Tokoh Agama, Pilar Kuat Perdamaian Global Melebihi Diplomasi Formal

UINSGD.AC.ID (Humas) –Tokoh agama dinilai memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian global, bahkan kerap melampaui efektivitas diplomasi formal antarnegara. Hal itu disampaikan Staf Khusus Menteri Agama, Faried F. Saenong, dalam Dialog Nasional Ormas Islam dan Organisasi Kepemudaan Islam yang digelar di Auditorium HM. Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta.

“Kalau perang masih terjadi, itu artinya ada yang tidak beres dengan jalur diplomasi. Di sinilah diplomasi agama menjadi penting,” ujar Faried dalam keterangannya, Jumat (1/8/2025).

Religious diplomacy atau diplomasi berbasis nilai-nilai agama memiliki kekuatan moral dan kultural yang mampu menembus batas-batas diplomasi formal. “Ada negara-negara yang tidak memiliki hubungan resmi dengan kita, tetapi pemimpin agama bisa duduk satu meja dengan siapa pun,” katanya.

Faried mencontohkan keterlibatan aktif Kementerian Agama dalam forum-forum lintas agama global, termasuk kolaborasi dengan Vatikan, Rabithah Alam Islami, serta tokoh-tokoh agama dari Asia hingga Afrika.

“Pak Menteri Agama aktif menjalin jaringan global lintas iman. Ini kekuatan lunak Indonesia yang tidak boleh kita abaikan,” ucapnya.

Indonesia merupakan contoh nyata keberhasilan dalam mengelola keberagaman. “Islam Indonesia sudah dikenal dunia. Ia moderat, menjunjung kesetaraan, dan berjalan harmonis dengan demokrasi,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah negara besar bahkan menjadikan Indonesia sebagai rujukan dalam isu-isu sensitif seperti kebebasan beragama dan kesetaraan gender dalam perspektif Islam. “Kalau ingin lihat bagaimana Islam dan demokrasi bisa hidup berdampingan, datanglah ke Indonesia,” katanya.

Namun demikian, Faried mengingatkan pentingnya kesiapan internal dalam mengangkat wajah Islam Indonesia ke tingkat global. “Jangan sampai kita berbicara besar di luar, tapi belum kuat di dalam. Ini pekerjaan besar kita semua,” tegasnya.

Meskipun Indonesia tidak memiliki sejarah kejayaan politik seperti Mesir, Arab Saudi, atau Iran, tetapi memiliki masa depan dengan modal sosial yang kuat. “Kita punya kerukunan, pengalaman demokrasi, dan keberagaman yang hidup,” ujarnya.

Faried menekankan bahwa diplomasi agama bukan sekadar simbol, tetapi harus menjadi strategi kultural-politik untuk memperkuat posisi Indonesia di dunia Islam dan global. “Ini bukan pilihan. Ini kebutuhan geopolitik kita hari ini,” katanya.

Semua pihak untuk terbuka dan tidak menutup diri terhadap kelompok yang berbeda. “Kalau mau bicara perdamaian global, kita harus siap duduk satu meja dengan siapa pun, tanpa prasangka,” ujarnya.

Faried menilai rumah ibadah, pasar, dan ruang publik di Indonesia merupakan representasi nyata dari kehidupan keberagaman yang damai. “Inilah yang harus kita promosikan. Indonesia bukan hanya konsep, tetapi praktik keberagamaan yang hidup,” tegasnya.

Dialog yang digelar Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam bertema “Menjaga Harmoni dan Memperkuat Wawasan Kebangsaan” ini turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo R. Muhammad Syafi’i, dan Asisten Deputi Kesatuan Bangsa Kemenko Polkam Cecep Agus Supriyanta mewakili Menko Polkam.

Hadir pula para pejabat eselon I Kemenag, antara lain Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad, Dirjen Bimas Katolik Suparman, Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung, Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija, dan Dirjen Bimas Buddha Supriyadi.

Turut hadir Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Ali Ramdhani, Plt. Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi, Guru Besar UIN Jakarta Gun Gun Heryanto, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Muhammad Adib, Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi, dan Direktur Urais dan Pembinaan Syariah Arsad Hidayat.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *