Sangat Tinggi! Indeks Keberagamaan Mahasiswa PTKI 88,40

UINSGD.AC.ID (Humas) — Kemenag hari ini merilis indeks keberagamaan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) 2025. Hasil survei menemukan bahwa indeks keberagamaan mahasiswa PTKI masuk kategori sangat tinggi, pada angka 88,40.

Survei Indeks Keberagamaan Mahasiswa PTKI digelar Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Pustrajak Penda) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kemenag bekerja sama dengan Alvara Research Center.

Survei Indeks Keberagamaan Mahasiswa PTKI dilakukan dengan metode tatap muka yang dilakukan tim riset Alvara Research Center pada rentang waktu 26 Juni – 10 Juli 2025. Ada 1.200 responden berusia mulai 17 hingga 25 tahun yang seimbang antara pria dan wanita, dan tersebar di 29 Provinsi di Indonesia. Mereka dilibatkan dan dipilih dengan metode multistage random sampling.

Peneliti Alvara Research Center Lilik Purwandi mengatakan, ada sejumlah dimensi yang dipotret dalam survei ini, antara lain: dimensi ideologis atau akidah dan dimensi ritual atau ibadah. Hasil survei menunjukkan indeks dimensi ideologis mencapai 94,09, sementara indeks dimensi ritual atau ibadah 82,88.

Hasil survei menunjukkan bahwa mahasiswa PTKI memiliki tingkat keberagamaan yang kuat, konsisten, dan seimbang antara pemahaman intelektual, spiritualitas, serta perilaku sosial. Faktor lingkungan sosial dan keluarga disebut sebagai dua aspek paling berpengaruh terhadap pembentukan keberagamaan mahasiswa.

Hasil pengukuran ini, kata Lilik, menjadi indikator positif tentang keberagamaan mahasiswa PTKI secara nasional yang berada pada kategori sangat tinggi, yakni dengan indeks 88,40. “Ini menunjukkan bahwa para mahasiswa kita tidak hanya memahami agama secara intelektual, tetapi juga mengamalkannya dalam perilaku dan etika sosial yang baik,” jelas Lilik saat Seminar Indeks Keberagamaan Mahasiswa di Tanah Abang, Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Peta Keberagaman

Kepala BMBPSDM Kemenag RI M Ali Ramdhani mengatakan, survei dilakukan dalam rangka pemetaan keberagamaan generasi muda, terutama mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Menurutnya, hasil riset dan indeks yang terukur akan menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan pembinaan keagamaan di lingkungan pendidikan.

“Kita ingin kebijakan yang lahir bukan hanya berdasarkan asumsi, tetapi bertumpu pada data yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Kaban Dhani, sapaan akrabnya, melalui Zoom Meeting dari arena AICIS di kampus UIII.

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini mengatakan bahwa indeks keberagamaan ini menjadi cermin bagi kita untuk memastikan bahwa proses pendidikan agama benar-benar menumbuhkan karakter beriman, berakhlak, dan moderat di kalangan siswa dan mahasiswa.

“Semoga seminar ini menjadi tonggak penyemangat untuk memperindah wajah pendidikan agama di Indonesia,” harapnya.

Kepala Pustrajak Penda BMBPSDM Kemenag RI Rohmat Mulyana Sapdi, sebelumnya dalam laporan menegaskan bahwa penyusunan indeks ini merupakan tindak lanjut dari mandat strategis BMBPSDM dalam membangun ekosistem kebijakan berbasis data di bidang pendidikan agama.

“Melalui seminar ini, kita tidak hanya mendiskusikan hasil, tetapi juga memastikan bagaimana data tersebut bisa menjadi panduan dalam merancang intervensi kebijakan yang lebih tepat sasaran,” ungkap Rohmat.

“Kita ingin agar pendidikan agama tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir dalam sikap, perilaku, dan keseharian peserta didik,” sambung Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini.

Seminar hasil survei ini dihadiri 40 peserta terdiri dari peneliti BRIN, akademisi, dan perwakilan dari Direktorat Pendidikan Ditjen Bimas semua agama. Diskusi dan sesi tanya jawab diharapkan menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat strategi pembinaan dan pengembangan karakter keagamaan generasi muda Indonesia.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *