UINSGD.AC.ID (Humas) – Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara berkomunikasi di lingkungan perguruan tinggi. Jika dahulu mahasiswa (UIN Sunan Gunung Djati Bandung) harus bertemu langsung untuk berkonsultasi dengan dosen, kini berbagai keperluan akademik dapat dilakukan melalui pesan singkat, maupun platform pembelajaran daring. Meski komunikasi menjadi lebih praktis dan cepat, nilai-nilai kesopanan dan profesionalisme tetap perlu dijaga.
Komunikasi yang baik antara mahasiswa dan dosen bukan hanya berkaitan dengan penyampaian informasi, tetapi mencerminkan sikap menghargai, kedewasaan, dan etika akademik. Cara mahasiswa menyusun pesan, memilih waktu menghubungi, hingga menunggu tanggapan dari dosen menjadi bagian dari budaya akademik yang perlu dibiasakan sejak dini.
Agar interaksi berjalan dengan baik dan tetap menghormati peran dosen sebagai pendidik, berikut lima etika yang dapat diterapkan mahasiswa ketika menghubungi dosen.
1. Memilih Waktu Komunikasi yang Tepat
Setiap dosen memiliki berbagai tanggung jawab, mulai dari kegiatan perkuliahan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga tugas administrasi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mempertimbangkan waktu sebelum mengirim pesan.
Menghubungi dosen pada jam yang wajar menunjukkan sikap menghargai ruang pribadi dan kesibukan mereka. Sebaiknya pesan dikirim pada waktu kerja atau jam yang lazim digunakan untuk aktivitas akademik. Apabila pesan dikirim di luar waktu tersebut, mahasiswa perlu memahami bahwa respons mungkin tidak diberikan secara langsung.
2. Menyampaikan Identitas Secara Lengkap
Salah satu prinsip penting dalam komunikasi akademik adalah memperkenalkan diri dengan jelas. Dosen berinteraksi dengan banyak mahasiswa dari berbagai program studi dan angkatan sehingga tidak selalu dapat mengenali nomor telepon atau akun yang menghubungi mereka.
Saat mengirim pesan, cantumkan nama lengkap, program studi, semester atau kelas, serta keperluan yang ingin disampaikan. Penyebutan identitas yang lengkap akan membantu dosen memahami konteks komunikasi sejak awal dan mempermudah proses pemberian tanggapan.
3. Menggunakan Bahasa yang Santun dan Mudah Dipahami
Pilihan kata yang digunakan dalam pesan mencerminkan sikap dan karakter seseorang. Dalam konteks akademik, mahasiswa perlu menghindari penggunaan bahasa yang terlalu santai, singkatan yang berlebihan, atau kalimat yang berpotensi menimbulkan salah pengertian.
Pesan yang ditulis dengan bahasa yang sopan, rapi, dan terstruktur akan memberikan kesan profesional. Selain mempermudah komunikasi, hal tersebut menunjukkan penghargaan mahasiswa terhadap dosen sebagai mitra dalam proses pembelajaran.
4. Menjelaskan Keperluan Secara Efektif
Setelah menyampaikan identitas, mahasiswa dapat langsung menjelaskan maksud menghubungi dosen, misalnya terkait bimbingan, konsultasi tugas, izin perkuliahan, atau permohonan informasi tertentu. Penyampaian yang efektif dan baik akan membantu dosen memahami kebutuhan mahasiswa dengan cepat dan memberikan respons yang sesuai. Sebaliknya, pesan yang tidak fokus atau terlalu berbelit dapat menyulitkan proses komunikasi.
5. Menghargai Waktu Respons Dosen
Komunikasi digital sering kali membuat seseorang berharap memperoleh jawaban dalam waktu singkat. Padahal, dosen memiliki berbagai agenda akademik dan profesional yang tidak selalu memungkinkan mereka merespons pesan secara segera. Karena itu, mahasiswa perlu bersikap sabar dan menghindari mengirim pesan berulang kali dalam waktu berdekatan. Setelah memperoleh jawaban atau bantuan, biasakan untuk menyampaikan ucapan terima kasih sebagai bentuk apresiasi atas waktu dan perhatian yang telah diberikan.
Membangun budaya komunikasi yang santun di lingkungan perguruan tinggi merupakan tanggung jawab bersama. Etika dalam menghubungi dosen tidak hanya membantu menciptakan hubungan akademik yang harmonis, tetapi melatih mahasiswa untuk memiliki kemampuan berkomunikasi secara profesional, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab dalam setiap interaksi.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kesopanan dan etika tetap menjadi nilai yang tidak dapat tergantikan. Dengan menerapkan kebiasaan berkomunikasi yang baik, mahasiswa tidak hanya menjadi pembelajar yang cakap secara akademik, tetapi pribadi yang berkarakter dan siap menghadapi dunia profesional di masa depan. (Fitri Awaliyah / Magang)