Sunan Gunung Djati di Antara Nama dan Makna

Ilustrasi Hikayat Sunan Gunung Jati dalam Mendakwahkan Islam/ laduni.id

UINSGD.AC.ID (Humas) — Rupanya ungkapan William Shakespeare (1564–1616), “apalah arti sebuah nama (what’s in a name)”, tidak berlaku secara umum. Sebab perkataan itu hanya disampaikan dalam kisah romantis Romeo and Juliet. Untuk konteks lain, nama tetap memiliki arti dan makna tertentu.

Setiap nama menyimpan praktik politik penamaan yang mengandung tujuan serta menciptakan harapan. Setidaknya, terdapat tujuan dan harapan untuk menyampaikan informasi, gagasan, atau pesan dari penutur kepada khalayak.

Sunan Gunung Djati sebagai nama dari Universitas Islam Negeri Bandung (UIN Bandung), tentu juga memuat berbagai makna. Nama ini lahir dari tujuan dan harapan para pendiri dengan landasan gagasan serta pesan tertentu.

Semiotika Nama
Dalam semiotika Ferdinand de Saussure (1857–1913), nama adalah bagian dari tanda yang berposisi sebagai penanda (signifier), sedangkan makna adalah petanda (signified atau konsep). Misalnya, saat kita menulis, menggambar, mengucapkan, atau mendengar kata “bunga” (penanda), dalam benak kita muncul konsep bunga (petanda): wangi, indah, warna-warni, dikerumuni kumbang dan kupu-kupu.

Sementara itu, Roland Barthes (1915–1980) berpendapat bahwa satu penanda tidak hanya memproduksi satu makna, tetapi bisa menghasilkan beragam makna. Ia membaginya menjadi makna tingkat pertama (denotatif) dan makna tingkat kedua (konotatif).

Makna denotatif adalah makna deskriptif dan literal yang secara umum disepakati oleh anggota suatu budaya. Sedangkan makna konotatif terbentuk melalui hubungan penanda dengan aspek budaya yang lebih luas (keyakinan, sikap, kerangka kerja, dan ideologi sosial). Makna ini bersifat asosiatif terhadap kode-kode budaya lainnya (Barker, 2009).

Misalnya, “pakaian” pada level pertama dimaknai kain yang berfungsi untuk menutupi atau melindungi badan. Sedangkan pada level kedua, pakaian dalam hal ini jenis jeans dapat bermakna kasualitas atau tidak formal, dan pakaian dalam bentuk katun bermakna formalitas.

Ya untuk “anggrek” misalnya pada level pertama mendenotasikan konsep bunga yang berdaun memanjang, bulat telur, bulat slinder, atau hati dengan tekstur kaku, serta berwarna dan bercorak. Sementara pada level kedua, “anggrek” dikonotasikan keindahan, kemewahan, keagungan, kekuatan, dan kekuasaan.

Makna-makna pada level kedua tersebut acapkali berpengaruh kuat pada dunia subjek. Ia dapat menjadi nilai-nilai (juga pengetahuan) yang berpengaruh pada sikap dan perilaku sang subjek. Makna kasualitas dari pakaian jenis jeans misalnya, berpengaruh pada pola interaksi para pemakai jeans dan para individu penutur yang terlibat. Mereka dalam berinteraksi akan cenderung tidak formal.

Produksi Ragam Makna
Bila menggunakan semiotika di atas, maka Sunan Gunung Djati sebagai nama UIN Bandung adalah penanda yang dapat berhubungan dengan aspek-aspek kultural sehingga dapat memproduksi beragam makna.

Sunan Gunung Djati pada level pertama misalnya, mendenotasikan konsep Sunan, yaitu penyebutan nama untuk para ulama atau wali (wali songo). Mereka adalah orang-orang yang dihormati dan diagungkan karena jasa dan kedudukannya di masyarakat.

Gunung Djati sendiri merujuk pada gunung yang berada di tatar Cirebon. Oleh karena itu, Sunan Gunung Djati adalah Sunan yang berdakwah di Jawa bagian Barat (termasuk Jakarta dan Banten).

Sedangkan pada level kedua, Sunan Gunung Djati dikonotasikan keagamaan, keulamaan atau keilmuan, dan kepahlawanan. Keagamaan merujuk pada sosok Sunan Gunung Djati yang berdakwah mengenai nilai-nilai Islam. Lalu, keulamaan merujuk pada sosok Sunan Gunung Djati yang berilmu pengetahuan tinggi. Adapun kepahlawanan merujuk pada sosok Sunan Gunung Djati yang gagah dan berani berjuang bagi kemerdekaan Indonesia.

Teladan Keagamaan dan Kebangsaan
Dengan berdakwah keislaman, berilmu pengetahuan, dan berjuang kemerdekaan, maka pada diri Sunan Gunung Djati inheren teladan keagamaan di satu sisi, dan teladan pionir kebangsaan di sisi lain.

Peran keagamaan Sunan Gunung Djati diketahui melalui kegiatan dan keberhasilannya mengembangkan Islam di pulau Jawa, khususnya Jawa bagian Barat. Dalam mengembangkan Islam tersebut, Sunan Gunung Djati mengedepankan Islam rahmatan lil’alamin, Islam sebagai agama damai.

Di samping itu, ketika ia berhadapan dengan masyarakat yang beragam tradisi, ia mengedepankan sikap bilhikmah (tegas tapi bijaksana), mau’idhatul hasanah (pelajaran yang baik), dan mujadalah billati hia ahsan (perdebatan dengan cara yang baik). Sikap-sikap Sunan Gunung Djati tersebut didasarkan pada Q.S. An Nahl: 125.

Sedangkan peran pionir kebangsaan Sunan Gunung Djati ada dalam wujud kegigihan dan kegemilangannya bersama Fatahillah (dari Kerajaan Demak) dalam perjuangan mengusir penjajah Portugis dari Sunda Kelapa. Belakangan peran itu mampu menumbuhkan dan menggetarkan rasa keberanian segenap masyarakat Jawa bagian Barat dalam memerdekakan Indonesia.

Ruang Muhasabah
Menginjak usianya yang ke-57 (8 April 1968 – 8 April 2025), amatlah relevan untuk merenungkan kembali makna-makna Sunan Gunung Djati bagi UIN Bandung. Kenapa demikian? Karena sejauh ini ada kesan bahwa Sunan Gunung Djati hanya digunakan sebagai nama semata, simbolik, namun tidak pernah dijadikan sebagai ruh perjuangan UIN Bandung. Dalam kata lain, UIN Bandung hanya menggunakan Sunan Gunung Djati namun belum sampai (ada rasa) memilikinya.

Diperlukan ragam ikhtiar untuk menumbuhkan rasa memiliki Sunan Gunung Djati. Di antaranya dengan penghayatan dan pengamalan jati diri Sunan Gunung Djati. Ini bisa diwujudkan melalui: Pertama, Penyisipan nilai-nilai (pepeling, kearifan) Sunan Gunung Djati dalam kode etik sivitas akademika. Kedua, Integrasi dalam core values universitas. Ketiga, Penanaman dalam fondasi pemikiran kurikulum pendidikan tinggi.

Dengan ikhtiar ini, nama Sunan Gunung Djati bukan sekadar label, melainkan makna yang transformatif dan inspiratif.

Sunan Gunung Djati dapat dijadikan sebagai “satu nama, sejuta makna” atau “satu laku lampah dengan makna berlimpah”. Terutama makna-makna yang mendorong segenap sivitas akademika UIN Bandung untuk terus berkontribusi nyata bagi peradaban bangsa dan dunia.

Semua itu dilakukan dengan berpijak pada nilai-nilai keagamaan, keilmuan, dan kebangsaan sebagaimana telah diteladankan oleh Sunan Gunung Djati. Wallahu a‘lam bish-shawab.

Asep Sahid Gatara, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *