Spirit Santri, Cahaya Abadi

Santri Ponpes Nurul Hidayah, Andong, Boyolali mengaji di alam terbuka dengan penerangan lampu sentir, Jumat (22/4/2022). Foto: Jarmaji/detikJateng

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2025, KBNU Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dengan bangga mempersembahkan rangkaian kegiatan bertajuk Semarak Hari Santri 2025. Sebuah momentum reflektif sekaligus inspiratif bagi seluruh civitas akademika dan masyarakat pesantren.

Melalui semangat kemandirian, keilmuan, dan kebangsaan, para santri terus berkontribusi dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin serta turut serta dalam membangun peradaban dunia yang berkeadilan dan berkemajuan.

Semarak Hari Santri 2025 yang diselenggarakan malam hari ini atas kerjasama antara UIN, Kanwil dan KBNU. Rangkaian kegiatan ini terdiri dari Lomba Qiraatul Kutub, Lomba Debat, Lomba Essay, Lomba Bisnis Plan dan Expo UMKM Pesantren. Kegiatan ini diikuti oleh organisasi extra UIN, alumni pesantren dan ormas-ormas lainnya.

Memaknai Santri

Hari santri bagi kita semua adalah hari yang bersejarah, hari miliknya umat Islam Indonesia. Santri, bagi kita, bukan hanya identitas. Ia adalah napas kehidupan. Cara berpikir, cara bersikap, cara mencintai ilmu.

Santri belajar dari kitab, tapi juga dari kehidupan. Ia tumbuh dalam disiplin dan keikhlasan. Pesantren pun bukan hanya tempat mengaji, tapi ruang panjang untuk menempa jiwa dan nalar. Tempat di mana manusia belajar menjadi manusia seutuhnya, yang beriman, berilmu, dan mengambil peran penting dalam kehidupan.

Beberapa waktu terakhir, dunia pesantren kembali jadi sorotan. Kita semua berduka saat mendengar kabar runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo. Tragedi itu menampar kesadaran kita bahwa keselamatan di pesantren bukan hal sepele.

Menjaga Marwah Pesantren

Di sisi lain, muncul pula isu-isu di media yang menggambarkan kehidupan santri secara tidak utuh, bahkan kadang tidak adil, hingga muncul tagar #BoikotTrans7. Dan hal sederhana seperti santri ikut membantu pembangunan pesantren pun bisa menjadi bahan perdebatan. Lihat, betapa pesantren kini berada di simpang jalan: antara menjaga nilai dan menyesuaikan diri denga zaman.

Sebagai bagian dari santri dan pesantren, kita punya dua hal besar yang harus digenggam, yakni tanggung jawab dan peluang. Tanggung jawab untuk menjaga martabat pesantren, memastikan narasi tentang santri tidak salah arah, dan menunjukkan wajah Islam yang teduh. Tapi juga peluang, untuk bergerak, berkolaborasi dan berinovasi.

Santri adalah spirit belajar tanpa henti, mengabdi tanpa pamrih, dan terus membawa cahaya ilmu ke mana pun kita melangkah. Semoga Allah SWT menjaga langkah kita, memberi kekuatan untuk mempertahankan marwah pesantren, dan menjadikan kita semua bagian dari cahaya yang menerangi masa depan bangsa.

Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag., Ketua KBNU UIN SGD Bandung dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *