UINSGD.AC.ID (Humas) — Wisuda menjadi salah satu momen yang dinanti mahasiswa setelah melewati perjalanan panjang di bangku perkuliahan.
Namun, ada yang berbeda dari sosok Muhammad Hakim, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung yang mencuri perhatian pada wisuda ke-109, Sabtu (12/9/2026).

Alih-alih hanya mengenakan toga dan pakaian wisuda, Hakim tampil dengan riasan wajah ala badut setelah prosesi wisuda lulusan 2026 selesai. Penampilannya itu kemudian viral di media sosial (@badutbandung_kakhakim12)
Di balik penampilan yang mengundang perhatian tersebut, tersimpan perjalanan panjang Hakim menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus badut ulang tahun. Profesi itu mulai digelutinya sejak semester tiga, tepat ketika kehilangan sang ayah. Berbekal kemampuan menghibur anak-anak, Hakim mengambil pekerjaan sebagai badut untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus meringankan biaya kuliahnya.

“Jadi intinya perjalanan saya mulai profesi badut ini di semester tiga atau ketika ayah meninggal. Jadi ketika ayah Hakim meninggal, Hakim mulai menggeluti dunia badut karena buat cari-cari tambahan untuk kehidupan,” ungkapnya.
Selama kurang lebih lima tahun menjalani profesi tersebut, Hakim tidak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga menemukan pengalaman dan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Ia mengaku tidak pernah mendapat perlakuan yang merendahkan karena pekerjaannya. Bahkan, profesinya justru beberapa kali membawanya berkolaborasi dengan organisasi mahasiswa dalam kegiatan sosial untuk menghibur anak-anak.

“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada yang meremehkan. Bahkan banyak sekali teman-teman juga mengapresiasi dengan adanya Kak Hakim menjadi seorang badut ulang tahun. Bahkan teman-teman juga di beberapa himpunan mahasiswa (HMJ) berkolaborasi ketika ada acara santunan atau acara sosial,” ujarnya.
Karena itulah, riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda. Hakim sengaja membawa identitas profesinya ke momen bahagia tersebut sebagai bentuk rasa syukur sekaligus cara berbagi kebahagiaan bersama teman-teman yang selama ini menjadi bagian dari perjuangannya. Riasan itu pun digunakan setelah prosesi wisuda selesai, bukan ketika mengikuti acara seremonial di dalam gedung.

“Alasannya itu karena pengen berbagi kebahagiaan bersama teman-teman berjuang. Meskipun di hari bahagianya Hakim, Hakim juga ingin membahagiakan orang lain dengan cara bagi-bagi snack dan kartu ucapan selamat wisuda,” katanya.
Lebih dari sekadar aksi berbagi, Hakim ingin penampilannya menyampaikan pesan kepada siapa pun yang melihatnya bahwa pendidikan dan cita-cita bukan sesuatu yang mustahil diraih. Ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak selama seseorang memiliki kemauan untuk terus berjuang.

“Intinya ingin menyampaikan bahwa tidak ada kata terlambat, tidak ada kata mustahil. Siapa yang berjuang, siapa yang ada kemauan, pasti bisa,” tuturnya.
Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Hakim memiliki harapan untuk melanjutkan perjalanan dengan pengalaman baru, termasuk mencoba mengikuti seleksi CPNS. Namun, tidak ingin meninggalkan profesi yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Baginya, menjadi badut bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan salah satu bagian dari perjuangan yang mengantarkannya hingga berhasil meraih gelar sarjana. (Fitri Awaliyah / Magang)


