UIN Bandung dalam Mode Darurat 58

UINSGD.AC.ID (Humas) — Saya membaca Dies Natalis ke-58 kali ini dalam satu bingkai alarm mode darurat 58. Maknanya, bukan darurat dalam arti panik, melainkan darurat sebagai kesadaran tertinggi bahwa tantangan UIN ke depan tidak lagi sederhana.

Mode darurat 58 adalah perubahan cara berpikir. Jika sebelumnya kita bekerja dalam ritme normal dan cenderung nyaman, maka kini ritme itu harus ditingkatkan menjadi ritme percepatan. Dalam mode darurat 58 ini, setiap program harus berdampak dan setiap keputusan harus berorientasi pada solusi. Tidak ada lagi ruang bagi kerja yang sekadar memenuhi kewajiban administratif.

Angka 58 merupakan simbol energi ganda. 

Angka 5 sebagai dorongan perubahan cepat, dan angka 8 sebagai kekuatan dan kesinambungan. Mode darurat 58 berarti menggabungkan keduanya dalam gerak cepat tetapi tidak ceroboh, kuat tetapi tidak kaku. Ini adalah fase di mana institusi harus berani memangkas hal-hal yang tidak produktif dan menggantinya dengan inovasi yang relevan.

Mode darurat 58 juga berarti jujur melihat diri sendiri. Tidak semua yang selama ini dijalankan efektif. Tidak semua program membawa manfaat. Tidak semua capaian memiliki dampak.

Mode darurat 58 mengharuskan adanya “audit moral dan intelektual”. Apa yang benar-benar penting untuk dilanjutkan, dan apa yang harus dihentikan. Keberanian ini untuk menuju kampus rahmatan lil’alamin.

Saya pikir mode darurat 58 ini sangat relevan. Dunia berubah lebih cepat daripada kurikulum. Teknologi berkembang lebih cepat daripada metode pengajaran. Kebutuhan masyarakat bergerak lebih cepat daripada respons institusi.

Jika tidak ada percepatan gerak, maka kesenjangan akan semakin lebar. Oleh karena itu, mode darurat 58 harus diwujudkan dalam transformasi konkret, di antaranya pembelajaran yang adaptif, riset yang solutif, dan pengabdian yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Mode darurat 58 juga berarti membangun budaya kerja baru. Tidak ada lagi ruang bagi mentalitas “yang penting hadir” tanpa kontribusi nyata. Tidak cukup menjadi bagian dari sistem, tetapi harus menjadi penggerak sistem.

Setiap individu dituntut untuk melampaui batas minimal—berpikir lebih jauh, bekerja lebih serius, dan memberi lebih banyak. Dalam mode darurat 58 ini, kualitas tidak bisa ditawar, dan integritas menjadi fondasi utama.

Namun, sudang barang tentu mode darurat tidak identik dengan ketergesaan tanpa arah. Justru dalam kondisi darurat, arah harus semakin jelas. Visi harus dipertegas, prioritas harus dipilih dengan tegas, dan sumber daya harus difokuskan pada hal-hal yang benar-benar strategis. Mode darurat 58 adalah tentang fokus melakukan sedikit hal, tetapi dengan dampak yang besar. Itulah rahmatan lil ‘alamin.

Mode darurat 58 juga mengandung semangat kolektif. Semua harus bergerak bersama, dalam satu irama, dengan satu tujuan. Kolaborasi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Sinergi menjadi kunci untuk mempercepat pencapaian dan memperluas dampak.

Mode darurat 58 adalah sirene panggilan untuk bangkit dengan kesadaran baru. Bahwa usia 58 bukan alasan untuk berpuas diri, tetapi justru alasan untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas. Kebermanfaatan (rahmat) bukan sekadar slogan, tetapi ukuran utama dari setiap langkah yang diambil.

Mode darurat 58 mengingatkan bahwa Dies Natalis kali ini bukan hanya perayaan usia, tetapi deklarasi bahwa UIN Bandung memilih untuk tidak berjalan biasa-biasa saja. Ia memilih untuk bergerak dalam mode darurat—mode percepatan, mode ketajaman, dan mode keberanian. Usia 58 tahun akan benar-benar bermakna, bukan sekadar lama berdiri, tetapi kuat memberi arti.

 

Ija Suntana, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Bandung

 

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *