Siapkan Masa Depan Anak, FTK UIN Bandung Peringati HAN 2025: dari Karnaval hingga Webinar

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2025, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung bersama Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Laboratorium Sunan Gunung Djati menggelar Festival Tarbiyah rangkaian kegiatan meriah berupa karnaval, perlombaan, dan webinar nasional pada Kamis (24/7/2025).

Mengusung tema nasional “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”, peringatan HAN tahun ini menjadi momentum penting dalam menyuarakan pentingnya menyiapkan masa depan anak secara holistik.

Kegiatan ini melibatkan dosen, mahasiswa, siswa RA dan MI se-Kota Bandung, para pejabat struktural FTK, serta orang tua murid. Atmosfer acara berlangsung semarak dan penuh semangat kolaboratif.

Panggung Ekspresi dan Pembelajaran Nyata

Acara ini menjadi wadah ekspresi anak-anak sekaligus media pembelajaran nyata bagi mahasiswa kependidikan dalam merespons perubahan orientasi pendidikan anak di masa depan. Festival Tarbiyah dibuka secara resmi oleh Dekan FTK, Dr. H. Fakry Hamdany, M.Hum., M.Res., Ph.D., yang menegaskan bahwa tanggung jawab mempersiapkan masa depan anak bukan hanya di tangan lembaga pendidikan, tetapi juga harus melibatkan seluruh elemen bangsa.

“Keresahaan kita hari ini terhadap masa depan anak khususnya dalam rangka menyongsong Indonesia emas bukan hanya dalam penguasaan ilmu dan teknologi tetapi juga sikap, mental dan moral mereka dalam membangun bangsa, negara dan agama yang tantangannnya jauh lebih dinamis, komplek dan ambigu.,” tegasnya.

Ketua Forum Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan se-Indonesia ini mengingatkan bahwa guru sebagai aktor utama dalam pendidikan harus melampaui sekadar kecakapan akademik. Guru harus menjadi figur inspiratif yang mampu menyentuh hati murid dengan kasih sayang dan komunikasi yang santun.

“Guru harus dibekali dan membekali diri dengan kemampuan berkomunikasi yang santun terhadap murid, mampu menyentuh hati terdalam sang murid, menjadi figur yang selalu dirindukan murid, dan pemberi semangat yang tak kenal lelah agar murid mau terus belajar. Anak-anak hebat lahir dari guru yang penuh cinta dan kasih sayang serta rahmat Allah sebagai Sang Pencipta,” bebernya.

Karnaval Profesi, Lomba Kreatif
Rangkaian Festival Tarbiyah dimulai dengan karnaval yang melibatkan siswa sekolah dasar se-Kota Bandung. Anak-anak tampil mengenakan kostum beragam profesi seperti dokter, guru, polisi, pilot, pengusaha, hingga atlet. Pawai ini menjadi simbol dukungan terhadap kebebasan anak dalam bermimpi dan merancang masa depan mereka sendiri.

Usai karnaval, berbagai perlombaan digelar. Anak-anak RA/TK mengikuti lomba mewarnai, siswa SD/MI menampilkan bakat mereka dalam lomba fashion show, dan mahasiswa/i pendidikan ikut serta dalam lomba storytelling. Semua cabang lomba dirancang sebagai wahana pengembangan kreativitas dan kepercayaan diri anak di tengah persaingan global yang kian kompetitif.

Webinar Nasional: Menyiapkan Guru Hebat

Untuk meningkatkan khazanah pendidikan Islam digelar webinar nasional bertajuk “Menyiapkan Pendidik Lebih Hebat untuk Anak Hebat Indonesia” dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Totok Bintoro, M.Pd., Kepala Badan Pengelola Sekolah Labschool UNJ.

Mengutip tokoh pendidikan Daoed Joesoep, Prof. Totok menyampaikan bahwa bangsa yang memuliakan guru adalah bangsa yang maju. Menurutnya, pendidikan guru harus mampu menanamkan panggilan jiwa dan kecintaan terhadap murid secara kurikuler, bukan sekadar transfer keilmuan.

Pendidikan guru semacam Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Pendidikan lainnya dapat membekali kualifikasi dan kompetensi calon guru. Namun pembeda guru berkualitas dengan yang tidak berkualitas bukan hanya itu. “Passion atau panggilan jiwa atau kecintaan yang tulus terhadap murid harus secara kurikuler ditumbuhkan, dipupuk dan dilatih di Lembaga Pendidikan penghasil guru,” jelasnya.

Guru adalah profesi mulia, barangsiapa melecehkan guru, alamat bangsa itu sedang goyah. Di sini guru harus percaya diri dengan kemuliaan profesinya. Penting bagi guru menciptakan relasi emosional yang mendalam antara guru dengan peserta didik sebagai kunci mencapai kebermaknaan dan keberhasilan pembelajaran.

“Guru bukan hanya pengajar, tapi juga figur yang mampu menginspirasi muridnya. Ketika guru bisa menyentuh hati muridnya, mereka akan datang ke sekolah dengan sukacita. Bahkan saat libur pun, mereka akan merindukan kelas dan ingin kembali belajar. Letak kekuatan guru bukan hanya kepandaiannya tapi juga keteladanannya.”

Dalam laporannya, Yayan Carlian, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada 4 dosen, 22 mahasiswa, dan 28 guru MI yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan ini. Perlombaan yang digelar bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk saling menghargai kelebihan satu sama lain. “Berbagai lomba diselenggarakan tidak ditujukan untuk saling mematikan dan membunuh tetapi bertujuan saling menghargai segala kelebihan yang dimiliki orang lain. Karena itu sikap sportif menjadi syarat mutlak dalam mengikuti lomba ini,” ujarnya.

Rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 ditutup secara resmi oleh Wakil Dekan I FTK, Dr. Irawan, S.Pd., M.Hum., yang menyampaikan pesan inspiratif. “Anak memiliki dunianya sendiri. Tugas kita sebagai orang dewasa bukan membentuknya sesuai keinginan kita, tapi menyiapkan proses tumbuhnya,” pungkasnya.

Peringatan Hari Anak Nasional di FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi bukti nyata komitmen institusi dalam mencetak generasi masa depan yang tangguh, kreatif, dan bermartabat menuju Indonesia Emas 2045.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *