Wisuda ke-104 UIN Bandung: dari Kampus ke Masyarakat Menuju Indonesia Emas 2045

UINSGD.AC.ID (Humas) — Hari ini, 23 Agustus 2025, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Wisuda ke-104 dengan tema “Melangkah Pasti Menuju Indonesia Emas: Cerdas Spiritual, Tangguh Digital”.

 

Tema ini strategis karena berhubungan langsung dengan kesiapan generasi muda menghadapi tantangan abad ke-21. Secara teori, Job Demand–Job Resources menegaskan bahwa keterlibatan kerja (work engagement) tumbuh bila keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan sumber daya individu tercapai.

 

Wenger melalui community of practice menyoroti pentingnya pembelajaran sosial dalam komunitas, sementara Vygotsky menekankan social learning dalam menghubungkan teori dengan praktik.

 

Namun, realitas menunjukkan adanya gap: kualifikasi akademik sering kali berhenti pada tataran kognitif dan angka IPK, tanpa selalu bertransformasi menjadi keahlian yang relevan dengan dunia kerja.

 

Fenomena ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah wisuda hanya seremoni, atau justru momentum strategis?

 

Tulisan ini hadir terkait peluang, langkah strategis, dan nilai edukasi yang bisa ditarik dari wisuda ini dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045. Mari kita Eksplorasi satu-persatu:

Pertama, Peluang Apa yang Bisa Digali dari Tema Wisuda ke-104 UIN Bandung? 

 

Tema “Cerdas Spiritual, Tangguh Digital” menyimpan banyak peluang, diantaranya:

 

1) merefleksikan kebutuhan era Industri 4.0 dan transisi ke Society 5.0, di mana keseimbangan antara etika, moral, dan kecerdasan teknologi menjadi kunci daya saing. Lulusan UIN Bandung berpeluang menjadi talent hybrid: menguasai teknologi sekaligus menjunjung nilai spiritual;

 

2) peluang globalisasi membuka ruang kontribusi lulusan dalam ekonomi kreatif digital. Dengan kecerdasan spiritual, mereka bisa mengisi kekosongan pasar tenaga kerja yang membutuhkan profesional berintegritas.

 

3) tema ini juga membuka jalan bagi entrepreneurship berbasis nilai: bisnis rintisan (startup) yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga kebermanfaatan sosial.

 

Selain itu, momentum wisuda ini juga bisa dilihat sebagai peluang membangun jejaring alumni lintas sektor. Lulusan tidak hanya dituntut mencari kerja, tetapi juga menciptakan lapangan kerja. Jika peluang ini dioptimalkan, maka wisuda bukanlah akhir, melainkan awal kontribusi menuju Indonesia Emas.

Kedua, Langkah Strategis Apa yang Bisa Disiapkan UIN Bandung?

 

Untuk menghadapi Indonesia Emas 2045, UIN Bandung harus mengambil langkah strategis pada tiga dimensi: akademik, inovasi, dan kolaborasi;

 

1) pada dimensi akademik, kurikulum perlu terus menyesuaikan diri dengan future of work. Mata kuliah berbasis interdisciplinary harus diperkuat: misalnya perpaduan teknologi informasi dengan ilmu sosial-keagamaan;

 

2) pada dimensi inovasi, kampus harus mendorong inkubasi bisnis dan penelitian aplikatif yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Riset mahasiswa jangan hanya berhenti di rak perpustakaan, melainkan diarahkan pada solusi nyata seperti teknologi tepat guna, literasi digital, dan model pemberdayaan sosial;

 

3) dimensi kolaborasi. UIN Bandung perlu membangun kemitraan strategis dengan industri, pemerintah, dan komunitas global. Kolaborasi ini akan memperkuat link and match antara kualifikasi akademik dengan kebutuhan kerja. Dengan langkah-langkah ini, UIN Bandung tidak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga tangguh menghadapi guncangan global.

Ketiga, Nilai Edukasi Apa yang Bisa Disampaikan kepada Generasi Muda? 

 

Wisuda ke-104 UIN Bandung memberi pesan edukatif yang kuat bagi generasi muda, diantaranya: 1) pendidikan adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar perolehan gelar. Gelar akademik akan bermakna jika dijalani dengan niat pengabdian dan kemanfaatan;

 

2) nilai integrasi antara kecerdasan spiritual dan kompetensi digital. Generasi muda harus belajar bahwa teknologi tanpa moral bisa berujung disrupsi negatif, sementara moral tanpa teknologi bisa tertinggal;

 

3) nilai kepemimpinan transformatif. Generasi muda didorong tidak hanya menjadi pengikut, tetapi juga agen perubahan. Dengan bekal soft skills seperti komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas, mereka bisa memberi arah baru bagi masyarakat;

 

4) nilai tanggung jawab sosial. Lulusan harus mengingat bahwa keberhasilan individu tidak lepas dari dukungan kolektif. Oleh karena itu, kontribusi kepada masyarakat, bangsa, dan negara menjadi nilai utama dalam menuju Indonesia Emas 2045.

 

Wisuda ke-104 UIN Bandung menjadi cermin reflektif: apakah kualifikasi akademik telah selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat? Dari tema “Cerdas Spiritual, Tangguh Digital”, ada peluang besar membentuk generasi hybrid yang relevan dengan era digital sekaligus berintegritas.

 

Rekomendasi bagi pemangku kepentingan pendidikan adalah memperkuat integrasi kurikulum dengan dunia kerja, membangun jejaring kolaboratif, serta menanamkan nilai-nilai kepemimpinan transformatif.

 

Dengan itu, UIN Bandung bisa menjadi pionir pendidikan yang melahirkan generasi emas 2045. Wisuda bukanlah garis akhir, melainkan garis awal. Dengan spirit cerdas spiritual, tangguh digital, lulusan diharapkan tidak hanya menempati posisi di dunia kerja, tetapi juga menciptakan perubahan dan peluang baru. Inilah makna sejati wisuda sebagai jalan menuju Indonesia Emas 2045. Wallahu A’lam

 

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *