UINSGD.AC.ID (Humas) — Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dede Dendi, M.Sos., dipercaya menjadi dai di Jerman dalam program Nahdlatul Ulama Worldwide Dakwah tahun 2026.
Dosen yang akrab disapa Kang Deban ini dikenal luas sebagai Juara 1 Aksi Indosiar 2025 dan kini melangkah ke panggung dakwah internasional pada Ramadan 1447 H/2026 M yang melaksanakan dakwah di Jerman mulai 22 Februari sampai 22 Maret 2026.
Keberangkatan Dede Dendi merupakan bagian dari program yang diselenggarakan Lembaga Dakwah (LD) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Program ini secara resmi melepas 24 dai untuk bertugas di delapan negara melalui seremoni daring pada Ahad (15/2/2026).
Pelepasan tersebut dihadiri jajaran pengurus PBNU, di antaranya Wakil Ketua Umum PBNU Dr. KH. Zulfa Mustafa dan Ketua LD PBNU Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin.
Para dai yang diberangkatkan akan menjalankan misi dakwah di Australia, Selandia Baru, Hong Kong, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Taiwan, dan Timor Leste. Tahun 2026 menandai tahun keempat pelaksanaan program ini yang dinilai telah memberi dampak signifikan dalam penguatan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di komunitas Muslim mancanegara.
Dalam sambutannya Ketua LD PBNU Abdullah Syamsul Arifin menegaskan bahwa dakwah tidak cukup hanya berupa ceramah semata.
“Khidmah kepada umat tidak cukup diwujudkan melalui qauli saja, tetapi harus hadir dalam gerakan nyata yang menyentuh kebutuhan umat,” ujarnya.
Dakwah yang berorientasi pada pelayanan akan melahirkan hayatan thayyibah sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nahl ayat 97.
Menurutnya, pengiriman dai ke luar negeri merupakan langkah strategis untuk menyebarluaskan nilai-nilai Aswaja an-Nahdliyah, khususnya bagi warga Nahdliyin di perantauan. Dengan menekankan pentingnya pendekatan yang kontekstual dan adaptif terhadap budaya setempat agar dakwah mampu menjawab tantangan sosial masyarakat global.
“Di pundak para dai ada tanggung jawab besar. Pesan Islam harus disampaikan dengan bahasa yang menyejukkan dan menenteramkan, sehingga menjadi solusi atas problem keumatan,” tegasnya.
Wakil Ketua Umum PBNU Zulfa Mustafa juga mengingatkan bahwa para dai yang diberangkatkan membawa nama besar organisasi dan bangsa. “Mereka adalah duta Nahdlatul Ulama sekaligus duta Indonesia,” jelasnya.
Zulfa menekankan pentingnya memahami perbedaan antara aspek ushul yang bersifat prinsipil dan furu’ yang membuka ruang perbedaan, “Semua ini agar dakwah tetap proporsional dan tidak kaku dalam menghadapi dinamika keberagamaan di luar negeri,” bebernya.
Dede Dendi menyampaikan bahwa dirinya merasa sangat bahagia dan bersyukur atas kepercayaan yang diberikan untuk mengemban amanah sebagai dai global di Jerman.
“Saya bahagia dan bersyukur diberi kepercayaan menjadi dai global. Ini amanah besar. Mohon doa agar saya bisa menjalankan tugas dakwah di Jerman dengan sejuk, moderat, dan bermanfaat bagi komunitas Muslim di sana,” ujar Dede Dendi, Sabtu (28/2/2026).
Secara khusus, penugasan Dede Dendi ke Jerman menjadi kebanggaan bagi civitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prof. Dr. H. Enjang AS, M.Ag., M.Si menyampaikan apresiasinya atas kiprah global tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada salah satu dosen kami untuk berdakwah di tingkat internasional. Ini menunjukkan bahwa kualitas akademik dan kompetensi dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi diakui secara luas,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Prodi KPI Dr. H. Uwes Fatoni, M.Ag yang menyatakan rasa bangganya atas capaian tersebut. Menurutnya, kehadiran dosen KPI di panggung dakwah global menjadi bukti bahwa kompetensi komunikasi Islam yang dikembangkan di kampus mampu menjawab kebutuhan umat lintas negara. “Dengan berharap pengalaman tersebut dapat memperkaya atmosfer akademik dan menginspirasi mahasiswa untuk berani mengambil peran di tingkat internasional,” pungkasnya.
Inilah nama-nama Dai Go Global Nahdlatul Ulama Worldwide Dakwah; Australia (Muhammad Afif Agus), Selandia Baru (Muhammad Kholid), Hong Kong (Ahmad Muhajir, Muhammad Kholil), Jepang (Mohammad Khoiron, Saiful Amar),
Jerman (Dede Dendi), Timor Leste (Abdul Fattah Fahruddin), Korea Selatan (Ahmad Giyamul Lail, Acep Sutisna, Anif Khanafi, Basyir Arif, Mahfud Ali Baihaki, Mahmud Salim, Mochammad Ibnu Rusyd Alfarabi, Muhammad Hidayat, Ridwan Bahruddin, Tarekh Era El-Raisy), Taiwan (Mochamat Solikin, Muhammad Ibnu Kafa, Muhammad Taqiyudin, Muhammad Zainut Thalibin, Rifki Yusak, Ricky Habibullah).
Melalui program ini, PBNU berharap dakwah Islam moderat khas Indonesia semakin menguat di tingkat global dan mampu menghadirkan nilai-nilai keislaman yang damai, inklusif, dan solutif bagi masyarakat internasional.
