Stadium General Bersama Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi

Bangun SDM Jabar Istimewa Berbasis Kearifan Lokal

UINSGD.AC.ID (Humas) — UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Stadium General bersama Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi, S.H., M.M., yang berlangsung di Aula Anwar Musaddad, Kampus I, Selasa (23/9/2025)

Mengusung tema besar tentang sinergitas antara pemerintah daerah dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat yang istimewa.

Dalam pemaparannya, Gubernur yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) menegaskan pentingnya peran strategis perguruan tinggi dalam proses pembangunan daerah. Menurutnya, menciptakan “Jabar Istimewa” tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan kampus, khususnya dalam menerapkan nilai-nilai kearifan lokal Sunda seperti silih asah, silih asih, dan silih asuh. Nilai-nilai ini menjadi landasan dalam membentuk masyarakat yang berkarakter, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Jabar kudu balik ka dirina nu asal. Buktinya kerusakan lingkungan, tambang liar ada di mana-mana, jurang kemiskinan makin terlihat, generasi muda kehilangan jati diri. Dosen hanya mengajar tanpa ada hubungan batin dengan mahasiswa, tanpa rasa dan cinta. Selama ini, esensi mengajar hanya sebatas naratif dan administratif,” tegasnya.

KDM menjelaskan untuk membentuk jati diri Sunda yang kuat harus mencakup kesadaran terhadap nilai-nilai spiritual, kekayaan budaya, serta semangat membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Dalam filsafat Sunda, dikenal dengan konsep Rawayan Jati, pemahaman mendalam tentang alam semesta, nilai-nilai kehidupan, dan kebijaksanaan lokal yang seharusnya diwujudkan dalam kebijakan dan praktik pembangunan daerah.

“Rawayan Jati adalah filosofi Sunda tentang kehidupan yang harmonis dengan alam dan Sang Pencipta. Kesuburan bukan untuk dieksploitasi, dan kebahagiaan bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kemajuan masyarakat,” jelasnya.

Pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan, dengan memegang prinsip keseimbangan antara tanah, air, udara, dan matahari.

Pat-pat gulipat harus jadi pegangan dalam menjaga alam dan kelestarian lingkungan hidup,” tambahnya.

Dalam konteks perguruan tinggi, KDM menilai bahwa UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah mengintegrasikan nilai-nilai tersebut. Karena kampus ini memiliki kerangka teologi lingkungan, yang dibangun atas dasar kecintaan terhadap alam dan warisan spiritual Sunan Gunung Djati.

“IAIN dibangun atas kecintaan terhadap lingkungan. Sunan Gunung Djati adalah simbol teologi lingkungan, yang mengharmoniskan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam. Ini adalah warisan Tri Tangtu, keseimbangan antara ‘bihari, kiwari, jeung isuk’, masa lalu, masa kini, dan masa depan,” paparnya.

Selain lingkungan, KDM menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang ekonomi.

“Salah satu kebutuhan dasar rakyat adalah pendidikan yang memadai, tanpa membedakan antara kaya dan miskin, dari SD hingga perguruan tinggi. Pendidikan harus melahirkan kesetaraan, bukan eksklusivitas. Termasuk untuk penyandang disabilitas,” katanya.

Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah sekolah, guru, melainkan dari kemampuannya membentuk karakter manusia Indonesia yang utuh. Dalam filosofi Sunda, dikenal sebagai Rawayan Jati, pemahaman ketuhanan yang sempurna, yang melahirkan karakter luhur. “Dalam nilai Sunda, karakter itu adalah Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer,” ungkapnya.

Gubernur menyampaikan bahwa mewujudkan Jabar Istimewa berbasis kearifan lokal dapat dilakukan melalui pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan, pendidikan berbasis budaya, pelibatan aktif masyarakat desa, serta penguatan nilai-nilai budaya dalam kebijakan dan tata kelola pemerintahan.

Dalam kerangka kerja sama ini, KDM mengungkapkan bahwa setiap kecamatan di Jawa Barat ke depan akan didampingi oleh konsultan dari kampus-kampus terkemuka seperti ITB, UI, Unpad, termasuk UIN.

“Satu kecamatan, satu kampus pendamping. Mereka akan bantu desa dalam perancangan tata ruang, pengelolaan ruang terbuka hijau, sistem sanitasi, hingga maket pembangunan. Ini bagian dari transformasi besar yang sedang kita dorong,” ujarnya.

Dengan sinergi antara pemerintah desa dan institusi akademik, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan terwujudnya pembangunan desa yang modern namun tetap berakar kuat pada nilai budaya dan kelestarian lingkungan hidup.

Mengenai green campus di lingkungan UIN Bandung yang sudah dilakukan oleh Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam (Mahapeka) sejak tahun 1990, melalui bakti sosial dan penyuluhan lingkungan hidup di Baduy; pendidikan dan pembinaan kader remaja Islam.

“Saya sangat senang kampus hijau, mencintai lingkungan, merawat alam. Disinilah pentingnya konsep Tri Tangtu di Buana dalam budaya Sunda yang berusaha menjaga tatanan dan keseimbangan tiga unsur Tuhan (Hiyang/Hyang), alam semesta, dan manusia,” jelasnya.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof Rosihon Anwar menyampaikan terimakasih kepada Gubernur Jabar atas kesediaannya memberikan kuliah umum.

“Wilujeng sumping Pa Gubernur di kampus rahmatan lil alamin. Tugu Kujang yang ada di depan Aula dulu yang meresmikannya Kang Dedi Mulyadi,” ucapnya.

Dalam konteks kampus, pentingnya peran nilai-nilai spiritual dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pendekatan ekoteologi.

Ikhtiar menciptakan green campus, “Mahapeka jadi pelopor penghijauan kampus, pendekatan ekoteologi selama ini yang berpihak pada lingkungan, penghijauan kampus,” jelasnya.

Kuliah umum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi antara kampus dengan pemerintah daerah dalam melahirkan sumber daya manusia unggul, istimewa.

“Ada 35 ribu mahasiswa semua berasal dari Jabar, berkumpul SDM terbaik untuk mewujudkan Jabar istimewa dengan membangun lingkungan yang lestari, sumber daya manusia yang berkarakter menuju Jabar Istimewa. Keberagaman yang inklusif ini diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap Jabar, melalui tridharma perguruan tinggi, KKN moderasi beragama di Cigugur Kuningan menjadi kampus unggul, kompetitif dan moderat berbasis rahmatan lil alamin,” tuturnya.

Dengan menghadirkan pemimpin daerah, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum mempererat sinergi dan memberikan arah strategis pembangunan SDM Jawa Barat melalui kontribusi nyata PTKIN.

“Mari jadikan momentum ini sebagai penguat komitmen bersama untuk bersinergi membangun SDM Jabar istimewa. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi langkah kita dalam mengabdi untuk masyarakat, bangsa dan negara,” tuturnya.

Sebagai panitia penyelenggara Wakil Rektor II Prof Tedi Priatna menyampaikan bahwa stadium general ini diinisiasi oleh undangan organisasi mahasiswa intra kampus seperti UKM Mahapeka dan sebelumnya Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas, akhirnya kegiatan ini diselenggarakan di tingkat universitas untuk seluruh sivitas akademika, para pejabat struktural, para staf tenaga kependidikan dan Ormawa intra kampus. Hadir juga para Dewan Pendiri Mahapeka (Sujana Sulaeman atau akrab dipanggil kang Jana, Prof Asep Saeful Muhtadi, Prof M. Anton Athoillah).

“Alhamdulillah acara ini berjalan lancar dan sangat antusias diikuti oleh seluruh peserta. Kita doakan semoga Gubernur Jawa Barat selalu sehat, panjang umur, dan diberikan kelancaran dalam membangun jabar Istimewa ini,” pungkasnya.

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *