UIN Bandung Gelar Apel Pagi 17-an: Pentingnya Muhasabah, Etos Kerja, dan Penguatan Diri

UINSGD.AC.ID (Humas) — UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Apel Pagi 17-an di halaman Gedung Al-Jamiah, Senin (17/11/2025). Kegiatan ini menjadi upaya untuk menumbuhkan semangat kebangsaan, memupuk nasionalisme, memperkuat kedisiplinan, serta mengingatkan kembali pentingnya nilai-nilai perjuangan bangsa.

Apel pagi dihadiri oleh Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Prof. Dr. H. Ija Suntana, M.Ag., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarkat (LP2M) Dr. H. Setia Gumilar, M.Hum., dan Kepala Satuan Pengawas Internal (SPI) Dr. Setia Mulyawan, SE., MM. Seluruh pegawai, baik ASN maupun non-ASN di lingkungan Rektorat, turut mengikuti kegiatan ini.

Dalam amanatnya, Prof. Ija menekankan pentingnya muhasabah (evaluasi diri) sebagai fondasi dalam membangun etos kerja yang lebih baik. Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum mengajak seluruh pegawai untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah SWT, bersabar dalam menghadapi tantangan, dan bergantung kepada Allah SWT dalam setiap aktivitas kehidupan.

Dengan merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 195, “Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri”, Prof. Ija menegaskan bahwa ayat ini melarang tindakan yang merugikan diri, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Dalam konteks kehidupan kampus, Ketua LPM mengajak seluruh pegawai untuk memperkuat perbaikan diri. “Mari kita membina diri sendiri. Yang terbaik datang dari diri, yang membinasakan juga berasal dari diri. Jangan menyalahkan orang lain karena semua bersumber dari diri,” tegasnya.

Selaras dengan itu, Prof. Ija membeberkan teori internal locus of control dari psikolog Julian Rotter, yang menekankan bahwa individu yang percaya bahwa kendali hidupnya berada pada dirinya sendiri cenderung lebih bertanggung jawab, lebih disiplin, dan lebih mampu mengembangkan potensinya. “Pembinaan terbaik adalah pembinaan oleh diri sendiri, bukan oleh orang lain. Sebagaimana halnya pembinasaan diri tercepat adalah membinasakan diri sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, seseorang yang ingin kuat, bertahan, dan sukses harus memulai dari penguatan diri. Untuk itu, Prof Ija mengingatkan agar tidak mudah menyalahkan atasan, bawahan, atau keadaan, tetapi fokus membangun kapasitas diri agar terhindar dari sikap yang merugikan diri sendiri.

“Hidup yang berarti adalah hidup yang memberi manfaat. Kita sendiri yang paling tahu kelebihan dan kekurangan diri. Mari membina diri masing-masing, menaati aturan, dan menjalankan regulasi dengan baik,” pungkasnya.

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *