salah satu karyanya menyebut Sya’ban sebagai bulan shalawat, sebab pada bulan inilah ayat perintah bershalawat diturunkan.

Oleh karena itu, memperbanyak shalawat di bulan Sya’ban menjadi amalan yang sangat dianjurkan sebagai wujud kecintaan, pengagungan, dan penghormatan kepada Rasulullah SAW:

وَقِيلَ: إِنَّ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ لِأَنَّ آيَةَ الصَّلَاةِ، يَعْنِي: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَزَلَتْ فِيهِ

Artinya: “Dikatakan bahwa bulan Sya‘ban adalah bulan bershalawat kepada Rasulullah SAW, karena ayat tentang shalawat yaitu firman Allah: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, diturunkan pada bulan tersebut.” (Al-Mawahib Al-Laduniyyah [Kairo: Al-Maktabah At-Taufiqiyyah], vol 2, h 650)

5. Sya’ban sebagai Bulan Alquran

Peristiwa kelima, yakni berdasarkan keterangan dari para ulama bahwa bulan Sya’ban merupakan
bulan Alquran sekaligus momentum persiapan menyambut Ramadhan.

Oleh karenanya, Sya’ban menjadi waktu yang tepat untuk menyucikan hati, memperbanyak tilawah Alquran, shalawat, puasa sunah, serta melakukan muhasabah diri sebagai bekal memasuki bulan suci Ramadhan yang penuh dengan kemuliaan:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ الْمُسْلِمُونَ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ، انْكَبُّوا عَلَى الْمَصَاحِفِ فَقَرَؤُوهَا، وَأَخْرَجُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ تَقْوِيَةً لِلضَّعِيفِ وَالْمِسْكِينِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ .وَقَالَ سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ: كَانَ يُقَالُ: شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ

Artinya: “Dari Anas RA, ia berkata: Apabila bulan Sya’ban telah masuk, kaum Muslimin menyibukkan diri dengan mushaf-mushaf Al-Qur’an lalu membacanya, dan mereka mengeluarkan zakat harta mereka untuk menguatkan orang-orang lemah dan fakir miskin agar mampu menjalankan puasa Ramadhan. Dan Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan: bulan Sya’ban adalah bulannya para pembaca Al-Qur’an.” (Lathaif Al-Ma’arif [Beirut: Dar Al-Fikr], h 149)

Demikianlah lima peristiwa penting yang memiliki nilai sejarah dan keutamaan pada bulan Sya’ban. Semoga dengan menelaah jejak peristiwa-peristiwa tersebut, kita dapat memetik pelajaran, meningkatkan kualitas ibadah, serta mempersiapkan diri lahir maupun batin dalam menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan. Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan terbaik. Amin. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *