UINSGD.AC.ID (Humas) — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Media Sosial, Gen Z, dan Moderasi Beragama” yang berlangsung di Aula Utama FISIP, Selasa (2/12/2025).
Kegiatan ini menjadi forum akademik strategis dalam merespons tantangan keberagamaan generasi muda di tengah arus besar transformasi digital.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FISIP, Prof. Ahmad Ali Nurdin, M.A., Ph.D, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa media sosial saat ini tidak lagi sekadar ruang hiburan dan komunikasi, melainkan telah menjadi ruang pembentukan cara pandang, sikap keberagamaan, dan identitas generasi muda. “Pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun literasi digital dan nalar keagamaan yang moderat sebagai benteng terhadap ekstremisme, intoleransi, dan disinformasi,” tegasnya.
Kegiatan dipandu oleh Asep Muhamad Iqbal, M.A., Ph.D sebagai moderator. Dalam pengantar diskusi, moderator menekankan bahwa tema seminar ini penting karena menyentuh tiga ruang kunci kehidupan generasi muda: teknologi, identitas, dan keberagamaan. Melalui forum ini, peserta diajak memahami bahwa persoalan keberagamaan di era digital tidak hanya menyangkut aspek teologis, tetapi menyentuh budaya, politik, dan literasi digital.
Narasumber utama, Muhammad Adib Abdushomad, Ph.D (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama [PKUB], Setjen Kementerian Agama RI) memaparkan bahwa generasi muda saat ini berada dalam intensitas digital yang sangat tinggi. Rata-rata waktu penggunaan internet mencapai lebih dari tujuh jam sehari, sementara penggunaan media sosial menempati porsi lebih dari tiga jam per hari. “Generasi Z bahkan menghabiskan sekitar enam hingga delapan jam per hari dengan gawai, menjadikan ruang digital sebagai bagian utama dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurutnya media sosial kini telah berubah menjadi domain publik baru tempat ekspresi nilai, kepercayaan, dan identitas dibentuk. Namun, ruang ini justru memunculkan kerentanan baru, “terutama ketika generasi muda terpapar konten ekstrem, intoleran, atau provokatif tanpa dibekali kemampuan literasi digital dan nalar kritis yang memadai,” bebernya.
Adib menyoroti meningkatnya kerentanan radikalisasi berbasis daring, khususnya pada kelompok usia 11–26 tahun. Beredarnya ribuan konten intoleran dan ekstrem di media sosial, serta kecenderungan generasi muda memperoleh pemahaman keagamaan dari platform digital, menjadi tantangan serius bagi pembangunan kerukunan sosial.
Kombinasi tingginya intensitas bermedia sosial dan lemahnya literasi digital serta keagamaan memperbesar peluang paparan terhadap konten populis, hitam-putih, dan eksklusif. Dengan menekankan prinsip penting dalam bermedia sosial, yaitu saring sebelum sharing. “Setiap informasi yang diterima di ruang digital harus diverifikasi terlebih dahulu sebelum disebarkan, agar tidak menjadi bagian dari rantai hoaks, ujaran kebencian, maupun provokasi keagamaan,” ajaknya.
Dalam konteks penguatan moderasi beragama, PKUB Kementerian Agama RI menjalankan berbagai inisiatif kontra-narasi digital, seperti program Podcast Dialog Kerukunan dan Religion Class yang mengangkat diskursus lintas iman dengan pendekatan kreatif. “Pelibatan tokoh lintas agama, influencer, perempuan, dan generasi muda menjadi strategi penting dalam memperluas pesan toleransi di ruang digital,” paparnya.
Adib menegaskan bahwa upaya membangun kerukunan tidak cukup melalui regulasi semata, tetapi memerlukan pendekatan kultural, naratif, dan edukatif. Strategi PKUB dikembangkan melalui rekayasa narasi positif, penguatan jejaring mitra strategis, serta pendekatan budaya yang menyentuh sisi logika, emosional, dan gaya hidup masyarakat.
Di akhir paparannya, Adib menyampaikan pesan reflektif bahwa secanggih apa pun teknologi, termasuk kecerdasan buatan, manusia tetap memiliki peran sentral melalui akal sehat, critical thinking, dan hati nurani. “Ketiganya menjadi fondasi utama dalam memfilter ego, emosi, dan bias informasi demi menjaga kerukunan dan kedamaian di ruang digital,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, FISIP UIN Bandung menegaskan komitmennya sebagai ruang akademik yang aktif mendorong tumbuhnya masyarakat digital yang toleran, reflektif, dan berkeadaban. Seminar ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dunia kampus dalam penguatan moderasi beragama berbasis literasi digital di kalangan generasi muda. (M. Ridho/Kontributor)