“Unggul”, Menakar Makna di Balik Angka

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, kata “unggul” kerap menjadi alasan mutlak untuk diwujudkan. Visi, misi, hingga tujuan harus terlihat dalam performa sempurna. Data, dokumen hingga luaran harus harus berkelindan utuh menjadi indikator keberhasilan dengan sembilan standar sebagai ukuran. Namun dalam tulisan reflektif ini, pertanyaan penting patut diajukan, apa makna unggul yang sejati dalam konteks akreditasi sebuah jurusan atau program studi?

Apakah ia semata angka, nilai A atau Unggul yang tertulis dalam sertifikat? Apakah sebatas pengakuan administratif dari Badan atau Lembaga Akreditasi? Atau barangkali, unggul adalah sesuatu yang lebih hakiki. Ia hidup dalam denyut nadi institusi, dalam spirit dosen yang mengajar dengan hati, dan pada sosok mahasiswa yang dibentuk bukan hanya untuk pintar, tetapi juga untuk bijak, santun dan beradab?

Yes! Akreditasi memang penting. Seumpama cermin, ia dapat memantulkan kualitas. Namun kita tahu, cermin tidak selalu mampu menampilkan seluruh isi bahkan kedalaman realitas secara utuh. Sebab yang benar-benar unggul, bukanlah yang hanya tampak baik di atas kertas, melainkan yang mengakar dalam integritas, tumbuh dalam semangat pembelajaran yang tulus, dan mekar dalam kontribusi dan sumbangsih nyata bagi masyarakat.

Dalam keyakinan saya, unggul bukan tujuan akhir; ia adalah proses yang tak pernah selesai, selalu dalam keadaan “menjadi” (becoming). Ia tumbuh dalam ruang-ruang kuliah yang terbuka dan hangat untuk hadirnya pertukaran pikiran. Dalam diskusi dan dialog yang memanusiakan. Dalam riset yang bukan hanya mengejar publikasi ataupun jumlah sitasi, tetapi menyentuh problem riil di tengah masyarakat. Ia lahir dari keberanian untuk mengakui keterbatasan, dari kerendahan hati untuk terus belajar.

Dalam konteks ini, unggul yang paling otentik adalah kesanggupan sebuah jurusan atau prodi untuk membentuk manusia utuh, atau “Insan Kamil” dalam bahasa Muhammad Iqbal, yang tak hanya cakap secara intelektual, tapi juga tangguh secara moral spiritual dan emosional. Yang mampu berpikir kritis namun tetap berakar pada nilai. Yang bisa bersaing di pasar global, tapi tidak kehilangan pijakan lokal.

“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya,” begitu kata Ki Hajar Dewantara. Bukankah ini unggul yang sebenar-benarnya?

Akreditasi, dengan segala instrumen dan parameternya, bersama segala kesibukan jurusan atau prodi dalam menjamu dan “memuliakan” assesor, seharusnya menjadi alat bantu refleksi, bukan sekadar ajang mengejar eksistensi dan pengakuan. Sebab ketika unggul hanya dikejar demi reputasi, kita berisiko kehilangan esensi, menjadikan pendidikan tinggi sebagai medan pembentukan manusia, bukan sekadar produksi lulusan.

Barangkali, unggul yang sejati adalah ketika sebuah jurusan atau program studi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting ini: Selama proses belajar, apakah mahasiswa dapat merasakan bahwa pikiran dan jiwanya tumbuh? Apakah ilmu dan pengetahuan yang diajarkan memberi dampak nyata di luar tembok kampus? Apakah dosen atau pengajar masih percaya bahwa mendidik adalah panggilan, bukan sekadar profesi?

Dan jika kita jujur, barangkali kita akan menemukan bahwa unggul bukanlah capaian yang diklaim dengan membusungkan dada, melainkan sesuatu yang dirasakan, oleh mahasiswa, oleh masyarakat, oleh para pengguna, dan oleh hati nurani kita sendiri.

Akhirnya, benih yang unggul bukan hanya ditanam dalam tanah, disirami, lalu tumbuh dengan cepat, tapi karena akarnya mencengkram jauh ke dalam tanah dan bertahan lama, demikian pula akreditasi, ia seharusnya menjadi penanda tentang kedewasaan, bukan sekadar pencapaian yang membanggakan, tetapi komitmen yang membumi dan terus menyala. Allahu a’lam.

Tabik.[]

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *