SAA UIN Bandung Dorong Lulusan Menjadi Jembatan Dialog di Era Disrupsi Digital

UINSGD.AC.ID (Humas) — Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan pentingnya peran ilmuwan agama sebagai jembatan dialog dan penguat harmoni di tengah berbagai tantangan era disrupsi digital. Pesan itu disampaikan Guru Besar Manajemen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, S.Ag., M.M., CPHRM., CHRA, saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam pembukaan Voice of Religious Studies (VORS) III yang menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-58 Program Studi Studi Agama-Agama, di Aula Abdjan Soelaeman, Rabu (24/6/2026).

Mengusung tema “Manajemen Keberagamaan: Tiga Prinsip Menghadapi Era Disrupsi”, kegiatan ini dihadiri pimpinan fakultas, dosen, alumni, serta ratusan mahasiswa SAA dari berbagai angkatan. Hadir membersamai Prof. Dr. Abdul Syukur, M.A. (Guru Besar Bidang Ilmu Antropologi Agama), Budhy Munawar-Rachman (Dosen Universitas Paramadina, STF Driyarkara), Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum (Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin), Dr. Ilim Abdul Halim, MA (Ketua Prodi SAA), Dr. Mulyadi, M.Hum. (Sekretaris Prodi SAA), Prof. Deni Miharja, M.Ag., (Ketua Umum Asosiasi Studi Agama Indonesia /ASAI periode 2024-2029)

Dalam orasinya, Prof. Lilis memetakan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat pada 2026, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), transformasi digital, krisis iklim, dinamika geopolitik, hingga krisis moral dan spiritual. “Pertanyaannya bukan seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi apakah manusia mampu mengarahkannya untuk kemaslahatan,” ujarnya.

Menurutnya, sedikitnya terdapat empat tantangan besar yang perlu direspons oleh para akademisi dan sarjana agama, yakni menguatnya politisasi identitas, radikalisme digital yang menyasar generasi muda, menurunnya toleransi bahkan di lingkungan keluarga, serta maraknya penyebaran “fatwa instan” di media sosial tanpa landasan otoritas keilmuan.

Karena itu, lulusan Studi Agama-Agama dituntut memiliki kemampuan yang tidak hanya berbasis penguasaan teks, tetapi juga mampu membaca realitas sosial secara kritis dan membangun dialog lintas perbedaan.

“Kalian bukan sekadar penghafal ayat atau pencatat sejarah. Kalian adalah agen metodologis yang mampu membaca teks secara kritis-hermeneutis, memahami fenomena agama melalui pendekatan sosiologis dan antropologis, serta membandingkan berbagai tradisi secara objektif untuk menemukan titik temu kemanusiaan. Kompetensi ini tidak akan tergantikan oleh algoritma,” tegasnya.

Tiga Prinsip Manajemen Keberagamaan

Sebagai bekal menghadapi perubahan zaman, Prof. Lilis menawarkan tiga prinsip utama manajemen keberagamaan yang perlu dimiliki mahasiswa Studi Agama-Agama.

Pertama, manajemen data dan informasi keagamaan dengan prinsip klasifikasi dan verifikasi. Mahasiswa dituntut mampu membedakan sumber yang kredibel dari informasi yang menyesatkan, menyusun pengetahuan secara sistematis, serta menyampaikan informasi secara jujur dan bertanggung jawab. “Kalian adalah kurator peradaban, bukan sekadar konsumen informasi,” katanya.

Kedua, manajemen komunikasi lintas iman yang berlandaskan empati dan respek. Melalui pendekatan pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping), mahasiswa diharapkan mampu memahami berbagai kelompok masyarakat, membangun komunikasi yang inklusif, serta menjadi penghubung dalam upaya menciptakan perdamaian. “Pendamai yang baik hati harus sekaligus terukur dan strategis,” ujarnya.

Ketiga, manajemen diri dan integritas akademik. Mengingat pentingnya menjaga kejujuran ilmiah di tengah berbagai godaan seperti plagiarisme, riset yang tidak berkualitas, maupun penyebaran konten sensasional.

“Sarjana agama yang hebat bukanlah yang paling pandai berdebat, tetapi yang konsisten antara ucapan dan tindakan. Nama baik adalah aset terbesar seorang akademisi,” pesannya.

Kampus sebagai Laboratorium Kepemimpinan

Dalam kesempatan itu, Prof. Lilis mengutip pemikiran sejumlah tokoh dunia seperti Habermas, Heraclitus, John Dewey, hingga Al-Farabi untuk menegaskan bahwa perguruan tinggi bukan sekadar tempat memperoleh ijazah, melainkan laboratorium kepemimpinan, ruang lahirnya inovasi, dan pusat pengembangan peradaban.

“Bangsa ini membutuhkan generasi yang menjadi jembatan dialog, bukan tembok pemisah. Masa depan Indonesia sedang dipersiapkan di ruang-ruang akademik seperti ini,” ungkapnya.

Menutup orasinya dengan menegaskan tiga fondasi yang harus dimiliki generasi masa depan, yaitu integritas, karena kecerdasan tanpa integritas hanya akan melahirkan krisis kepercayaan; inovasi, karena perubahan tidak pernah menunggu mereka yang lambat beradaptasi; serta kolaborasi, sebab tidak ada satu disiplin ilmu pun yang mampu menyelesaikan persoalan dunia secara sendirian.

Dengan terselenggaranya Voice of Religious Studies (VORS) III dalam rangka Milad ke-58 Program Studi Studi Agama-Agama, diharapkan lahir berbagai gagasan baru mengenai kontribusi ilmu agama dalam menjawab tantangan krisis ekologi, ekonomi, dan sosial, sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai prospek karier lulusan SAA, baik di lingkungan Kementerian Agama, lembaga swadaya masyarakat, konsultan keberagamaan perusahaan, dunia diplomasi, media, maupun lembaga riset kebijakan publik.

“Ilmu tentang agama adalah ilmu tentang peradaban. Peradaban tidak pernah kehabisan pelanggan. Kontribusi terbesar kalian adalah menjadi arsitek perdamaian dan penerjemah perbedaan,” pungkas alumni SAA angkatan 1997 tersebut. (Haryadi/ Kontributor)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *