Umrah dan Kesunyian Hati

Dalam telisik kearifan sufistik, tumpulnya otak dan lemahnya etik, seringkali disebabkan surplusnya kegaduhan dan minusnya kesunyian. Demokrasi yang dirayakan dengan pesta pora, budaya yang diperagakan dengan hura-hura, ekonomi yang didiskusikan dengan bising, dan emosi keberagamaan yang kerapkali membuncah menjadi amarah jalanan, adalah kenyataan tak terelakan yang seringkali mengakibatkan hilangnya kesunyian hati.

Padahal kesunyian hati, kerapkali menjadi pemantik lahirnya kesucian mata batin, ketajaman instuisi, dan kedekatan diri dengan Yang Ilahi, sebagaimana Ali Bin Abi Thalib berkata, “sepatutnya seorang hamba merasakan kehadiran Tuhan pada waktu sendirian di kesunyian.”

Momentum kesunyian hati sejatinya dihadirkan oleh setiap peziarah yang melangkahkan kaki ke tanah suci. Ibadah umrah bukanlah rihlah gerombolan peziarah semata. Ia adalah perjalanan ritus reflektif untuk mengenang manusia pilihan Allah yang berani keluar dari jalan bising menuju jalan hening. Sedari awal memasuki Mekah dan Madinah, setiap mata disuguhi pemandangan tentang telanjangnya padang pasir dan teriknya iklim yang mengintari. Kenyataan geografik ini, sejatinya menghapus berbagai fantasi yang bisa menghadirkan gejolak hingar bingar. Muhammad Asad dalam The Road To Mecca, menegaskan bahwa dalam panorama alam itu, Allah tengah mengajari para peziarah tentang arti kesunyian.

Kesunyian hati, telah memberi energi luar biasa bagi seorang perempuan agung bernama Siti Hajar bersama buah hatinya Ismail ketika harus terlempar dari hingar bingarnya Palestina menuju kesunyian padang pasir di lembah Bakkah. Dalam kesunyian, karena harus ditinggal pergi belahan jiwanya Ibrahim As atas titah Allah, keduanya terhantar pada totalitas kepasrah tanpa syarat atas irama kehendak Allah.

Dalam pusaran kepasrahan, lahir sikap mulia nan agung dari seorang Hajar. Ia tampil menjadi sosok isteri yang taat pada suaminya, pigur ibu yang maksimal ikhtiar menjaga kelangsungan hidup buah hatinya, dan menjadi manusia adiluhung yang tanguh dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan. Karena itu, air mata Hajar dan Ismail yang tertumpah karena hajat hidupnya telah berbuah menjadi mata air kehidupan. Mata air Zam-zam dengan segala keajaibannya merupakan buah dari ketaatan, ikhtiar maksimal dan totalitas kesabaran yang diperoleh dan dipraktikan Hajar dan Ismail di ruang kesunyian.

Dalam catatan pinggir para pejalan kaki di dunia tasawuf, kesunyian hati, telah memantik manusia-manusia agung seperti Ibrahim, Hajar dan Ismail untuk melakukan apa yang disebut insan sineas sebagai epik duologi, yakni memainkan harmonisasi gerak kehidupan yang simultan antara berjalan memadat menuju Allah dan berjalan memadat menuju kehidupan nyata.
Sekali lagi, hanya dengan kesunyian hati, epik duologi ini akan ditemukan oleh setiap peziarah umrah. Ibadah umrah pada esensinya merupakan refleksi kerinduan seorang hamba untuk bertamu dan bertemu dengan Allah. Karena itu dengan senang hati mereka rela meninggalkan kampung halaman dan keluarga dengan menanggalkan segala identitas duniawinya menuju “rumah Allah”. Melalui prosesi ihram yang menghajatkan setiap jemaah melucuti identitas ke-akuannya, thawaf yang menghajatkan setiap jemaah larut menghilangkan ke-akuan menjadi ke-kitaan, sa’i yang menghajatkan spirit patriotisme, adalah sebuah ritual yang tidak hanya mengajak para peziarah berjalan menuju Allah tetapi juga berjalan menuju kehidupan nyata.

Dalam epik dualogi ini, kenikmatan bertamu dengan Allah bukanlah sesuatu yang akan dinikmati sendirian, melainkan akan dirasakan bersama. Setiap peziarah tidak berhenti dalam kegiatan menikmati jamuan ukhrawi tetapi terus bergerak untuk menata kehidupan duniawi, karena sejatinya visi dan orientasi ibadah umrah adalah hasanah duniawi dan hasanah ukhrawi.

Kembali ke awal, ibadah umrah bukan sekedar ibadah kolosal yang menghadirkan gerombolan peziarah. Melainkan sebuah ritual tentang refleksi keberanian manusia-manusia bening yang keluar dari rung bising menuju ruang hening. Sebab dalam kesunyian dan keheningan ada perjumpaan dengan Allah dan perjumpaaan dengan sejumlah energi yang akan memberi kekuatan untuk berkorban demi menata kehidupan yang hasanah dalam spirit kekitaan. Semoga**

Aang Ridwan, Pembimbing Haji Plus dan Umroh Khalifah Tour dan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung

Sumber, Pikiran Rakyat 10 September 2019

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *