Shalawat Ibrahimiyah dan Hakikat Muhammadiyah

Ilustrasi mencintai sosok Nabi Muhammad SAW / foto NU Online

UINSGD.AC.ID (Humas) — Salah satu media nasional pernah merilis berita pada tanggal 2 April 2025 bahwa jumlah umat Islam di dunia berdasar data yang dihimpun Timesprayer.com sebanyak 2.043.430.516 orang atau setara seperempat dari penduduk planet bumi yang berjumlah 8.173.722.066 orang.

Data ini menunjukkan bahwa lebih dari dua milyar penduduk bumi ini pernah menyebut dua nama manusia mulia, yaitu Ibrahim As. dan Muhammad Saw. Fakta ini tidak dapat dibantah bahwa kedua nama tersebut paling banyak disebut dengan jumlah follower, like, and share cukup fantastis walaupun tanpa sosmed.

Diantara penyebab sahih dari popularitas kedua sosok tersebut yaitu pertama, secara syariat dalam berbagai kitab fiqih ditemukan bahwa seorang muslim saat melaksanakan shalat harus menyebut dua nama tersebut dalam tahiyat melalui bacaan shalawat.

Aam Amirudin dalam bukunya, Sudah benarkah Shalatku? menyampaikan riwayat hadits Imam Bukhari bahwa Ka’ab bin Ujrah pernah bertanya kepada Rasulullah.

“Ya, Rasulullah, bagaimana cara aku bershalawat kepadamu dan keluargamu?” Nabi Saw menjawab:” Katakanlah: Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim innaka hamidummajid wa barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim innaka hamidummajid. 

Artinya: “Ya Allah, berilah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji dan Maha Agung dan berilah barokah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi barokah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji dan Maha Agung”.

Kedua, dalam sejarah disebutkan bahwa Nabi Ibrahim As dan Nabi Muhammad Saw merupakan dua sosok penting yang mendakwahkan sistem keyakinan menyembah hanya pada satu Tuhan (monoteistik). Pendirian kabah sebagai simbol monoteisme oleh Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As pada tahun 1500 SM mengalami penyimpangan ajaran (distorsi), hingga akhirnya kebanyakan manusia kembali menyembah kepada selain Allah. Lalu pada 21 April 571 Masehi bertepatan dengan 12 Rabiul Awal Nabi Muhammad Saw lahir dan mereformasi keyakinan manusia untuk menyembah hanya kepada Allah SWT.

Ketiga, secara psiko sosial para pengikut ajaran Nabi Muhammad Saw memiliki rasa cinta yang mendalam kepada Nabi nya. Ekspresi cintanya beragam, ada yang menulis biografi, sya’ir dan shalawat. Imam Tirmidzi yang lahir tahun 824 masehi menulis buku As-Syama’il Muhammadiyah (Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad Saw). Ada pula sosok Syekh Ja’far Al-Barjanzi, lahir di Madinah pada tahun 1716 masehi setelah dewasa menjadi ulama dan menulis kitab Al-Barjanzi.

Syekh Al-Barjanzi menulis untaian sejarah, silsilah, kisah, dan berbagai pujian melalui shalawat atas keagungan akhlak Rasulullah Saw, diantaranya ada untai bait: Wa lamma aradallahu ta’ala ibroza haqiqatihil Muhammadiyah. Artinya: “Tatkala Allah Ta’ala hendak menampakkan hakekat kecemerlangan Nabi Muhammad Saw”. Kemudian proses penciptaan dan kelahiran Nabi Muhammad Saw hingga kalimat: Wa kharratil asirratu wal ashnamu ‘ala wujuhi wal afwaah. Artinya: “Singgasana-singgasana terguling dan berhala-berhala pun tersungkur”.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad kama shollaita ‘ala sayyidina Ibrahim wa ‘ala ali sayyidina Ibrahim fil ‘alamina innaka hamidummajiid. Wallahu a’lam

 

 

Rohmanur Aziz, Pembimbing Tahliyah Tours & Travel, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *