Tradisi Pesantren

UINSGD.AC.ID (Humas) — Penayangan tentang “cuplikan” salah satu pesantren yang ditayangkan oleh Trans7 cukup “menghentakkan” sanubari, terlebih yang dijadikan “objek visual dan kritik” adalah sebuah pesantren besar di Lirboyo.

Mungkin, tayangan tersebut dimaksudkan sebagai satire atau kritik terhadap tradisi pesantren, namun ketikan narasinya tidak berdasar dan terkonfirmasi maka ia menjadi “informasi sampahan” yang membentuk stigma negatif tentang kyai, santri, dan pesantren.

Tayangan ingin seakan ingin menguatkan sisi “pejoratif” dari pesantren pasca runtuhnya Pesantren al-Khoziny (Sidoarjo). Penayangan ini sulit disebutkan sebagai kelalaian dan atau tidak disengaja, karena sebagaimana disebutkan oleh tim kreatif Trans7 bahwa setiap tayangan di TV swasta ini telah melalui tahapan diskusi dan seleksi yang ketat.

Oleh karena itu, wajar apabila sebagian kalangan menilai bahwa terhadap tayangan tersebut pihak Trans7 tidak cukup hanya meminta maaf, tapi siap mempertanggungjawabkannya secara hukum dan sosial.

Karenanya bagi pengelola TV ini ke depannya perlu kinerja lebih profesional dan bijaksana ketika membuat pemberitaan, sekalipun itu terkait entertainment, bukan hanya mengejar rating, jam tayang, dan kapital.

(Gerakan boikot ini muncul setelah setelah Trans7 menayangkan salah satu episode program XPOSE dengan judul yang dianggap provokatif yakni “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”  Foto: MUI Digital)

Seruan boikot terhadap Trans7 muncul sebagai “reaksi”, sekaligus upaya memberikan sanksi moral dan sosial dari masyarakat, khususnya kalangan pesantren dan santri. Ini juga merupakan bentuk kontrol sosial masyarakat terhadap “hasil produksi” kebebasan pers yang “tidak profesional dan tidak bermartabat”.

Pada sisi lain, peristiwa ini juga menjadi pembelajaran bagi kalangan pesantren dan santri agar mampu menjelaskan fenomena tradisi baik dari pesantren kepada khalayak umum. Hal ini agar apa yang dilakukan dan nilai-nilai sosio-religius yang dilembagakan pesantren. Menjalankan tradisi pesantren tidaklah mudah, terutama di tengah-tengah arus modernisme yang bertumpu pada materialisme dan demokratisme.

Namun, upaya menguatkan tradisi di kalangan internal dan mendialogkannya dengan kalangan eksternal harus terus diupayakan. Sekalipun pesantren telah lama memberikan sumbangan signifikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, namun masyarakat di luar pesantren terus berubah dan berdinamika.

Selebihnya, berpijak pada berbagai saran yanh ada, jika diperlukan, maka perlu adanya kemampuan kelembagaan pesantren untuk bertransformasi (perubahan) sesuai dengan tuntutan zamannya. Hal ini sebagaimana salah satu kaidah yang senantiasa dipegang kalangan pesantren adalah “al-muhâfadzah ‘alâ al-qadîmi al-shâlih, wa alkhdu ‘alâ al-jadîd al-ashlah” (Memelihara yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik).

 

Prof. Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *