UINSGD.AC.ID (Humas) — Gelombang kecerdasan buatan (AI) kini telah hadir dan tidak bisa dibendung. Dari perbankan, pendidikan, hingga pertanian, AI kini menjadi bagian dari kehidupan kita, merasuk ke dalam ruang-ruang kerja. Kehadirannya menimbulkan dua sisi, optimisme yang penuh harapan.
Optimisme karena AI menjanjikan efisiensi, peluang baru, dan lompatan besar dalam produktivitas, sekaligus kecemasan yang sulit disembunyikan. Kecemasan karena ada rasa takut: apakah pekerjaan manusia akan tergantikan?
Kecemasan dan kekhawatiran ini diperkuat dengan Laporan World Economic Forum (2024) menjelaskan bahwa ada 85 juta pekerjaan berpotensi hilang akibat otomatisasi, tetapi sekaligus akan muncul 97 juta jenis pekerjaan baru. Artinya, bukan manusia yang akan tergantikan, melainkan jenis pekerjaan yang bergeser. Maka, kunci masa depan bukanlah menolak AI, tetapi bagaimana kita berinvestasi pada SDM agar mampu hidup berdampingan dengan teknologi.

Optimisme: AI Membuka Peluang Baru
Jika pada era revolusi industri manusia bergantung pada mesin fisik untuk mempercepat kerja, maka di era AI manusia memperoleh “mitra berpikir” yang mampu mengolah data, membuat prediksi, bahkan menawarkan alternatif solusi. Dan menandai transformasi besar, dimana manusia tidak lagi sendiri dalam memecahkan masalah kompleks.
AI bukan sekadar alat otomatisasi, melainkan akselerator yang membuka cakrawala baru dalam kehidupan manusia. Jika dulu inovasi teknologi hanya menyingkat waktu dan biaya, kini AI mampu menciptakan nilai tambah yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Di dunia bisnis, AI memberi peluang mencapai pasar potensial baru. UMKM di daerah, misalnya, kini bisa memasarkan produk melalui platform digital dengan bantuan sistem rekomendasi berbasis AI yang mempertemukan produk dengan konsumen yang tepat. Seperti pengrajin batik di Pekalongan atau pembuat kopi di Toraja yang memiliki akses ke pasar global dan tidak harus selalu bergantung pada distributor besar.
Di sektor pertanian, AI membantu petani membaca pola cuaca, memprediksi hama, dan mengatur pola tanam yang lebih efisien. sehingga hasil panen lebih terjamin. Optimisme muncul karena teknologi ini menguatkan peran petani sebagai pengelola data sekaligus penjaga ketahanan pangan, bukan menggantikannya.
Dalam bidang pendidikan, personalized learning memungkinkan setiap siswa bisa belajar sesuai kecepatan dan gaya belajarnya masing-masing, sementara guru tetap berfungsi sebagai penuntun nilai dan karakter, pemandu moral, dan motivator. AI membuka peluang pendidikan yang lebih inklusif, bahkan bagi daerah terpencil sekalipun.
Dari sisi sosial, AI juga memberi harapan baru dalam inklusivitas penyandang disabilitas. Teknologi pengenal suara dan teks otomatis membuka akses komunikasi bagi tunarungu. Sistem navigasi berbasis AI membantu tunanetra bergerak lebih mandiri di ruang publik. Optimisme terhadap AI tidak hanya berakar pada aspek ekonomi atau teknologi, juga menghadirkan inklusi sosial, dengan tetap menjaga gagasan filosofis tentang masa depan manusia
Di bidang kesehatan, AI membantu dokter menganalisis hasil radiologi lebih cepat, dokter bukan hanya pemberi resep, tetapi pendamping emosional pasien, AI membuka peluang percepatan diagnosis dan pengembangan obat. Bayangkan, analisis radiologi yang dulu memakan waktu berhari-hari kini bisa dilakukan dalam hitungan menit dengan tingkat akurasi tinggi. Hal ini bukan berarti dokter kehilangan peran, tetapi dokter bisa lebih fokus pada sisi kemanusiaan, memberi empati, mendampingi pasien, dan merumuskan keputusan medis yang menyeluruh.
Contoh lainnya, seorang Manajer bukan sekadar pengatur pekerjaan, tetapi pencipta visi kolektif yang memberi arah. AI mengambil alih sisi mekanis, sementara manusia memelihara sisi eksistensial. Oleh karena itu, optimisme AI bukan semata soal peluang ekonomi atau efisiensi, melainkan soal kebangkitan manusia dalam menjalankan perannya yang paling hakiki, membangun peradaban yang lebih adil, inklusif, dan bermakna.
AI tanpa disadari akan dan sudah menjadi bagian hidup kita. Dari layanan perbankan digital, transportasi online, hingga sistem rekomendasi belanja, hampir semua aktivitas modern kini ditopang oleh algoritma cerdas. Bahkan di perbankan syariah, AI mulai digunakan untuk memetakan portofolio investasi halal. Peluang dan membuka optimisme bahwa AI dapat memperluas kesempatan, menciptakan efisiensi, dan menghadirkan layanan yang lebih manusiawi dan membantu terbebas dari rutinitas yang membosankan.
Dalam perspektif filsafat teknologi, AI dipandang sebagai “perpanjangan daya pikir manusia”, sebagaimana mesin uap dulu menjadi perpanjangan otot. Artinya, AI dapat memperkuat kapasitas manusia, bukan melemahkannya. Filsuf seperti Heidegger pernah memperingatkan bahaya teknologi yang bisa membuat manusia terjebak dalam mekanisasi.
Namun, optimisme AI lahir karena manusia kini diberi kesempatan untuk memilih peran yang lebih manusiawi, berkreasi, berempati, dan beretika. Di sinilah letak optimisme yang sesungguhnya. AI membuka peluang agar manusia keluar dari jebakan rutinitas mekanis dan berpindah menuju peran konseptual dan reflektif, agar bisa fokus pada pekerjaan yang lebih bermakna (meaningful work).
Hal ini menjadi dasar lahirnya perspektif Human society 2.0, dimana masyarakat bergerak menuju fase baru, dunia manusia dan mesin cerdas hidup berdampingan, saling melengkapi, dan membentuk ekosistem peradaban baru.
Kecemasan: Ketakutan Akan Tergusur
Namun, ada sisi lain yang tak bisa diabaikan. AI juga memunculkan kecemasan mendalam. Secara sosial, terjadi ancaman ketimpangan, mereka yang siap beradaptasi akan menang, sementara yang tertinggal dapat tersingkir. Dari sisi psikologi, pekerja menghadapi fenomena technostress, yakni stres karena harus terus belajar hal-hal baru, takut tergantikan, atau merasa kehilangan arah.
Stres yang lahir dari tekanan teknologi, cemas dan khawatir pekerjaannya suatu saat digantikan algoritma. Rasa tidak aman ini menurunkan motivasi dan bisa berdampak pada kesehatan mental.
Dalam perspektif filsafat, kecemasan ini sejatinya mengulang pertanyaan klasik tentang relasi manusia dengan teknologi. Heidegger mengingatkan bahwa teknologi bisa mereduksi manusia hanya sebagai “bagian dari sistem”. dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Kecemasan muncul karena ada rasa kehilangan kontrol, mesin bukan lagi sekadar alat, tetapi seakan mengambil alih posisi manusia sebagai pengambil keputusan.
Di Indonesia, fenomena tersebut sudah terasa, seperti Call center di sektor perbankan dan layanan digital banyak digantikan chatbot. Buruh pabrik di Karawang dan Bekasi berkurang drastis karena otomatisasi lini produksi. Seorang jurnalis muda cemas karena AI bisa menulis berita singkat berbasis data dengan cepat.
Driver ojek online gelisah dengan wacana kendaraan otonom. Dan bagi mereka, AI bukan sekadar isu teknologi, tetapi ancaman eksistensial, hilangnya pekerjaan berarti hilangnya identitas dan martabat sosial. AI bukan lagi peluang, melainkan ancaman eksistensial, hilangnya pekerjaan berarti hilangnya identitas dan martabat sosial.
Kecemasan ini perlu dipahami bukan sekadar sebagai resistensi, tetapi sebagai alarm sosial yang mengingatkan bahwa setiap kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kebijakan yang adil, investasi pendidikan yang merata, dan penguatan etika agar manusia tetap berada di pusat peradaban.
Namun di balik optimisme yang menyala, ada bayang-bayang kecemasan yang tak bisa diabaikan. Ketakutan terbesar adalah apakah manusia masih relevan ketika mesin semakin pintar?
Dalam perspektif sosial, AI memunculkan ancaman ketimpangan baru. Tidak semua orang memiliki akses setara terhadap teknologi. Mereka yang mampu beradaptasi akan menikmati peluang, sementara yang tertinggal bisa terperangkap dalam lingkaran marginalisasi.
Pekerja sektor informal yang mengandalkan keterampilan manual terancam tertinggal jika transformasi digital tidak disertai program reskilling yang masif. Rasa tidak aman dapat menurunkan motivasi dan bisa berdampak pada kesehatan mental. Dalam perspektif filsafat, kecemasan berarti mengulang pertanyaan klasik tentang relasi manusia dengan teknologi agar kita menata ulang hubungan manusia dan mesin secara lebih bijaksana.

Investasi SDM: Jalan Tengah Masa Depan
investasi pada manusia menjadi jalan tengah yang harus di jalankan. Ada empat langkah strategis yang bisa menjadi peta jalan masa depan:
1. Upskilling dan Reskilling, bahwa dunia kerja tidak lagi statis. Karyawan harus terus memperbarui keterampilannya. Programmer mempelajari etika data, guru belajar teknologi pembelajaran digital, dan petani belajar AI untuk prediksi cuaca.
2. Menguatkan Soft Skills dengan kreativitas, empati, komunikasi, dan kepemimpinan adalah kompetensi yang tidak bisa digantikan mesin. Dan menjadi nilai sebenarnya yang akan membedakan manusia dari algoritma.
3. Kesehatan Mental dan Growth Mindset, bahwa Perusahaan yang hanya fokus pada teknologi tanpa memperhatikan kesejahteraan psikologis karyawan akan menghadapi kegagalan. Kunci utama keseimbangan terdapat pada SDM masa depan yang memiliki karakter growth mindset, dan memandang perubahan bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk belajar.
4. Etika dan Kemanusiaan, jadikan AI sebagai alat dan Investasi sejatinya adalah membangun SDM yang mampu mengarahkan teknologi agar tidak terjadi dehumanisasi dan tetap berpihak pada nilai kemanusiaan , menjunjung tinggi etika dan moral peradaban.

Masa Depan: Dari Cemas ke Harapan
Sejarah teknologi mengajarkan, setiap revolusi memang melahirkan kecemasan. Mesin uap menjadi ancaman menakutkan di masa lampau, komputer dan internet sempat di tolak. Namun saat ini, semua terbukti membuka peluang baru. AI adalah babak terbaru.
Optimisme akan menang jika kita menyiapkan SDM yang adaptif, tangguh, dan beretika. Investasi di era AI bukan hanya tentang membeli perangkat lunak atau membangun pusat data. Investasi yang paling strategis adalah mempersiapkan manusia, memberi keterampilan baru, memperkuat daya tahan mental, dan memastikan etika tetap menjadi fondasi.
Di masa depan, tentu pertanyaannya tidak lagi tentang “apakah AI akan menggantikan manusia?”, melainkan apakah manusia siap menjadi mitra sejati bagi AI dalam membangun peradaban baru? Wallahu a’lam bis showab
Lilis Sulastri, Guru Besar Ilmu Manajemen, Ketua Prodi Manajemen FEBI dan Dosen MSDM Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum MES Kota Bandung