Workshop Manajemen Asrama Berbasis Pesantren UIN Sunan Gunung Djati Bandung

UINSGD.AC.ID (Humas) — UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus memperkuat sistem pembinaan mahasiswa melalui pendekatan pesantren. Komitmen itu diwujudkan melalui Workshop Manajemen Asrama Berbasis Pesantren yang menghadirkan para pemilik asrama, pengasuh pondok, dan pimpinan kampus untuk merumuskan tata kelola asrama yang lebih efektif, religius, dan berorientasi pembentukan karakter.

Dalam upaya mewujudkan kampus yang unggul, kompetitif, dan moderat berbasis rahmatan lil ‘alamin, Bagian Kemahasiswaan dan Alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan workshop ini di Shakti Hotel, Selasa (25/11/2025).

Kegiatan diikuti para pemilik asrama dan pengasuh pondok pesantren di lingkungan kampus, menghadirkan tiga narasumber: Prof. Dr. Husnul Qodim, S.Ag., M.A. (Wakil Rektor III) yang membahas Gambaran Umum Program Kegiatan Bidang Kemahasiswaan tentang Asrama Berbasis Pesantren; Prof. Dr. K.H. Dindin Solehudin, M.A. (Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan) dengan materi Optimalisasi Program Harian Asrama untuk Menunjang Disiplin dan Etika Mahasiswa; Dr. H. Tatang Astarudin, S.H., M.H. (Pengasuh Pondok Pesantren Ma’had Universal) yang menyampaikan materi Peran Pembina Asrama dalam Pelaksanaan Program Kepribadian Mahasiswa Berbasis Rahmatan lil ‘Alamin.

Workshop dipandu oleh Undang Syaripudin, M.Kom., Ph.D. (Wakil Dekan III Fakultas Sains dan Teknologi), Drs. Idad Suhada, M.Pd. (Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Keguruan), Dr. H. Moh. Dulkiah, M.Si. (Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag membuka secara resmi workshop dan menyampaikan apresiasi kepada Bagian Kemahasiswaan atas terselenggaranya kegiatan strategis ini. Rektor menegaskan pentingnya sinergi antara kampus, pemilik asrama, dan pondok pesantren untuk menghasilkan mahasiswa yang berakhlak karimah sesuai bidang keahlian masing-masing.

“Kita ingin menghadirkan generasi yang unggul dan berakhlak. Kampus memiliki keterbatasan waktu, sementara pengasuh asrama dan pesantren mendampingi mahasiswa selama 24 jam. Sinergi ini penting agar mahasiswa benar-benar menjadi teladan di masyarakat, bukan menambah masalah,” tegasnya.

Guru Besar Ilmu Tafsir berharap pertemuan ini membuka ruang kolaborasi yang lebih kuat sehingga seluruh pihak dapat berperan aktif mencetak mahasiswa yang manfaatnya dirasakan masyarakat.

Rektor mengajak para pemilik asrama untuk melakukan investasi kebaikan dalam menciptakan generasi muda yang lebih baik di masa depan. Jadikan forum ini sebagai ruang berbagi pengalaman, bertukar gagasan, dan merumuskan langkah konkret guna meningkatkan kualitas pengelolaan asrama di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. “Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan, keberkahan, dan kemanfaatan atas setiap ikhtiar yang kita lakukan. Dengan memohon ridho Allah SWT semoga kegitan pagi ini mendaptakan keberkahan dan kebermanfaatan untuk kita semua dengan sama sama membaca ummil kitab,” ujarnya.

Wakil Rektor III Prof Husnul Qodim, menyampaikan asrama berbasis pesantren merupakan program unggulan bidang kemahasiswaan yang diharapkan menjadi media yang strategis untuk membina kualitas mahasiswa. Dengan bekal keilmuan berbasis akhlak karimah seperti layaknya di pesantren.

“Kegiatan ini bukan hanya relevan, tetapi juga sangat strategis dalam upaya memperkuat peran asrama sebagai ruang pembinaan karakter, pembentukan akhlak, dan pengembangan kecerdasan spiritual, sosial, serta intelektual mahasiswa,” jelasnya.

Sebagaimana kita ketahui, UIN Sunan Gunung Djati Bandung berkomitmen membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga penguatan nilai keislaman dan kebangsaan. Konsep asrama berbasis pesantren merupakan salah satu ikhtiar untuk menghadirkan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya mahasiswa yang unggul, religius, dan berintegritas.

Melalui workshop ini, “Saya berharap lahir pemahaman bersama mengenai tata kelola asrama yang lebih efektif, mulai dari manajemen program pembinaan, penguatan peran musyrif, musyrifah, sistem evaluasi, hingga peningkatan kualitas layanan kepada mahasiswa. Dengan dukungan seluruh pihak, saya yakin model asrama berbasis pesantren akan memberi dampak positif yang besar bagi kehidupan kampus dan pembinaan karakter mahasiswa,” paparnya.

Dalam pemaparannya, Prof Dindin Solahudin menekankan pentingnya penguatan disiplin dan etika mahasiswa melalui optimalisasi program harian yang terstruktur. “Pengelolaan asrama harus berpijak pada nilai pendidikan pesantren, yang menumbuhkan karakter melalui keseimbangan antara ilmu, akhlak, ibadah, dan pengembangan diri,” ungkapnya.

Menurutnya penguatan motivasi belajar, klasifikasi tipe mahasiswa, hingga urgensi moderasi beragama sebagai fondasi perilaku sehari-hari. Berbagai aktivitas seperti balagan, muhadharah, mudzakarah, sorogan, tadarrus, dzikir, serta praktik ibadah berjamaah dipandang efektif membentuk kedisiplinan.

Penataan waktu seperti qailulah, riyadhah, dan manajemen asupan fisik turut mendorong kualitas hidup mahasiswa di asrama. Program-program ini diharapkan mampu mencetak generasi yang beradab, teratur, dan beretika baik, selaras dengan nilai-nilai keilmuan dan tradisi akademik UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dr Tatang Astarudin menegaskan bahwa pembina asrama memiliki peran strategis dalam membentuk profil mahasiswa Rahmatan lil-‘Alamin, mahasiswa yang moderat, berkeadaban, inklusif, dan menjunjung nilai-nilai universal Islam. Profil ini harus tercermin melalui karakter ta’addub, qudwah, muwathonah, tawasuth, tawazun, i’tidal, musawah, dan tasamuh sebagai fondasi perilaku sehari-hari mahasiswa.

Dalam menghadapi berbagai tantangan peradaban modern mulai dari disrupsi teknologi, budaya hedonistik, hingga kecenderungan keberagamaan simbolik. Pembina asrama dituntut menjadi teladan, mentor, fasilitator, sekaligus sahabat bagi mahasiswa. “Asrama dipandang sebagai ekosistem pendidikan yang membentuk karakter melalui penguatan spiritual, intelektual, sosial, dan emosional,” ujarnya.

Strategi integratif ini dilaksanakan melalui pembiasaan ibadah, literasi keagamaan, aktivitas sosial, serta pendidikan karakter yang holistik dan berkelanjutan. “Dengan peran yang komprehensif ini, pembina asrama diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang berintegritas, berwawasan luas, dan mampu mewujudkan kemaslahatan universal,” ucapnya.

Kepala Biro A2KK, Dr. Cecep Khairul Anwar, menambahkan perlunya kolaborasi menyeluruh seluruh unsur kampus untuk memperkuat sistem pembinaan mahasiswa melalui pendekatan pesantren. “Workshop ini menjadi ruang berbagi pengalaman, menyamakan visi, dan merumuskan langkah strategis bagi penguatan tata kelola asrama,” tuturnya.

Dengan terselenggaranya workshop ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap pengelolaan asrama semakin unggul sebagai ruang pembinaan religius, disiplin, berwawasan kebangsaan, dan berkarakter, sehingga mampu mencetak generasi muda yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *