Saling Memanusiakan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Sesama bukanlah “orang lain”, sebab setiap manusia hadir bukan sebagai objek yang berdiri di seberang, melainkan sebagai “Engkau” (thou), begitu kata Martin Buber. Suatu kehadiran yang hanya dapat dipahami melalui hubungan yang autentik. Maka, sesama adalah cermin tempat kita menemukan diri, bukan entitas asing yang menunggu untuk diukur, dihakimi, atau dipisahkan.

Hubungan sejati terletak pada relasi Aku–Engkau (I-thou), bukan Aku–Itu (I-it). Ketika kita melihat sesama sebagai “Itu”, kita menjadikan mereka sebagai fungsi: alat, angka, peran, atau bayangan dari prasangka kita sendiri. Namun ketika kita berani menemuinya sebagai “Engkau”, kita memasuki ruang perjumpaan, ruang tempat dua jiwa berdiri setara, tanpa kecurigaan, tanpa topeng, dan tanpa jarak batin yang memisahkan.

Sesama bukanlah “orang lain” karena pada dirinya terletak sebagian dari keberadaan kita. Keutuhan manusia tidak mungkin lahir dalam kesendirian, sebab “di dalam hubungan, jiwa tumbuh dan menjadi”. Kita menjumpai kemanusiaan kita justru ketika kita mengakui kemanusiaan orang lain.

Sesama bukanlah “orang lain”, sebab dalam setiap perjumpaan, ada panggilan halus yang mengajak kita memasuki relasi Aku–Engkau, relasi yang membebaskan kita dari kesendirian ontologis dan meneguhkan bahwa keberadaan manusia selalu terjalin dalam jaringan kehadiran yang saling memanusiakan.

 

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *