UINSGD.AC.ID (Humas) — Ramadan selalu datang dengan dua wajah. Wajah pertama adalah spiritualitas yang menyejukkan dengan suara ayat suci yang bergema di masjid-masjid, kehangatan sahur bersama keluarga, dan kelembutan hati yang mudah tergerak untuk berbagi.
Wajah kedua adalah hiruk-pikuk ekonomi yang memanas, mal-mal yang memanjangkan jam operasional, pedagang takjil yang memadati pinggir jalan, dan iklan-iklan yang berlomba menawarkan diskon.
Data dari Nielsen NIQ mencatat bahwa pengeluaran rumah tangga Indonesia selama Ramadan 2024 mencapai 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan periode biasa. Bank Indonesia bahkan menyiapkan uang layak edar hingga Rp 190 triliun untuk memfasilitasi perputaran uang selama Ramadan dan Lebaran 2025. Angka yang fantastis.
Namun di balik gemerlap angka tersebut, terungkap bahwa kesejahteraan masyarakat merosot selama Ramadan. Data Survei Konsumen BI per Maret 2025 menunjukkan rasio tabungan terhadap pendapatan turun dari 14,7 persen menjadi 13,8 persen, sementara rasio konsumsi meningkat. Kita makan tabungan demi gaya hidup Ramadan.
Pertanyaannya, di tengah geliat ekonomi yang demikian menggiurkan, di mana letak ‘The Power of Berkah’ yang sering kita dengung-dengungkan? Apakah berkah hanya tinggal slogan, sementara realitasnya kita terjebak dalam pusaran konsumerisme yang makin dalam?

Paradoks Ramadan, antara Pengendalian Diri dan Ledakan Konsumsi
Secara filosofis, Ramadan adalah madrasah pengendalian diri. Puasa melatih kita menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun realitas berkata lain. Alin Halimatussadiah, seorang peneliti ekonomi Universitas Indonesia, mencatat bahwa di negara-negara dengan mayoritas muslim, konsumsi meningkat selama bulan penuh pengendalian diri.
Fenomena yang bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Qatar dan Uni Emirat Arab. Artinya, terjadi persoalan universal umat Islam modern. Kita dilatih menahan diri di siang hari, tetapi larut dalam euforia konsumsi di malam hari. Kita berpuasa dari makanan, tetapi tidak berpuasa dari gaya hidup konsumtif.
Lebih memprihatinkan lagi, tim peneliti BRIN mencatat peningkatan volume sampah hingga 40 persen selama Ramadan dan Idulfitri di wilayah Bandung Raya. Sampah plastik dari kemasan makanan takjil, sampah makanan dari hidangan berlebih, semua menjadi saksi bisu bagaimana kita seringkali kehilangan arah.

Erich Fromm dan Al-Ghazali: Menghancurkan Berhala Konsumerisme
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu merenungkan kembali makna puasa secara lebih mendalam. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita.
Erich Fromm, pakar psikologi sosial asal Jerman, dalam bukunya Revolution of Hope menulis sebuah kalimat yang sangat tajam, ‘Kita memberi makan kemalasan, keserakahan, atau kebencian kita, atau kita membuat mereka kelaparan. Semakin banyak kita memberi makan mereka, akan tumbuh lebih kuat. Semakin membuat mereka kelaparan, mereka akan semakin lemah.’
Fromm mengajak kita untuk mengatasi keserakahan dan tidak terikat oleh berhala apa pun. Menurutnya, harta, kekuasaan, atau apa pun yang bersifat duniawi bisa menjadi berhala yang harus dihancurkan jika kita menaruh harapan berlebihan. Ketika seseorang mengandalkan harta dan menaruh harapan lebih, maka secara tidak langsung telah memberhalakan makhluk dalam dirinya.
Pandangan Fromm ini selaras dengan ajaran Imam Al-Ghazali dalam Kimiya’us Sa’adah (The Alchemy of Happiness). Al-Ghazali menjelaskan bahwa dalam diri manusia terkumpul berbagai karakter, ada karakter hewan, karakter binatang buas, dan karakter malaikat.
Kebahagiaan karakter hewan terletak pada makan, minum, tidur, dan kawin. Kebahagiaan karakter binatang buas terletak pada menghantam dan menerkam. Sedangkan kebahagiaan malaikat terletak pada kesaksian terhadap keindahan hadirat ketuhanan .
Ramadan, menurut Al-Ghazali, adalah momentum untuk menaikkan tingkat dari karakter kebinatangan menuju karakter malaikat. Kita tidak boleh terus-menerus memanjakan karakter hewan yang hanya mencari kepuasan makan dan minum. Kita harus berpuasa dari sifat-sifat kebinatangan seperti kemalasan, keserakahan, dan kebencian, sehingga diri kita kembali bersih.
Dalam konteks ekonomi Ramadan, ajaran Fromm dan Al-Ghazali menjadi sangat relevan. Konsumerisme yang berlebihan adalah bentuk memberi makan karakter hewan dalam diri kita. Diskon, promo, dan godaan belanja adalah pakan yang membuat keserakahan tumbuh semakin kuat. Jika tidak dikendalikan, kita akan menjadi budak hasrat, tawanan nafsu yang tak pernah puas. Padahal, sebagaimana ditegaskan Fromm, kebahagiaan sejati tidak datang dari memiliki banyak hal, tetapi dari kebebasan kebebasan atas keterikatan kita pada berhala-berhala duniawi.

Diogenes: Hidup Secukupnya di Tengah Gemerlap Pasar
Dari tradisi filsafat Barat kuno, kita juga bisa belajar dari Diogenes, filsuf Yunani aliran Sinisme yang hidup sekitar 400 SM. Diogenes dikenal karena gaya hidup yang sangat sederhana, tinggal di dalam tong, berjalan tanpa alas kaki, dan bahkan terkadang makan dari sisa makanan orang lain. Namun di balik keterbatasan materi itu, Diogenes justru dikenal sebagai pribadi yang bebas dan bahagia.
Menurutnya penderitaan manusia lahir dari keserakahan, bukan dari kemiskinan. Ketakutan berlebihan terhadap kemiskinan memicu dorongan tak terbatas untuk terus menumpuk harta. Ironisnya, keinginan yang tak pernah puas dapat merampas kedamaian batin Bagi Diogenes, kebahagiaan sejati terletak pada kebebasan dari hasrat yang berlebihan. Perbudakan terhadap nafsu dan keinginan tanpa batas adalah bentuk kemiskinan batin yang sesungguhnya.
Sebaliknya, hidup secukupnya membawa pada ketenteraman dan kebahagiaan yang hakiki. Kisah pertemuan Diogenes dengan Alexander the Great sangat terkenal. Suatu hari, Alexander yang sedang menaklukkan dunia datang mengunjungi Diogenes.
Alexander berdiri di hadapan filsuf itu dan berkata, ‘Mintalah apa yang kau inginkan, niscaya akan kuberikan.’ Diogenes yang sedang berjemur di bawah matahari menjawab dengan tenang, ‘Beranjaklah sedikit, engkau menghalangi sinar matahariku.’
Alexander the Great, penguasa dunia yang disegani, tidak bisa memberikan apa pun kepada Diogenes karena Diogenes sudah memiliki segalanya, bukan dalam bentuk harta, tetapi dalam bentuk kebebasan batin. Di bulan Ramadan ini, kita bisa merenungkan, apakah kita lebih mirip Alexander yang terus mengejar dunia, atau Diogenes yang sudah menemukan kedamaian dalam kesederhanaan?

Strategi Praktis Meredam Konsumerisme, Meraih Berkah
Setelah memahami perspektif filosofis dan ekonomis, kita perlu menerjemahkannya ke dalam langkah-langkah praktis. Berikut beberapa strategi yang bisa kita terapkan:
Pertama, buat anggaran khusus ‘Dana Ramadan’ . Pisahkan antara uang makan harian, dana bukber, belanja kebutuhan tambahan, dan persiapan Lebaran. Dengan perencanaan yang matang, pengeluaran tetap terkendali dan tidak mengganggu kebutuhan utama.
Kedua, kendalikan ‘lapar mata’ saat ngabuburit. Tentukan budget takjil harian, beli secukupnya, dan sesekali buat takjil sendiri di rumah. Gunakan pembayaran non tunai agar pengeluaran tercatat otomatis dan mudah dipantau Ini adalah bentuk nyata ‘membuat lapar’ keserakahan kita, sebagaimana diajarkan Erich Fromm.
Ketiga, prioritaskan kewajiban zakat dan THR keluarga. Segera sisihkan dana untuk zakat fitrah, sedekah, dan THR untuk orang tua serta keluarga sejak awal Ramadan. Cara sederhana ini efektif mencegah uang terpakai untuk konsumsi yang tidak perlu .
Keempat, dukung UMKM dan produk lokal secara sadar. Ketika berbelanja, pilih produk dari usaha kecil dan menengah di sekitar kita. Dengan cara ini, belanja Ramadan kita tidak hanya memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga menghidupkan ekonomi tetangga dan saudara sesama muslim.
Kelima, praktikkan hidup secukupnya ala Diogenes. Sebelum membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri, apakah benar-benar kebutuhan atau hanya keinginan sesaat? Apakah membeli ini akan membawa kebahagiaan jangka panjang atau hanya kepuasan sesaat?
Dengan lima strategi sederhana ini, insya Allah kita bisa menikmati geliat ekonomi Ramadan tanpa kehilangan arah spiritual. Kita bisa menjadi bagian dari perputaran uang ratusan triliun rupiah, tetapi tetap menjaga agar tabungan tidak tergerus dan hati tetap tenang.

Ramadan menjadi Kemenangan Hakiki
Ramadan adalah momentum untuk membersihkan diri. Dalam tradisi tasawuf, ada tiga tahapan yang harus dilalui: takhali (pembersihan), tahali (pengisian), dan tajali (ketercerahan). Takhali berarti membersihkan diri dari kotoran-kotoran, termasuk kotoran konsumerisme dan keserakahan. Tahali berarti mengisi diri dengan kebaikan, termasuk kebiasaan berbagi dan hidup sederhana.
Tajali adalah ketercerahan, saat kita mampu menyaksikan keindahan hadirat Tuhan dengan hati yang bersih. Karena itu, membersihkan diri adalah prasyarat mutlak untuk bisa menangkap kemurnian hidup dan menyaksikan keindahan-keindahan Tuhan yang selama ini terhijab dari pandangan kita.
Di penghujung Ramadan nanti, kita akan merayakan Idulfitri. Kemenangan yang kita rayakan bukanlah kemenangan karena baju baru, hidangan mewah, atau pesta kemeriahan. Kemenangan hakiki adalah saat kita berhasil mengendalikan diri, mengembalikan sisi manusiawi lebih bernilai, beradab dan Kembali bermartabat dihadapan Tuhan.
Wallahu’a’lam bis showaab.
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Bandung, Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI