UINSGD.AC.ID (Humas) — Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., melalui Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag., secara resmi membuka ASEAN Sunan Gunung Djati Student Camp (ASSC) 2025 dan Iqtishaduna International Conference (IIC) Tahun ke-2 Ekonomi Islam, Manajemen, Akuntansi dan Industri Halal, yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di Gedong Bodas, Kampus II, Senin (24/11/2025).
ASSC 2025 berlangsung selama empat hari, 24–27 November 2025, menghadirkan mahasiswa dan peneliti muda dari berbagai negara ASEAN untuk membahas tema “Bangkit Bersama di Masa yang Tidak Pasti: Strategi Tangkas untuk Ekonomi ASEAN yang Inklusif dan Tangguh.”
Dalam sambutannya, Prof. Dadan memberikan apresiasi atas ikhtiar FEBI meningkatkan kualitas akademik dan rekognisi internasional kampus. Program ASSC 2025, sebagai program unggulan FEBI, dinilai menjadi wadah strategis untuk diplomasi akademik, pertukaran budaya, serta kolaborasi lintas-negara.
“ASSC bukan hanya bentuk diplomasi akademik, tetapi menjadi wadah kolaborasi lintas budaya antara FEBI UIN Bandung dengan kampus-kampus internasional. Kami ingin menghadirkan ruang interaksi dan pertukaran gagasan antar generasi muda ASEAN yang menjunjung tinggi keberagaman, dialog lintas budaya, serta kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai akademik,” ujarnya.
Program ini melibatkan mahasiswa dari seluruh negara anggota ASEAN, serta dosen, peneliti, dan institusi pendidikan dari berbagai disiplin ilmu. ASSC tahun perdana ini menjadi bagian dari rangkaian Iqtishaduna, konferensi internasional tahunan FEBI yang mempertemukan akademisi dan praktisi untuk membahas isu-isu strategis dalam ekonomi Islam, pembangunan berkelanjutan, dan kepemimpinan masa depan.
Melalui pendekatan multidisipliner, ASSC diharapkan dapat: Pertama, Meningkatkan kapasitas kepemimpinan mahasiswa ASEAN; Kedua, Mendorong pertukaran budaya dan nilai-nilai perdamaian antarnegara; Ketiga, Membangun jejaring kolaboratif antara mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan; Keempat, Memperkenalkan kekayaan budaya lokal dan nilai-nilai Islam moderat kepada komunitas internasional.
Dengan format kegiatan meliputi seminar internasional, lokakarya kepemimpinan, diskusi tematik, serta kunjungan budaya ke berbagai situs bersejarah di Jawa Barat. “ASSC diharapkan menjadi kontribusi strategis FEBI dalam memperkuat peran Indonesia sebagai pusat keilmuan Islam yang inklusif, progresif, dan mendunia,” jelasnya.
Prof Dadan menegaskan isu-isu strategis di ASEAN yang sangat relevan untuk diangkat dalam diskusi, seminar, focus group discussion (FGD) pada kegiatan ASEAN Sunan Gunung Djati Student Camp (ASSC).
Paling tidak terdapat lima isu-isu strategis ASSC yang menjadi fokus dalam bahasan:
Kesatu, Pendidikan dan Mobilitas. “Ini adalah isu paling dekat dengan mahasiswa. Tantangan utamanya adalah harmonisasi standar pendidikan di Asia Tenggara,” ungkapnya.
– Kesenjangan Kualitas Pendidikan: Disparitas fasilitas dan kurikulum antara universitas di kota besar (seperti Singapura, KL, Jakarta) dengan daerah berkembang di negara ASEAN lainnya.
– Pengakuan Kredit dan Ijazah: Tantangan dalam ASEAN Credit Transfer System (ACTS). Bagaimana agar lulusan UIN SGD, misalnya, bisa mudah diakui kerjanya di Vietnam atau Thailand, dan sebaliknya.
– Akses Bahasa Inggris: Bahasa Inggris adalah bahasa kerja ASEAN, namun tingkat penguasaannya masih timpang di antara negara-negara anggota, menjadi penghambat kolaborasi.
Kedua, Ekonomi dan Ketenagakerjaan. “ASEAN sedang mengalami bonus demografi, namun ini bisa menjadi bencana jika tidak dikelola,” ujarnya.
– Ketidakcocokan Keahlian: Apa yang dipelajari di kampus seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan industri 4.0/5.0 yang berubah cepat.
– Pengangguran Pemuda: Tingginya angka lulusan sarjana yang menganggur atau bekerja di sektor informal tanpa jaminan sosial yang jelas.
– Entrepreneurship: Mendorong mindset mahasiswa dari “pencari kerja” menjadi “pencipta kerja” (startups/UMKM) yang bisa menembus pasar lintas negara ASEAN.
Ketiga, Era Digital dan Teknologi. “Pemuda ASEAN adalah digital natives, tapi menghadapi dua sisi mata uang.”
– Literasi Digital dan AI: Kesiapan mahasiswa menghadapi kecerdasan buatan (AI). Apakah AI akan menggantikan pekerjaan mereka, atau mereka yang mengendalikan AI?
– Hoaks dan Polarisasi: Masifnya penyebaran disinformasi (berita palsu) di media sosial yang dapat memecah belah persatuan antarnegara atau kerukunan beragama.
– Cyber Security: Kesadaran keamanan data pribadi di kalangan mahasiswa yang masih rendah.
Keempat, Lingkungan dan Keberlanjutan. Asia Tenggara adalah salah satu wilayah paling rentan terhadap perubahan iklim.
– Climate Change Anxiety: Mahasiswa semakin cemas akan masa depan bumi. Isu banjir, kenaikan muka air laut (seperti di Jakarta dan Bangkok), dan polusi udara.
– Green Jobs & Green Campus: Peran mahasiswa dalam mendorong kampusnya menjadi Eco-Campus dan mempersiapkan diri untuk “pekerjaan hijau” di masa depan.
Kelima, Sosial, Budaya dan Identitas. “Poin ini sangat relevan dengan konteks UIN Sunan Gunung Djati yang basis keagamaan,” bebernya.
– Moderasi Beragama dan Radikalisme: Mencegah ekstremisme di kalangan pemuda. Bagaimana nilai-nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin, seperti yang diajarkan Sunan Gunung Djati bisa menjadi solusi perdamaian di ASEAN.
– Krisis Identitas: Di tengah arus budaya pop global (K-Pop, Westernisasi), bagaimana pemuda ASEAN tetap bangga dengan identitas lokal dan budaya melayu/nusantara mereka.
– Kesehatan Mental: Meningkatnya isu kecemasan, depresi, dan burnout di kalangan mahasiswa akibat tekanan akademik dan sosial media.
Agar kegiatan Student Camp lebih hidup, kita dapat membuat sesi debat, FGD dengan tema spesifik, “mulai dari dapat mengintegrasikan nilai Islam dalam ekonomi digital ASEAN. Peran pemuda dalam menjaga budaya lokal di tengah globalisasi, sampai berusaha menangani kesehatan mental dengan pendekatan spiritual dan ilmiah,” pesannya.
Dekan FEBI, Prof. Dr. H. Dudang Gojali, S.Ag., M.Ag., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan forum ilmiah strategis untuk memperluas ruang dialog, memperkuat jejaring global, serta membangun kontribusi nyata bagi kemaslahatan masyarakat ASEAN.
“Kehadiran kita pada kegiatan ini bukan sekadar memenuhi agenda akademik rutin, tetapi merupakan langkah afirmatif dalam memperluas ruang berpikir, ruang dialog, dan ruang kontribusi global bagi kemajuan keilmuan dan kemaslahatan masyarakat,” tegasnya.
Tema besar yang kita angkat hari ini membawa pesan penting bahwa “tantangan global hari ini menuntut kita tidak hanya adaptif, tetapi collectively intelligent. Kita hidup pada fase perubahan ekonomi, teknologi, dan geopolitik yang sangat cepat, di mana pendekatan konvensional tidak lagi memadai,” tuturnya.
Dunia akademik tidak cukup berhenti pada memproduksi pengetahuan, tetapi harus bertanggung jawab menjawab persoalan publik, membimbing generasi muda agar siap bersaing, serta memastikan bahwa kemajuan yang dicapai tidak meninggalkan kelompok manapun.
ASSC dan IIC 2025 ini menjadi ruang di mana mahasiswa, peneliti, institusi pendidikan, dan pemangku kepentingan dapat bertemu dalam ekosistem ilmiah yang produktif, mengintegrasikan riset, pengabdian, kepemimpinan, inovasi budaya, serta pertukaran gagasan lintas negara.
“Dengan demikian, kegiatan ini bukan sekadar seremoni atau ajang presentasi akademik, tetapi juga arsitektur pembangunan kolaborasi jangka panjang yang memberikan nilai strategis bagi penguatan reputasi universitas, fakultas, dan umat,” tuturnya.
Bidang ekonomi Islam, manajemen, akuntansi, dan industri halal memiliki posisi strategis dalam arus transformasi global. Ketika dunia mencari model ekonomi baru yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan, kita sesungguhnya memiliki modal epistemologis dan nilai dasar yang kuat mulai dari keadilan, kemaslahatan, keterbukaan, partisipasi, dan keberlanjutan.
“Melalui kegiatan ini, kita menunjukkan bahwa sistem pengetahuan Islam bukan saja relevan, tetapi mampu menjadi lokomotif dan penggerak pengetahuan dalam tatanan global saat ini. Saya menaruh harapan besar bahwa forum ini melahirkan gagasan progresif, penelitian yang berdampak, jejaring internasional baru, serta kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat baik di regional ASEAN maupun dalam perspektif global,” tandasnya.
Wakil Dekan I FEBI, Prof. Dr. Iwan Setiawan, S.Ag., M.Pd., M.E.Sy., menyampaikan bahwa ASSC menjadi momentum untuk mempererat kolaborasi akademik lintas budaya dan memperluas cakrawala keilmuan mahasiswa.
Sebanyak 30 peserta dari Indonesia, Vietnam, Malaysia, Thailand, Somalia, dan Filipina mengikuti perkemahan akademik internasional ini. Mereka menjalani rangkaian sesi akademik, riset, pengabdian masyarakat, hingga pendalaman budaya termasuk kunjungan ke Museum Konferensi Asia-Afrika dan Heritage Games Community.
Adanya ASSC dan IIC 2025 diharapkan dapat memberdayakan generasi penerus agar mampu membangun masa depan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan membawa kemakmuran bersama. “Kita semua adalah inti dari kegiatan ASSC 2025 dan Iqtishaduna. Melalui sesi akademik, seminar kepemimpinan, kegiatan budaya, serta penelitian berbasis komunitas bersama UMKM, koperasi syariah, dan industri halal di Jawa Barat, kita akan berhadapan langsung dengan berbagai tantangan nyata dan turut merumuskan solusi-solusi praktis,” paparnya.
Aktivitas-aktivitas ini dapat memperluas wawasan, memperdalam pemahaman lintas budaya, serta memperkuat kemampuan kita dalam menerjemahkan nilai-nilai ekonomi dan manajerial Islam ke dalam aksi nyata. “Kehadiran peserta dari Vietnam, Malaysia, Thailand, Somalia, Filipina, dan Indonesia mencerminkan dinamika, keberagaman, serta komitmen etis generasi muda saat ini,” ujarnya.
Tentunya, keberadaan para peserta Konferensi Internasional Iqtishaduna, “Harapannya dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkaya pengetahuan di bidang ekonomi Islam, tata kelola, keuangan inklusif, inovasi industri halal, keberlanjutan, dan transformasi digital sangatlah berharga,” ucapnya.
Konferensi ini melanjutkan kesuksesan tahun sebelumnya, dengan menghadirkan ratusan penulis dan delegasi dari berbagai benua. “Hari ini, kita kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat diskursus intelektual yang berkualitas, menjalin kemitraan transnasional, dan memperluas dampak global dari penelitian yang berakar pada nilai-nilai Islam dan realitas kawasan,” ungkapnya.
ASSC dan IIC 2025 bukan sekadar rangkaian kegiatan akademik. Keduanya merupakan wadah kolaborasi, empati, dan tanggung jawab bersama. Kegiatan ini mengingatkan kita bahwa ketahanan tumbuh melalui solidaritas, inovasi hadir melalui kerja sama, dan kemajuan bermakna tercapai ketika beragam pemikiran bersatu dalam satu tujuan. “Seiring dengan dimulainya rangkaian kegiatan, penelitian lapangan, diskusi, seminar, presentasi, dan pertukaran budaya, saya mengajak seluruh peserta untuk berpartisipasi dengan sepenuh hati, belajar dengan berani, bekerja sama dengan terbuka, dan berkontribusi dengan tulus,” pungkasnya.
