UINSGD.AC.ID (Humas) — Dikisahkan dalam kitab At-Tanwir karya Ibnu Attha’illah As-Syakandari bahwa salah seorang ahli makrifat bercerita:, “Aku memasuki rumah seorang syekh di salah satu daerah Maroko. Ketika aku hendak mengambil air untuk wudhu, ia bergegas mengisi air untukku. Aku pun menolaknya, tapi ia juga bersikeras mengisinya sampai penuh dan memegang ujung tali (timba) dengan tangannya. Disamping sumur terdapat pohon zaitun yang menaungi rumahnya.
Lalu aku bertanya, ‘Wahai tuan, mengapa tidak kau ikatkan tali itu pada pohon ini?’ Ia menjawab dengan heran, ‘Apakah disini ada pohon? Aku sudah menghuni rumah ini selama enam puluh tahun, tapi aku tidak tahu kalau rumah ini ada pohon. ‘”
Kisah ini dirasa janggal oleh masyarakat umum, namun akan lumrah saja bagi para penghamba Allah yang hidupnya senantiasa larut dalam cinta dan kasih sayang (mahabbah) kepada Allah SWT. Pada level tertentu para pecinta akan mabuk dengan rasa cinta yang bergelora hanya kepada Allah SWT hingga lupa dunia dan segalanya. Namun hal ini hanya dapat dirasakan oleh orang-orang terpilih yang mampu menyeimbangkan kepentingan dunia dan akhirat.
Sementara bagi para pembelajar hendaknya mempunyai pembimbing dalam menumbuhkan dan merawat mahabbah kepada Allah SWT.
Salah satu cara merawat cinta yang dapat dipilih oleh umat Islam yaitu dengan cara melaksanakan berbagai ibadah ritual dan sosial sesuai syariat. Pada setiap awal tahun, umat Islam terpilih berangkat melaksanakan umrah hingga situasi masjidil haram cukup padat dengan lonjakan jumlah jamaah umrah.
Kabar saudia.com mencatat sampai tanggal 26 Januari 2026 sebanyak 14,8 juta jamaah, sebuah angka terbanyak yang cukup fantastik dan fenomenal.
Fenomena ini merupakan salah satu indikator besarnya jumlah para pecinta Allah, tentu dengan level yang beragam. Namun tampak bahwa ada rindu yang menggebu dan ada cinta yang membara diantara lautan manusia dengan melaksanakan ibadah umrah. Lelah, lapar, dan dahaga tidak jadi kendala bagi seorang pecinta karena besarnya energi motivasi dari ibadah umrah.
Dr. Brad Branner, ahli psikologi konseling dari Maryland University menyebut bahwa motivasi merupakan proses psikologis yang memberikan tujuan dan arah pada perilaku. Sementara motivasi jemaah umrah beragam, namun mudah dikategorikan, ada yang intrinsik karena dorongan dari dalam diri sendiri.
Motivasi lain dikategorikan ekstrinsik yaitu karena dipengaruhi oleh faktor luar seperti diajak teman, dapat hadiah dari seseorang atau perusahaan, atau mungkin karena trend liburan, daripada ke destinasi wisata lain lebih baik umrah.
Namun senyatanya jumlah besar jemaah umrah menandakan banyaknya jumlah orang-orang yang berusaha berserah diri kepada Allah dengan cara memakmurkan masjidil haram dengan ibadah umrah. Tujuan yang hendak dicapai ingin mendapat kasih sayang agar selamat dunia dan akhirat.
Terlebih mengahadapi bulan Ramadhan, motivasi untuk melaksanakan umrah ditambah lagi dengan sunnah.
Rasulullah Saw bersabda: “Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).
Kegersangan ruhani yang disebabkan sibuk dengan urusan dunia seakan tak berkesudahan, pekerjaan dan target-target capaian yang membuat lelah tak berakhir, pada gilirannya akan masuk masa pencarian yaitu menemukan cinta Allah SWT. Wallahu a’lam
Rohmanur Aziz, Pembimbing Tahliyah Tours & Travel, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.