Sana’i dan Harapan Perubahan Jiwa Manusia

Muslimah Berdoa di Masjid (Foto: Shutterstock.com)
Muslimah Berdoa di Masjid (Foto: Shutterstock.com)

Tahun bersalin tahun, batu-batu keras. Kini telah tersepuh cahaya matahari. Semoga kelak sangguplah batu-batu ini menjadi permata nilam ataupun akik Yaman” [Hakim Sana’i]

UINSGD.AC.ID (Humas) — Rasanya, pernyataan Hakim Sana’i ini menyimpan kebijaksanaan yang lahir dari renungan panjang tentang perjalanan waktu dan daya ubah kehidupan. Sana’i berbicara tentang “tahun bersalin tahun”, sebuah ungkapan yang menyingkap irama tak terbendung dari waktu yang terus berganti dan tak berhenti melintas. Waktu itu, tak peduli kita sadari atau tidak, membawa segala sesuatu pada proses perubahan. Bahkan yang paling keras sekalipun, “batu-batu keras”, akhirnya tunduk pada kehadiran cahaya matahari, yang dalam simbolik mistik sering dipahami sebagai nur ilahi, sinar rahmat yang mengalir tanpa henti.

Sepemahaman saya, melalui ungkapan di atas, Sana’i hendak mengingatkan kita bahwa manusia, sesulit dan setertutup apa pun dirinya, tetap berada di bawah pelukan cahaya itu. Ia bisa saja keras seperti batu, dingin, beku, bahkan tak peka. Namun, di bawah cahaya, entah berupa ujian, kesabaran, pengalaman, atau limpahan kasih Tuhan, perlahan-lahan ia tersepuh.

Cahaya itu bukan sekadar menerangi, melainkan juga melembutkan, mengasah, dan mengubah. Apa yang tadinya terlihat sekadar sebagai batu keras, yang boleh jadi tampak tak berharga, bisa beralih menjadi permata nilam yang berkilau atau akik Yaman yang indah.

Saya kira, ada optimisme dan harapan besar yang terselip di sini, bahwa setiap manusia mengandung potensi transendental. Bukan hanya untuk berubah, tetapi untuk dimuliakan melalui perubahan itu. Nilai sejati tidak ditentukan oleh “kekerasan” awalnya, melainkan oleh kesanggupannya membuka diri kepada cahaya. Dalam bahasa sufistik yang saya pernah baca, ini adalah perjalanan jiwa, dari ghaflah (kelalaian) menuju ma’rifah (pengetahuan langsung tentang Tuhan). Dari kegelapan kerasnya ego menuju kilau kejernihan hati.

Sana’i seakan menuntun kita untuk tidak meremehkan perjalanan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Sebab batu pun butuh waktu untuk berubah menjadi permata. Maka, pesan moralnya adalah, jika kita melihat diri penuh keterbatasan, janganlah berputus asa: cahaya terus menyinari, tahun terus bersalin, dan perubahan tetap mungkin terjadi. Begitu pula bila kita menatap orang lain, janganlah terburu menghakimi: mungkin yang kita lihat hanyalah batu, sementara Tuhan sedang memprosesnya menjadi nilam.

Pada akhirnya, ungkapan ini adalah doa yang sekaligus pengingat. Doa agar jiwa kita kelak menjadi permata, dan pengingat bahwa perjalanan itu hanya mungkin bila kita sanggup menampung cahaya. Sebab bukan kerasnya batu yang menentukan, melainkan kesediaannya untuk ditembus dan diproses oleh sang surya. Allahu a’lam. Tabik.

Radea Yuli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *