Sinergi Agama dan Budaya, Rektor UIN Bandung Apresiasi Penganugerahan Gelar Adat Kesultanan Buton kepada Menag RI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Laode Nasaruddin Umar, M.A., menerima anugerah gelar adat kehormatan “Mia Ogena Yi Syara Agama” yang bermakna Pribadi Utama Penopang Sendi Agama. Gelar ini dianugerahkan oleh Sultan Buton ke-41 melalui Lembaga Adat Kesultanan Buton, Sulawesi Tenggara, Kamis (08/01/2026).

Penganugerahan gelar adat ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi Kesultanan Buton kepada tokoh nasional yang dinilai memiliki dedikasi, integritas, serta kontribusi nyata dalam menjaga harmoni kehidupan beragama dan kebangsaan di Indonesia.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas penganugerahan tersebut. Menurutnya, anugerah gelar adat ini mencerminkan kuatnya sinergi antara nilai-nilai keagamaan dan kearifan budaya lokal dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia.

“Selamat! Penganugerahan gelar adat ini menjadi penegasan bahwa kepemimpinan Menteri Agama RI tidak hanya berorientasi pada aspek normatif keagamaan, juga pada penguatan moderasi beragama yang berakar pada budaya dan kearifan lokal,” tegasnya.

Menurutnya gelar adat “Mia Ogena Yi Syara Agama” sangat tepat disematkan kepada Prof. Dr. KH. Laode Nasaruddin Umar, M.A., karena mencerminkan sosok pemimpin agama yang mampu menjadi penopang nilai-nilai moral, menjaga keseimbangan, serta merawat toleransi dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Dengan adanya penganugerahan gelar adat ini menjadi simbol kuat perjumpaan antara agama, budaya, dan negara dalam semangat moderasi beragama, sekaligus menegaskan pentingnya peran tokoh agama dalam merawat keberagaman dan memperkokoh persatuan bangsa.

Kapitalau Aukanoyo Kesultanan Buton, La Ode Hasmin Ilimi dalam prosesi penganugerahan di Baruga Keraton Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara menjelaskan “Mia Ogena bermakna orang besar atau pembesar negeri, sedangkan I Sara Agama bermakna urusan pemerintahan di bidang keagamaan. Dengan demikian, Mia Ogena I Sara Agama dimaknai sebagai pembesar negeri yang mengemban dan memimpin urusan pemerintahan di bidang keagamaan,” jelasnya.

Seorang Mia Ogena dituntut memiliki sifat tabligh, siddiq, fathanah, dan amanah, serta menjadikan seluruh gerak langkah, ucapan, dan perilakunya sebagai wujud pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara, dengan menjunjung tinggi ketaatan kepada Allah, kecintaan kepada Rasul-Nya, dan kebanggaan terhadap agama yang dianut.

Prosesi penganugerahan disaksikan oleh Sultan Buton La Ode Muhamad Kariu, Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, Wali Kota Baubau Yusran Fahim, Bupati Buton Selatan Muhammad Adios, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Tenggara Mansur, serta Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Baubau Khairiyati Rahmah.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan rasa haru dan kerendahan hati atas penganugerahan gelar adat tersebut. “Dalam hati saya bertanya, apakah saya pantas menerima gelar yang begitu besar dan berat ini. Secara pribadi, saya merasa mungkin bukan orang yang paling pantas. Namun saya memahami bahwa ini adalah bentuk harapan dan ekspektasi dari Yang Mulia Paduka Sultan dan masyarakat Buton,” ujar Menag.

“Semoga amanah ini menjadi motivasi bagi saya untuk berbuat lebih baik lagi, khususnya bagi umat Islam. Saya meyakini bahwa semakin berat beban amanah yang diberikan kepada seseorang, jika dijalankan dengan tulus dan ikhlas, insyaallah doa-doanya akan semakin mudah diterima oleh Allah SWT,” pungkasnya.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *