UINSGD.AC.ID (Humas) — Bandung Timur tidak hanya dikenal sebagai kawasan pendidikan (UIN Sunan Gunung Djati, UPI Cibiru, Universitas Terbuka) dan perkembangan perkotaan, tetapi menyimpan sejumlah tempat ziarah yang memiliki nilai sejarah dan spiritual. Beberapa di antaranya merupakan makam para ulama, tokoh agama, maupun sesepuh yang dihormati oleh masyarakat setempat.
Selain menjadi tempat untuk mendoakan para pendahulu, lokasi-lokasi tersebut juga menjadi pengingat akan perjuangan mereka dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan membangun kehidupan masyarakat.
Bagi warga maupun sivitas akademika yang ingin melakukan wisata religi, berikut lima tempat ziarah di Bandung Timur yang dapat dikunjungi.
1. Makam KH. Hasan Mustapa
Makam KH. Hasan Mustapa berada di kawasan Nagrog, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung. KH. Hasan Mustapa dikenal sebagai ulama, pujangga Sunda, dan intelektual Muslim yang menghasilkan berbagai karya sastra bernuansa tasawuf serta kebudayaan Sunda.
Ia pernah menjabat sebagai Hoofd Penghulu Bandung pada masa Hindia Belanda dan memiliki peran penting dalam perkembangan pemikiran Islam di tanah Sunda. Hingga kini, makamnya masih dikunjungi oleh peziarah, budayawan, akademisi, maupun mahasiswa yang ingin mengenang jasa serta pemikiran beliau.
Selain berziarah, pengunjung juga dapat mempelajari warisan intelektual KH. Hasan Mustapa yang menjadi bagian penting dalam khazanah sastra dan budaya Sunda.
2. Makam Eyang Buyut Manglayang
Berada di kawasan Gunung Manglayang, Kecamatan Cilengkrang, makam Eyang Buyut Manglayang menjadi salah satu tujuan wisata religi masyarakat Bandung Timur. Lokasinya yang berada di kawasan pegunungan menghadirkan suasana sejuk dan tenang sehingga banyak dimanfaatkan sebagai tempat berdoa serta melakukan refleksi diri.
Masyarakat setempat mengenal Eyang Buyut Manglayang sebagai salah satu sesepuh yang dihormati. Selain memiliki nilai spiritual, kawasan ini menawarkan panorama alam yang masih asri sehingga sering dikunjungi oleh peziarah maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana pegunungan.
3. Makam Embah Dalem Cibiru
Makam Embah Dalem Cibiru berada di wilayah Kecamatan Cibiru dan menjadi salah satu situs sejarah yang masih dijaga oleh masyarakat setempat. Embah Dalem Cibiru dikenal sebagai sesepuh yang memiliki peran dalam perkembangan awal kawasan Cibiru.
Keberadaan makam ini tidak hanya menjadi tujuan ziarah keluarga maupun masyarakat sekitar, tetapi menjadi pengingat akan sejarah terbentuknya wilayah Cibiru yang kini berkembang menjadi salah satu kawasan pendidikan di Kota Bandung. Lingkungan makam yang tenang membuat banyak pengunjung datang untuk berdoa sekaligus mengenang jasa para pendahulu.
4. Makam Syekh Abdul Jalil
Berlokasi di Desa Cinunuk, Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Cibiru, makam Syekh Abdul Jalil menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat dari Bandung Timur maupun Kabupaten Bandung.
Syekh Abdul Jalil dikenal sebagai ulama yang berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pada momen tertentu, seperti menjelang Ramadan maupun bulan Muharam, jumlah peziarah yang datang ke lokasi ini biasanya meningkat. Selain menjadi tempat berdoa, makam ini menjadi bagian dari sejarah perkembangan dakwah Islam di kawasan timur Bandung.
5. Makam Eyang Dalem Cinunuk
Makam Eyang Dalem Cinunuk berada di Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Tokoh yang dimakamkan dikenal sebagai salah satu sesepuh yang memiliki peran dalam perkembangan masyarakat serta penyebaran ajaran Islam di wilayah Cinunuk dan sekitarnya.
Kompleks makam masih dirawat oleh masyarakat dan menjadi salah satu tujuan ziarah, terutama pada malam Jumat maupun menjelang bulan-bulan besar dalam kalender Islam. Selain menjadi tempat untuk mendoakan para pendahulu, kawasan ini menjadi bagian dari sejarah lokal yang menunjukkan perkembangan Islam di wilayah timur Bandung.
Mengunjungi tempat ziarah menjadi kesempatan untuk mengenal sejarah Islam dan menghargai perjuangan para ulama terdahulu. Dengan menjaga adab selama berziarah, seperti mendoakan ahli kubur, menjaga kebersihan, serta menghormati lingkungan sekitar, kegiatan ini dapat menjadi sarana memperkuat nilai spiritual sekaligus menambah wawasan sejarah bagi masyarakat. (Mohamad Farhan Fadilah / Magang)