Salat (Sholat) : Mi‘raj yang Menyembuhkan Manusia Modern

Menutup aurat untuk perempuan saat shalat. (Foto:Freepik)

UINSGD.AC.ID (Humas) — Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan disruptif , sebagian besar manusia semakin sering kehilangan makna dirinya, ketika teknologi mempercepat segala hal, waktu terfragmentasi, pikiran lelah, dan makna hidup sering tergeser oleh target, notifikasi yang mendistraksi, serta tuntutan tanpa jeda. Maka ketenangan menjadi sesuatu yang langka dan mahal. Dalam konteks seperti ini, peristiwa dan sejarah Isra’ Mi‘raj menjadi relevan dan nilai hidup kembali bermakna.

Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peristiwa historis spiritual, melainkan titik balik peradaban. Ketika perintah Salat ( Sholat ) diturunkan, bukan sebagai beban ritual, tetapi sebagai arsitektur kehidupan, sekaligus jawaban langit atas kegelisahan manusia bumi, dari masa lampau hingga saat ini. Salat ( Sholat ) memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki ibadah lain, karena diperintahkan langsung di langit.

Pesannya pun jelas, untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan yang menjadi fondasi utama bagi ketahanan hidup manusia di bumi. Bayangkan ketika relasi vertikal runtuh, maka relasi horizontal pun rapuh tidak hanya untuk diri sendiri, begitu pun dengan sesama, bahkan dengan alam.

Ilustrasi /Foto: freepik

Salat (Sholat) sebagai Jawaban atas Krisis Makna Modern

Dalam kehidupan modern, fenomena kualitas hidup sering kali diukur dari produktivitas, pendapatan, dan pencapaian sejumlah angka-angka matematika, namun banyak manusia yang mengalami kelelahan eksistensial.

Hidup tampak penuh, tetapi terasa kosong. Sosiolog modern seperti Zygmunt Bauman menyebut masyarakat hari ini sebagai liquid society, serba cair, cepat berubah, dan minim pegangan nilai. Manusia modern sering kali memiliki banyak pilihan, tetapi minim orientasi.

Dalam kondisi ini, Salat (Sholat) berfungsi sebagai penanda arah. Lima kali sehari, manusia diingatkan bahwa hidup memiliki pusat, tujuan, dan orientasi transenden. Manusia diajak berhenti sejenak, menyusun ulang orientasi, dan mengingat bahwa hidup bukan hanya soal bergerak cepat, tetapi bergerak dengan benar.

Teori psikologi eksistensial menyebut bahwa banyak gangguan mental modern bukan semata akibat kekurangan materi, melainkan karena loss of meaning. Aktivitas Salat (Sholat) dapat menghadirkan makna yang stabil di tengah dunia yang cair. Bukan semata pelarian dari realitas, tetapi menjadi penopang agar manusia tidak tenggelam dalam absurditas hidup modern.

Ilustrasi sujud/ Foto: NU Online

Gerakan Salat (Sholat) dan Tubuh di Era Sedentari

Dari sudut pandang kesehatan modern, salah satu masalah terbesar abad ini adalah gaya hidup sedentary, yakni duduk terlalu lama, minim gerak, atau bahasa popular lainnya malas gerak (mager) karena ketergantungan pada layar gawai yang menjadi kegiatan sehari hari.

Salat (sholat) menjadi interupsi fisik yang menyehatkan sekaligus menawarkan gerak fungsional alami yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Berdiri, rukuk, sujud, dan duduk bukan sekadar simbol, tetapi rangkaian gerak yang mengaktifkan otot, menjaga fleksibilitas sendi, memperbaiki sirkulasi darah, dan melatih keseimbangan tubuh.

Dalam ilmu biomekanika, gerakan berulang dengan intensitas ringan dan sedang terbukti bermanfaat untuk menjaga kesehatan jangka panjang, terutama bagi kelompok usia dewasa dan lanjut. Salat (sholat) tidak menggantikan olahraga, dan bukan olahraga kompetitif, tetapi melengkapi kebutuhan ritme gerak manusia modern yang bersahabat dengan tubuh yang semakin terkurung ruang digital. Bahkan lebih besar dampak yang dihasilkan, Salat (sholat) berdampak kuat pada kesehatan mental.

Ketika dunia modern menciptakan tekanan psikologis yang kronis dan akut (mental disorder) sehingga melahirkan kecemasan, kelelahan mental, dan kehilangan focus, maka Salat (sholat) ketika dijalankan dengan kesadaran dan kekhusyukan, akan bekerja sebagai mekanisme regulasi batin, yang mampu menenangkan sistem saraf, melatih fokus, dan memberi rasa aman eksistensial.

Jika meditasi dipromosikan sebagai solusi stres modern, maka salat (sholat) adalah aktivitas meditasi yang lebih utuh, bukan hanya teknik pernapasan atau pengosongan pikiran, tetapi membentuk relasi makna. Ada dialog, ada kepasrahan, ada pengakuan atas keterbatasan manusia. Dan dalam sujud, sejatinya ego runtuh.

Dan ketika berdiri, maka martabat ditegakkan kembali. Salat (sholat) juga membentuk ketangguhan moral, yang mampu mencegah manusia larut dalam keserakahan, kekerasan, dan kebohongan, bukan karena ancaman semata, akan ada hukuman jika meninggalkan salat, tetapi karena kesadaran nilai.

Maka di tengah krisis etika global, korupsi, kerusakan lingkungan, dehumanisasi, Salat (sholat) seharusnya menjadi penjaga integritas. Karena manusia yang terlatih menghadap Tuhan dengan jujur akan lebih sulit berkhianat pada sesama dan alam. Dalam dimensi sosial, salat (sholat) juga dapat membangun karakter kolektif, mengelola disiplin waktu, membangun kesetaraan saat semua berdiri sejajar, dan memperkaya solidaritas dan kebersamaan.

Ilustrasi berdoa. ©Shutterstock

Salat (Sholat) sebagai Mi‘raj yang Berkelanjutan

Isra’ Mi‘raj sering diperingati sebagai peristiwa tahunan. Namun sejatinya hadir setiap hari. Setiap salat (sholat ) kita adalah Mi‘raj kecil, pengangkatan dan level menaikkan nilai kesadaran manusia dari hiruk-pikuk dunia menuju kesadaran yang lebih tinggi, untuk siap menghadapi realitas dunia dengan jiwa yang lebih tertata.

Di era disrupsi, ketika manusia berlomba menjadi cepat, kuat, dan unggul, Salat (sholat) mengajarkan kebijaksanaan yang berbeda dengan menjadi utuh. Utuh antara tubuh dan jiwa, antara kerja dan makna, antara dunia dan langit. Itulah mengapa Salat (Sholat) tidak pernah usang oleh zaman. Dan di tengah modernitas yang gaduh, Salat tampil sebagai praktik paling relevan untuk menjaga kualitas hidup manusia.

Salat (Sholat) bukan sekadar kewajiban individual, tetapi warisan peradaban dari peristiwa Mi‘raj. Kita menerima pelajaran bagaimana menata waktu, menyehatkan tubuh, menenangkan jiwa, membentuk karakter, dan menopang kehidupan sosial.

Dalam dunia yang semakin modern namun rapuh secara mental dan moral, Salat (sholat) adalah Mi‘raj yang menyembuhkan, bukan dengan sensasi instan, tetapi dengan kesetiaan pada ritme, makna, dan nilai.

Isra’ Mi‘raj sejatinya tidak berhenti di langit ketujuh. Namun berlanjut setiap hari melalui Salat (Sholat) yang ditegakkan di bumi. Ketika manusia sering kehilangan arah di tengah kemajuan, Salat mengingatkan satu kebenaran sederhana namun mendasar, kita mengetahui darimana sumber ketenangan dan kemana harus bersandar. Salat (sholat) adalah Mi‘raj harian yang mengangkat manusia dari hiruk-pikuk dunia, lalu mengembalikannya dengan jiwa yang lebih utuh, sehat, dan berdaya. Wallahu’a’lam bis showaab

 

Glasgow, Januari 2026

 

Lilis Sulastri, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *