Spirit Umrah dan Maulid Nabi

Ilustrasi saat menjalankan ibadah haji, umrah (Getty Images/iStockphoto/Aviator70)

UINSGD.AC.ID (Humas) — Ibadah umroh dan peringatan Maulid Nabi bukan sekedar seremonial dan ritual keagamaan, melainkan ruang perenungan spiritual dan historikal. Saat negara tengah menghadapi turbulensi sosial dan politik, nilai-nilai yang terkandung dalam keduanya dapat menjadi cermin bening dan kompas moral bagi seluruh anak bangsa.

Setelah aksi mahasiswa pada akhir Agustus 2025 yang mengguncang berbagai kota di Indonesia, tanpa kecuali berbagai kota di Jawa Barat, kita melihat gelombang aspirasi moral dari generasi muda. Protes terhadap ketimpangan sosial, praktik kekuasaan yang elitis, hingga respon aparat yang represif, menyisakan pertanyaan mendasar : mau dibawa ke mana arah bangsa ini?

Bila meminjam postulat dalam ilmu tasawuf, umroh adalah ibadah yang secara spiritual menggambarkan tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa). Saat seorang Muslim bertawaf, ia seolah melepaskan segala atribut duniawi dan menyatu dalam kesadaran Ilahiyah. Di sinilah muncul nilai keikhlasan, kesetaraan, dan pengakuan bahwa manusia bukan pemilik kuasa, melainkan khalifah yang diamanahi tanggung jawab moral dan sosial.

Sekaitan dengan itu, bila meminjam telaah Ibnu Khaldun, eksistensi masyarakat tidak hanya terletak pada kekuasaan politik, tetapi pada ‘ashabiyah, yakni rasa kebersamaan dan solidaritas sosial yang murni. Dalam konteks umroh, ‘ashabiyah diekspresikan dalam kesadaran kolektif umat yang datang dari seluruh penjuru dunia, bersatu dalam kesamaan tujuan spiritual.

Disisi lain, Maulid Nabi adalah peringatan akan kelahiran sosok revolusioner yang membawa perubahan besar berbasis akhlak karimah. Dalam sejarahnya, Rasulullah SAW menavigasi masyarakat yang tertindas menuju peradaban yang adil dan berkeadaban. Nilai ini sangat relevan ketika kita menyaksikan mahasiswa dan masyarakat sipil bersuara demi keadilan sosial.

Dalam konteks ini, Al-Farabi, seorang filsuf Muslim klasik, pernah menekankan pentingnya gagasan al-Madinah al-Fadhilah, negara utama yang dipimpin oleh pemimpin berakal dan berbudi luhur. Negara yang ideal, menurutnya, bukan hanya yang kuat secara ekonomi atau militer, tetapi yang mampu mendidik rakyatnya untuk menjadi manusia bijak dan bermoral.

Jika melihat respons terhadap aksi mahasiswa akhir Agustus 2025 ini, masih ada jarak antara idealisme Al-Farabi dan realitas bangsa. Aksi damai dibalas dengan kekerasan, kritik dihadang dengan stigma, dan kebijakan publik kerap mengabaikan suara akar rumput.

Dari dua sumber cahaya Islam ini, ibadah umroh dan Maulid Nabi, terdapat pelajaran adiluhung. Dalam umroh, ada pelajaran tentang kesederhanaan dan keberanian moral. Dalam Maulid Nabi, ada pesan tentang transformasi sosial dan spiritual. Kedua cahaya ini mengajarkan bahwa perubahan sejatinya berawal dari kesadaran diri, lalu meluas ke masyarakat.

Sejalan dengan dengan itu, Nurcholish Madjid pernah menyatakan bahwa Islam adalah kekuatan pembebas, bukan penindas. Maka, ketika mahasiswa bersuara, bukan kebencian sebagai jawaban, tapi dialog dan reformasi struktural yang sejatinya dilakukan.

Sebagai masyarakat religius, plural, dan pada kutub historikalnya lekat dengan gerakan sosial seperti di Priangan, Jawa Barat memiliki modal besar untuk menjadi pelopor kebangkitan moral bangsa. Karena itu Umroh dan Maulid Nabi bukan sekadar seremoni, tapi suluh yang mengingatkan kita bahwa kekuasaan tanpa keadilan hanya akan memperpanjang kegelapan. Kini saatnya meneguhkan kembali nilai-nilai spiritualitas dan historisitas Nabi dalam ranah sosial dan politik. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya besar dalam jumlah, tetapi juga kuat dalam jiwa. Semoga.

Aang Ridwan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Pembimbing Haji Khusus dan Umrah ­Khalifah Tour. 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *