Antara Langit, Rasa, dan Seni Tradisi
—
UINSGD.AC.ID (Humas) — Di Cileunyi Kulon, fajar tidak datang dengan kesunyian, melainkan melalui sebuah orkestra suara yang berkelindan tepat di jam dua pagi. Di titik ini, wilayah yang menjadi gerbang pertemuan antara tradisi agraris dan geliat urban menunjukkan wajah aslinya sebagai lokus multitradisi yang cair.
Kesadaran warga tidak disentak bangun secara paksa, melainkan dituntun melalui tiga lapisan bunyi yang masing-masing membawa beban sejarah sosial dan intelektualnya sendiri.
Keheningan dini hari biasanya pertama kali dipecah oleh gema Tarhim berbahasa Arab dari menara-menara masjid. Suara ini muncul sebagai narasi langit yang otoritatif, sebuah jangkar intelektual yang mematri identitas Cileunyi sebagai basis pesantren yang kuat. Di jam dua pagi yang dingin, lantunan syahdu itu membubung:
”Ash-shalâtu was-salâmu ‘alayk, yâ imâmal mujâhidîn, yâ Rasûlallâh…”
Bait-bait pujian kepada Rasulullah ini berfungsi sebagai pengingat syariat; ia adalah panggilan formal yang menjaga ritme ibadah tetap pada jalurnya, menghubungkan masyarakat lokal dengan tradisi Islam global yang luhur.
Lantunan ayat-ayat nasihat dalam bahasa ibu ini mengalir lebih personal, seperti bisikan seorang ibu kepada anaknya. Secara sejarah sosial, pupujian ini adalah bukti jeniusnya para ulama Cileunyi terdahulu dalam melakukan internalisasi nilai-nilai Islam.
Di sela tarikan napas sahur, biasanya terdengar rima klasik yang menggetarkan batin:
”Éling-éling umat, muslimin muslimat,
Hayu urang Saur berjamaah, saméméh ajal datang numpas…”
Lirik ini mengubah doktrin yang kaku menjadi rima puitis yang familiar, membuat transisi dari tidur menuju bangun menjadi sebuah momen kontemplatif yang sangat “nyunda”.
Anak-anak dan remaja yang membawa instrumen seni helaran ini mengubah jalanan menjadi panggung sosial yang dinamis. Reak yang secara historis berakar pada ritual agraris pasca-panen, kini dialihfungsikan menjadi alarm komunal yang energetik untuk membangunkan warga untuk sahur.
Kehadirannya menunjukkan bahwa di Cileunyi, ekspresi religius bisa bersanding mesra dengan kegembiraan rakyat; bahwa kesalehan tidak selalu harus sunyi, tapi bisa dirayakan dengan tabuhan yang membangkitkan semangat kebersamaan. Ketiganya melebur menjadi satu narasi utuh: Tarhim sebagai kompas spiritual, Pupujian sebagai sentuhan batin, dan Reak sebagai detak nadi sosial.
Itulah harmoni jam dua pagi di Cileunyi Kulon—sebuah simfoni yang membuktikan bahwa identitas Muslim di sini dibangun di atas landasan intelektual yang kokoh, rasa budaya yang dalam, dan solidaritas jalanan yang tak kunjung padam.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung