UINSGD.AC.ID (Humas) — Usia 57 tahun, UIN Bandung seharusnya sudah bukan lagi sibuk cari pengakuan dan bukan sekadar “ada”. Sekalipun 57 bukan angka keramat, tapi punya makna. Dalam spiritualitas numerologi, konon angka 5 itu mewakili dunia nyata, sedangkan angka 7 dianggap sebagai angka spiritualitas dan kesempurnaan, karena sering sekali disebut-sebut oleh kitab suci.
Di saat menginjak usia 57, UIN Bandung telah berada di titik keseimbangan antara dunia nyata dan spiritualitas. Kampus dengan usia 57 tahun bukan lagi cuma tempat “ngumpulin” gelar dan publikasi, tapi tempat menyatukan ilmu dan dampak nyata.
Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Kita hidup di tengah krisis iklim, ribut-ribut tarif oleh Donald Trump, konflik, polarisasi politik, “banjir informasi”, teknologi lari kencang, sementara kita selalu kehilangan dampak nyata. Oleh sebab itu, di usia 57 UIN Bandung harusnya bukan lagi sekadar tempat kuliah, tetapi tempat memberi dampak bagi masyarakat (rahmatan lil’alamin).
UIN Bandung (maksudnya, saya dan Anda) bukan lagi hanya “ngajarkan” cara berpikir, tapi cara berkiprah. Bukan cuma membangun skill teknis, tapi juga membentuk “kebisa” untuk memberikan solusi pada isu-isu besar kemasyarakatan.
Sudah saatnya kita berani mengubah model kampus yang hanya fokus pada input-output administratif. Di samping mah kita kurang ulet juga memenuhi tuntutan administratif, ditambah kiprah kita kehilangan dampak nyata di masyarakat.
Di usia 57, UIN Bandung harus menghasilkan solusi untuk moralitas, ekonomi, dan kehidupan masyarakat lainnya. Untuk menjadi rahmat bagi semesta, UIN Bandung “nggak boleh” cuma jadi besar di kandang, tapi juga “bisa kasih” pengaruh bagi masyarakat. Ikut dalam percakapan isu nasional dan internasional.
Dari impact factor ke real impact
Selama ini kita sibuk “ngejar” impact factor—jumlah sitasi, H-index, dan segala bentuk tepuk tangan sesama akademisi. Iya betul itu butuh juga. Tapi masyarakat luar banyak yang “nggak tahu” manfaatnya apa.
Saya nulis 10 artikel di jurnal internasional, tapi nggak ada satu pun tukang bakwan yang tahu atau “make” hasil riset saya. Kita “bikin” seminar internasional tapi masyarakat di sekitar tetap “nggak” tahu itu kita kerjaannya “ngapain”.
Sudah saat kita berpikir pindah panggung, dari kebun Google Scholar ke kebun warga, ke pasar tradisional, ke kebijakan publik, dan ke masa depan masyarakat. Impact factor itu “kayak” selfie. Kelihatannya oke, tapi belum tentu berguna buat orang lain.
Sedangkan, real impact itu bantu UMKM naik kelas, bangun kurikulum buat guru madrasah di kampung, buat modul ngaji Quran, atau mengatasi sampah di Pasar Gede Bage.
Jadi, kalau kemarin-kemarin kita sibuk hitung berapa orang mengutip artikel kita, di usia 57 saatnya mulai berpikir, sudah berapa kehidupan yang berubah oleh kita. Usia 57 itu ibarat mobil sport yang mesinnya udah panas. Jangan malah “nge-drift” di gang komplek, tapi waktunya untuk ngebut ke medan jalan berlubang, yaitu masyarakat di luar.
Di usia 57, kita “nggak” bisa lagi nyaman dengan capaian simbol-simbol akademik. Kita harus berubah jadi perekayasa masa depan. Bukan lagi soal seberapa banyak artikel jurnal yang ditulis, tapi seberapa banyak “luka masyarakat” yang bisa disembuhkan. Dirgahayu UIN Bandung ke 57!
Prof Ija Suntana, Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara; Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.