UINSGD.AC.ID (Humas) — Pada kesempatan baik dan hari yang baik, serta dalam keadaan baik. Di manapun kita berada dan dalam keadaan apapun saja, marilah kita bersama-sama meningkatkan takwa kita kepada Allah swt, dengan melaksanakan semua perintah-perintahnya dan menjauhi segala larangan-larangannya, karena dengan takwalah seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana janjinya Allah swt dalam surat Yunus ayat 63-64:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt.
Hidup ini tidak lepas dari ujian dan cobaan, bahkan ujian dan cobaan merupakan sunnatullah yakni suatu keharusan dalam kehidupan, siapa pun tidak bisa terlepas darinya. Bahkan, itulah warna-warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan merupakan tanda berimannya seseorang kepada Allah swt. Begitu pula dalam kehidupan dunia Kampus, akademik ada ujian masuk-ujian Tengan Semerter; Ujian Akhir semester; Ujian Praktek; Ujian munaqasyah dan sejenisnya.
Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia merupakan suatu ketentuan yang telah ditetapkan berdasarkan rahmat dan sifat adilnya Allah swt. Tidak satu pun di antara kita yang mampu menghindar dari ketentuan-Nya.
Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah sangat kita butuhkan dalam menghadapi badai cobaan yang menerpa. Oleh karena itu, dalam keadaan apapun, kita sebagai hamba yang beriman kepada Allah swt harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai ujian atas keimanan yang kita miliki. Sebagaimana apa yang tertulis dalam firman-Nya:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ
Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian” (QS. Al Baqarah [2]: 214).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Cobaan dan ujian merupakan sunnatullah yang Allah berlakukan terhadap setiap hamba-hamba-Nya. Ada beberapa gambaran mengenai hal ini dari Al-Qur’an dan hadits:
Pertama, Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk cinta Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Sebagaimana hadits Nabi:
إنّ عِظَمَ الْجَزاءِ مَعَ الْبَلاءِ وإنّ اللهَ تعالى إذا أحَبّ قَوْماً إبْتَلاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فلَهُ الرِّضَا ومَنْ سَخِطَ فلَهُ السُّخْطُ
Artinya: “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah, dan barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi).
Hikmah dari hadis ini mengajarkan bahwa cobaan bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan bukti cinta-Nya kepada hamba yang dikehendaki-Nya untuk naik derajat. Ujian berfungsi sebagai proses pemurnian iman, penguatan karakter, dan pengasahan kedewasaan spiritual.
Melalui cobaan, manusia dilatih untuk bersikap ridha, bersabar, dan bertawakkal secara nyata, bukan sekadar dalam ucapan. Sikap ridha menjadikan hati lapang dan jiwa tenang, sementara keluh kesah berlebihan justru memperberat beban batin. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya memandang setiap ujian sebagai peluang untuk mendekat kepada Allah dan meraih pahala yang lebih besar.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Kedua, Dunia Bersifat Fana. Dengan menyadari sepenuhnya bahwa dunia ini bersifat fana. Apa saja yang ada di dunia ini bakal sirna dan musnah, tidak ada sesuatu yang langgeng dan abadi. Apapun yang terjadi di dunia ini bersifat sementara dan terbatas, ada saat-saat di mana manusia menikmati kesenangan pada saat yang lain terjadi sebaliknya. Bagaikan roda yang selalu berputar, terkadang ada yang di atas dan ada pula yang di bawah, dan tidak selamanya seseorang berada di atas dan tidak pula selamanya seseorang berada di bawah begitu juga sebaliknya. Sebagaimana firman Allah swt.:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan yang tetap kekal hanyalah Wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman [55]: 26–27).
Pembelajaran dari ayat ini menegaskan bahwa dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana. Kenikmatan, jabatan, keberhasilan, bahkan penderitaan hanyalah fase sementara. Kesadaran akan kefanaan dunia membuat manusia lebih bijak dalam menyikapi ujian: tidak terlalu larut dalam kesedihan saat gagal dan tidak sombong ketika berhasil. Dengan perspektif ini, setiap kondisi hidup dipahami sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Ketiga, Setiap ujian dan cobaan sebagai sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada Allah swt. Memandang setiap ujian dan cobaan sebagai sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada Allah swt untuk mencapai peningkatan kualitas pribadi yang baik dalam konteksnya sebagai manusia kamil yakni manusia yang sempurna.
Dengan gambaran bahwasanya menganggap adanya ujian dan tantangan dalam hidupnya merupakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas pribadinya. Sebagaimana hadits Nabi yang diriwayatkan Sa’d bin Abi Waqash: suatu ketika dia bertanya kepada Rasulullah saw; Hadis tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dengan matan lengkap sebagai berikut:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ…
Artinya (pengantar): “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Beliau menjawab, ‘Para nabi, kemudian orang-orang yang semisal dengan mereka, kemudian yang semisal dengan mereka…’” “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Nabi menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Ketahuilah bahwa Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya.
Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan kadar keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka bumi seperti ia tidak memiliki satu dosa pun.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Keempat, Zona nyaman dan tidak nyaman sebagai Ujian. Cobaan dan ujian merupakan hakikat dari kehidupan manusia di dunia. Sebagaimana yang sudah di jelaskan dalam surat Al-mulk ayat 1-2:
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا
Dari ayat di atas memberikan penjelasan kepada kita bahwa; “apa saja yang kita alami dalam hidup ini sesungguhnya merupakan ujian dari Allah swt “jika kita sedang dalam kondisi hidup enak, serba kecukupan itu pada hakikatnya adalah sebagai ujian dari Allah.” Dengan artian dapatkah kita mensyukuri nikmat-Nya dan memanfaatkan sesuai dengan kehendak-Nya dalam mencapai keridhaan-Nya, sebaliknya jika kita sedang mengalami masa-masa sulit, serba kekurangan itupun juga merupakan ujian, sampai dimanakah ketahanan dan kesabaran kita serta bagaimanakah usaha kita untuk mencapai tatanan hidup yang lebih baik yang di ridlha-Nya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Kelima, Setiap ujian yang di berikan Allah kepada hambanya selalu mengandung hikmah yang positif bagi dirinya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:
إنّ لِلهِ تعالى فِى أثْناءِ كُلِّ مِحْنَةٍ مِنْحَةً
“Sesungguhnya bagi Allah pada setiap ujian yang di turunkan-Nya terdapat karunia Allah di dalamnya.”
Dengan demikian, manusia menjadi sadar bahwa ujian yang di hadapinya itu tidak lepas dari hikmah yang justru demi kebaikan hamba itu sendiri, sudah barang tentu ia di tuntut mampu mengambil dan memetik hikmah yang tersembunyi di dalamnya.
Dalam konteks akademik, ujian semester bukanlah instrumen untuk menghukum mahasiswa, melainkan mekanisme pendidikan untuk mengukur proses pertumbuhan intelektual dan kedewasaan belajar. Jika dahulu dikenal sebagai ujian kenaikan tingkat, hari ini ujian hadir lebih halus, lebih sistematis, dan lebih manusiawi, namun tetap sarat makna. Ia mengajarkan tanggung jawab, kejujuran, ketekunan, serta kesiapan menghadapi tantangan nyata kehidupan. Maka, Ujian Akhir Semester sejatinya adalah latihan kehidupan tempat mahasiswa belajar berdamai dengan tekanan, mengelola kecemasan, dan menumbuhkan integritas. Di sanalah hikmah ujian bersemayam: bukan semata pada nilai, tetapi pada proses menjadi pribadi yang lebih matang dan berdaya.
Oleh karena itu dalam keadaan apapun suka maupun duka, bukan tidak mungkin dengan adanya ujian dan cobaan kita dapat mengambil ibrah atau pelajaran dan hikmah dari setiap peristiwa, tentunya menjadi bekal dalam mendekatkan diri kita pada Allah dengan berusaha memperbanyak amal ibadah pada Allah, sabar menerima atas segala ketentuannya serta berserah diri pada-Nya atas segala urusan dunia maupun di akhirat.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Semoga kita senantiasa mendapatkan Rahmat dan pertolongan dari Allah swt agar bisa menjadi hamba yang selalu bersabar dalam menghadapi segala ujian dan cobaan, dan semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang selalu berbaik sangka atas segala kehendaknya.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.