4 Menata Kesiapan Belajar, Ikhtiar Ilmiah dalam Cahaya Takwa

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,

UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Taqwa bukan sekadar simbol kesalehan, melainkan kesiapan batin untuk terus memperbaiki diri dalam setiap fase kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan dan pembelajaran.

Memasuki tahun pelajaran semester genap 2025/2026, suasana pagi di Tatar Priangan kembali diwarnai langkah-langkah kecil menuju sekolah dan madrasah. Kabut tipis di kaki gunung, gemericik air sawah, serta hawa sejuk desa seolah menjadi saksi dimulainya babak baru perjalanan belajar anak-anak kita.

Di Priangan, pendidikan tidak tumbuh semata dari ruang kelas, tetapi dari harmoni alam, budaya, dan nilai kebersamaan. Karena itu, pendidikan sejatinya bukan hanya soal mengejar target kurikulum, tetapi menyiapkan manusia agar siap tumbuh secara utuh.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di awal semester, perhatian kita sering tersedot pada ketuntasan materi dan administrasi. Padahal, yang lebih mendasar adalah kesiapan belajar. Bukan materi yang utama di hari-hari pertama, melainkan kesiapan jiwa dan mental. Dari sanalah kelas tumbuh menjadi ruang harapan bersama.

Hari-hari awal pembelajaran bukan sekadar pembuka formal, tetapi fondasi psikologis dan spiritual yang menentukan kualitas belajar sepanjang semester. Sekolah seharusnya menyapa, bukan menekan; merangkul, bukan menghakimi. Allah SWT mengingatkan pentingnya kesiapan diri sebelum melangkah ke masa depan, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Makna ayat ini, jamaah sekalian, menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap tergesa-gesa dan serba instan. Setiap fase kehidupan—termasuk awal semester—menuntut muhasabah dan persiapan. Pendidikan yang baik dimulai bukan dari target, tetapi dari kesiapan hati, pikiran, dan niat.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa kualitas amal—termasuk belajar dan mengajar—ditentukan oleh kesiapan batin, sebagaimana sabdanya:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna hadis ini mengajarkan bahwa belajar tanpa niat yang benar hanya akan menjadi rutinitas kosong. Namun belajar yang diawali niat ikhlas karena Allah akan berubah menjadi ibadah, menumbuhkan ketenangan jiwa, dan melahirkan keberkahan ilmu. Bahkan Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pendidik yang menyapa dengan kelembutan, bukan dengan tekanan. Dalam sebuah hadis disebutkan:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan sejati dibangun dengan pendekatan yang memanusiakan. Sekolah dan madrasah seharusnya menjadi ruang aman yang menumbuhkan harapan, bukan tempat yang menekan dan menakutkan. Dari suasana yang ramah inilah kesiapan belajar tumbuh, dan dari kesiapan itulah kualitas pendidikan dibangun.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Pandangan tentang kesiapan belajar ini sejalan dengan khazanah pendidikan Islam. Dalam tradisi Islam, kesiapan belajar tidak semata-mata diukur dari kecerdasan akal, tetapi merupakan kesiapan menyeluruh yang mencakup niat, adab, kesungguhan, dan kesabaran. Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi, melainkan cahaya yang menerangi hati dan membentuk akhlak.

Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta‘lim al-Muta‘allim menegaskan bahwa keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh kesiapan batin sebelum kesiapan intelektual. Beliau menyatakan:

إِنَّمَا يَنَالُ الْعِلْمَ مَنْ جَمَعَ سِتَّةَ أَشْيَاءَ
سَأُنْبِئُكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانٍ
ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاصْطِبَارٌ وَبُلْغَةٌ
وَإِرْشَادُ أُسْتَاذٍ وَطُولُ زَمَانٍ
“Ilmu hanya akan diperoleh oleh orang yang menghimpun enam perkara; akan aku jelaskan secara rinci: kecerdasan, kesungguhan, kesabaran, bekal yang cukup, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.”

Makna dari nasihat ini, jamaah sekalian, menunjukkan bahwa kecerdasan bukanlah faktor tunggal. Tanpa kesungguhan (ḥirṣ) dan kesabaran (iṣṭibār), ilmu tidak akan menetap dalam diri. Tanpa adab kepada guru dan kesiapan menempuh proses panjang, ilmu mudah hilang dan tidak membawa perubahan akhlak.

Az-Zarnuji menekankan pentingnya niat yang benar dalam belajar. Ia mengingatkan bahwa ilmu harus diniatkan untuk mencari ridha Allah, bukan sekadar kedudukan dan pujian manusia:

يَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ قَصْدُهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ رِضَا اللَّهِ تَعَالَى
“Seharusnya tujuan seorang penuntut ilmu dalam mencari ilmu adalah untuk meraih ridha Allah Ta‘ala.”

Dari sini kita memahami bahwa kesiapan belajar dalam Islam dimulai dari hati, kemudian diperkuat oleh adab dan kesungguhan, barulah disempurnakan dengan kemampuan intelektual. Pendidikan yang mengabaikan kesiapan batin hanya akan melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dipahari bahwa Pendidikan yang mengabaikan kesiapan batin hanya akan melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Oleh karena itu, menyongsong awal semester, marilah kita menata kembali niat, memperbaiki adab, dan menumbuhkan kesabaran dalam belajar. Karena ilmu yang dipelajari dengan kesiapan batin akan menjadi cahaya yang membimbing hidup, bukan sekadar pengetahuan yang singgah sementara.

Berikut empat panduan untuk menentukan keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh kesiapan batin sebelum kesiapan intelektual:

Pertama, Kesiapan Niat dan Spiritual. Belajar adalah ibadah. Niat yang lurus karena Allah SWT menjadi fondasi utama. Ilmu tanpa niat yang benar akan kehilangan keberkahannya. Ralullah bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Maknanya: Segala amal termasuk belajar dan mengajar ditentukan oleh niatnya. Jika niat belajar semata-mata untuk Allah, maka ilmu menjadi ibadah dan membawa keberkahan. Namun jika niatnya hanya duniawi, ilmu kehilangan nilai ruhaniahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Fiman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Maknanya: Allah memerintahkan keikhlasan dalam setiap amal. Belajar yang diawali dengan niat ikhlas akan menumbuhkan ketenangan jiwa dan menjadikan ilmu bermanfaat. (QS. Al-Bayyinah: 5)

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kedua, Kesiapan Mental dan Intelektual. Kesiapan mental dan intelektual adalah kondisi siap secara psikis dan kemampuan berpikir untuk menghadapi tantangan, melibatkan aspek emosi (kepercayaan diri, motivasi), kognitif (berpikir kritis, logis, memecahkan masalah), serta perilaku (manajemen waktu, adaptasi) agar mampu belajar, mengambil keputusan, dan mengatasi tekanan secara efektif, bukan hanya soal IQ tinggi, tetapi kemampuan mengelola diri dan pikiran untuk berfungsi optimal dalam situasi baru atau sulit.

Untuk itu, belajar membutuhkan kecerdasan, semangat, dan ketekunan. Tanpa kesungguhan, ilmu berhenti di permukaan dan tidak berbuah dalam amal. Firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Maknanya: Allah menjanjikan petunjuk bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh. Kesungguhan mental dan intelektual adalah kunci terbukanya jalan ilmu dan hikmah. (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Juga Ralullah SAW, bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

Maknanya: Rasulullah ﷺ mengajarkan semangat belajar, fokus pada hal yang bermanfaat, dan tidak mudah menyerah. Inilah fondasi mental pembelajar sejati dalam Islam. (HR. Muslim)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ketiga, Kesiapan Adab dan Etika. Adab dan etika adalah aspek fundamental dalam interaksi sosial dan kehidupan pribadi, yang kesiapannya melibatkan pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip moral serta perilaku yang sopan. Dalam Islam, adab mendahului ilmu. Menghormati guru, rendah hati, mencatat ilmu, dan menjaga akhlak adalah kunci keberhasilan belajar. Firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Maknanya: Allah meninggikan derajat orang berilmu, bukan hanya karena pengetahuannya, tetapi karena iman dan adabnya. Ilmu yang disertai adab melahirkan kemuliaan. (QS. Al-Mujādilah: 11)
Raulullah SAW., bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Maknanya: Menghormati guru dan orang berilmu adalah bagian dari akhlak Islam. Ilmu tanpa adab berpotensi melahirkan kesombongan, bukan kebijaksanaan. (HR. Ahmad)

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Keempat, Kesiapan Lingkungan dan Waktu. Untuk mempersiapkan lingkungan dan waktu yang optimal untuk belajar, pertimbangkan beberapa faktor kunci ini: Penyiapan Lingkungan Belajar. Imam Syafi’i menyebut enam syarat ilmu, di antaranya adalah biaya dan waktu yang panjang. Ilmu tidak lahir dari sikap tergesa-gesa. Firman Allah SWT, dalaml Al-Qur’an:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

Maknanya: Kesabaran adalah kunci keberhasilan. Proses belajar membutuhkan waktu panjang, lingkungan yang mendukung, dan keteguhan menjalani tahapan demi tahapan. (QS. An-Nahl: 127)
Ralullah SAW, bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Maknanya: Menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang dimuliakan Allah. Setiap langkah, waktu, dan pengorbanan dalam belajar bernilai ibadah dan mengantarkan pada kebaikan akhirat. (HR. Muslim)

Allah SWT berfirman dalam wahyu pertama: Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq…
(Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan). Perintah membaca adalah seruan kesiapan manusia untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Jamaah rahimakumullah,

Sebagai penutup dalam rangka menyongsong semester genap 2025/2026, sekolah dan madrasah bukan sekadar tempat mengajar, tetapi ruang pembentukan manusia. Dari Jawa Barat, dari Priangan yang teduh, kita berharap pendidikan dimulai dengan kesiapan, disemai dengan adab, dan diarahkan pada harapan. Ketika kesiapan belajar dirawat sejak awal, kelas tidak hanya melahirkan pengetahuan, tetapi membentuk karakter, akhlak, dan masa depan yang bermakna.

Untuk Menyongsong semester genap ini, mari kita luruskan niat, menata kesiapan, dan menumbuhkan harapan. Karena pendidikan yang dimulai dengan kesiapan akan melahirkan pembelajaran yang bermakna.

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *