“Peta jalan sukses tidak semata material, melainkan keberkahan ilmu dan kematangan kepribadian. Sukses sejati lahir dari niat lurus, adab, dan kesungguhan”
UINSGD.AC.ID (Humas) — Bencana longsor dan banjir bandang yang melanda Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada akhir Januari 2026 menyisakan duka mendalam. Puluhan nyawa melayang, ratusan warga mengungsi, dan ruang hidup masyarakat terguncang. Peristiwa ini tidak hanya mengetuk nurani kemanusiaan, tetapi juga mengingatkan bahwa pembangunan termasuk memasuki Tahun Anggaran 2026 memerlukan fondasi moral, kedisiplinan, dan kesiapan batin. Di sinilah Spirit Bulan Syaban menemukan relevansinya.
Para ulama menyebut Syaban sebagai bulan menyiram dan merawat amal yang telah ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi musim panen iman. Spirit ini sejajar dengan kebutuhan masyarakat Jawa Barat hari ini: menata ulang niat, memperbaiki adab, dan meneguhkan ikhtiar, terutama di tengah krisis dan masa transisi kebijakan, pendidikan, serta anggaran.
Dalam khazanah pendidikan Islam klasik, Imam Az-Zarnuji melalui kitab Ta’limul Muta’allim menawarkan peta jalan sukses yang tidak semata material, melainkan keberkahan ilmu dan kematangan kepribadian. Konsep ini relevan bagi siswa, mahasiswa, pendidik, birokrat, dan masyarakat luas yang memasuki Semester Genap 2025/2026 serta Tahun Anggaran 2026.
Pertama, niat yang benar sebagai fondasi sukses; Az-Zarnuji menegaskan bahwa belajar harus diniatkan mencari ridha Allah, menghilangkan kebodohan, dan memberi manfaat. Al-Quran mengingatkan, Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (QS. Al-Bayyinah: 5). Dalam teori modern, goal orientation menekankan bahwa tujuan intrinsik melahirkan ketahanan belajar dan etos kerja jangka panjang.
Kedua, adab sebelum ilmu; Menghormati guru, ilmu, dan sumber pengetahuan adalah syarat keberkahan. Dalam konteks kebencanaan Cisarua, adab juga bermakna etika kolektif: saling menolong, tidak menyebar hoaks, dan menjaga martabat korban. Nabi bersabda, Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang muda. Pendidikan karakter (Lickona) menempatkan respek sebagai inti pembelajaran bermakna.
Ketiga, sikap wara dan integritas diri; Menjauhi hal syubhat menjaga kejernihan hati dan kepercayaan publik. Pada era pengelolaan anggaran dan kebijakan 2026, prinsip ini relevan untuk mencegah penyimpangan. Al-Quran menegaskan, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa (QS. At-Taubah: 4).
Keempat, kesungguhan (jiddun) dan ketekunan; Sukses tidak instan. Az-Zarnuji menekankan konsistensi usaha. Ini sejalan dengan teori grit (Angela Duckworth) yang menyatakan bahwa ketekunan lebih menentukan keberhasilan daripada bakat semata. Spirit Syaban mengajarkan disiplin proses merawat ikhtiar sebelum panen.
Kelima, manajemen waktu dan lingkungan pergaulan; Memilih teman yang jujur dan memanfaatkan waktu produktif adalah strategi klasik yang tetap relevan. Hadis menegaskan, Seseorang tergantung agama temannya. Dalam dunia pendidikan Jawa Barat, iklim sekolah, kampus, dan birokrasi yang sehat menentukan mutu hasil.
Keenam, prioritas ilmu yang fardhu ain; Az-Zarnuji mengingatkan pentingnya mendahulukan ilmu tauhid dan syariat sebelum ilmu lainnya. Ini membentuk kompas moral agar kemajuan teknologi, pembangunan, dan kebijakan tetap berorientasi pada kemaslahatan.
Spirit Syaban mengajak kita merawat niat dan adab sebagai investasi sosial-spiritual. Dari Cisarua yang berduka hingga ruang kelas dan kantor pemerintahan di Jawa Barat, sukses 2026 bukan sekadar capaian angka, melainkan keberkahan proses. Inilah pelajaran Az-Zarnuji: ilmu yang disiram dengan adab dan niat akan berbuah manfaat di dunia dan akhirat. Wallahu Alam.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung