Saat Bencana Menguji Keimanan: 4 Tugas Pendidikan untuk Merawat Semesta

Ilustrasi. Sejumlah kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terendam banjir. (ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)

UINSGD.AC.ID (Humas) — Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah, Sidang Jum’at rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

 

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,

 

Musibah Adalah Sunnatullah; Musibah dan bencana adalah sunnatullah, ketetapan Allah yang bersifat kauniyyah. Allah berfirman:

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]:155).

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ujian paling berat diberikan kepada para nabi, lalu orang-orang yang paling mulia imannya. Cobaan datang sesuai kadar keimanan seseorang (HR. Tirmidzi).

 

Kerusakan oleh Ulah Manusia; Allah SWT mengingatkan kita:

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).

 

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kerusakan alam di darat dan laut adalah akibat langsung dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Ayat ini menekankan pentingnya menjaga lingkungan (faasdun fil ard) sebagai amanah dari Allah dan bahwa setiap kerusakan yang disebabkan manusia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

 

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,

 

Ayat di atas seakan hidup ketika banjir bandang dan longsor melanda Sumatra akhir November 2025, telah meluluh-lantahkan penjuru alam, menelan lebih dari 442 korban jiwa dan ratusan ribu mengungsi. Bencana ini bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah cermin rapuhnya ekologi akibat pilihan pembangunan tanpa etika, tanpa kebijaksanaan, dan tanpa pendidikan yang menanamkan cinta bumi.

 

Untuk hal itu mari kita renungkan satu persatu:

 

Pertama, Bencana yang Tak Lagi “Alamiah” Kita sering menyalahkan “hujan ekstrem”, “anomali monsun”, atau “siklon tropis”. Padahal itu hanya pemicu. Yang membuat bencana mematikan adalah rusaknya ekosistem: -hutan gundul,-tata ruang dilanggar,-bukit dibelah,-sungai dipersempit,-regulasi memihak keuntungan jangka pendek. Bukankan Allah telah memperingatkan:

 

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56).

Maksud ayat di atas; Allah melarang segala bentuk kegiatan yang merusak kelestarian alam, karena bumi telah Allah ciptakan dalam keseimbangan. Merusaknya berarti menentang aturan-Nya. Kerusakan ekologis adalah akumulasi eksploitasi yang panjang dan sering dilegalkan oleh kebijakan. Ketika AMDAL berubah dari “pagar etis” menjadi sekadar “instrumen risiko”, saat itu kita sedang menabung bahaya.

Bencana Sumatra adalah cermin relasi kuasa yang timpang atas ruang hidup. Pendidikan pun belum mampu menumbuhkan keberanian moral untuk mempersoalkan hal ini. Allah SWT juga berfirman:

 

وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik maupun bencana, agar mereka kembali kepada Allah.” (QS. Al-A’raf: 168).

Ayat, ini merupakan pengingat mendalam tentang tujuan dari cobaan hidup. Ini mengajarkan bahwa Allah SWT menguji manusia melalui dua kondisi yang kontras: 1) Nikmat (kondisi baik/kemakmuran): Ujian di sini adalah apakah seseorang bersyukur, tidak sombong, dan tetap mengingat Allah di saat senang; 2) Bencana (kesulitan/musibah): Ujian di sini adalah apakah seseorang bersabar, tidak berputus asa, dan kembali bersimpuh memohon pertolongan kepada Allah.

Tujuan akhir dari kedua jenis ujian tersebut adalah sama: agar manusia kembali (bertaubat dan mendekatkan diri) kepada Allah SWT, menyadari kekuasaan-Nya, dan tidak melupakan tujuan penciptaan mereka di dunia. Ayat ini sering digunakan untuk menekankan bahwa baik kemudahan maupun kesulitan, keduanya adalah bentuk ujian dari Allah.

 

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,

 

Kedua, Tema Hari Guru Nasional (HGN) 2025 – Indah, tetapi Harus Jadi Gerakan. Untuk HGN 2025 bertema “Merawat Semesta dengan Cinta”, selaras dengan tugas manusia sebagai khalifah:

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

 

Maksud ayat tersebut: “manusia diberi mandat mengelola bumi dengan adil, bukan merusaknya.” Namun pendidikan kita belum menanamkan kesadaran ekologis secara sungguh-sungguh. Sekolah lebih sibuk mengejar angka, rapor, dan administrasi; sementara cinta lingkungan diletakkan di pinggir. Sebagai khalifah di bumi, manusia memiliki tanggung jawab besar yang sejalan dengan fitrah penciptaannya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30 tersebut. Tugas utama manusia dalam peran ini mencakup dua dimensi utama:

 

– Dimensi Horizontal; Memakmurkan dan Memelihara Bumi-Tugas ini melibatkan interaksi manusia dengan lingkungan alam dan sesama makhluk hidup. Beberapa aspek penting meliputi: Pemanfaatan Sumber Daya Alam secara Bijak: Menjaga Keseimbangan Ekologis: Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: dan Mewujudkan Keadilan Sosial: Khalifah bertugas memastikan tatanan sosial yang adil, di mana hak-hak setiap individu terpenuhi, menolong yang lemah, dan memberantas kezaliman di muka bumi.

 

– Dimensi Vertikal; Tugas ini merujuk pada tujuan fundamental penciptaan manusia, yaitu sebagai hamba (‘abid) Allah SWT: (1) Menjalankan Syariat dan Hukum Allah: (2) Membangun Peradaban Berlandaskan Nilai Spiritual: (3) Mempertanggung-jawabkan Amanah.

 

Singkatnya, tugas khalifah adalah mengelola bumi sesuai dengan kehendak Sang Pencipta, bertindak sebagai agen perubahan yang membawa kemaslahatan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh alam.

 

Padahal, menurut Menag Nasaruddin Umar, guru adalah warasatul anbiya pewaris misi kenabian. Itu berarti guru memikul amanah untuk membentuk karakter ekologis, bukan hanya kemampuan akademik. “Ilmu tanpa iman akan kehilangan arah moral,” kata beliau. Dan arah moral itulah yang sedang hilang hari ini.

 

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,

 

Ketiga, Bencana Harus Menjadi Bahan Ajar; Kurikulum kita terlalu steril dari realitas hidup: 1) belajar iklim, tetapi tak memahami banjir di kampungnya; 2) belajar ekosistem, tetapi tak diajak melihat rusaknya daerah resapan; 3) belajar akhlak, tetapi tanpa konteks amanah ekologis. Disini, Allah kembali menegaskan amanah kekhalifahan:

 

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“…Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: [2]: 30).

 

Maksud ayat: manusia diberi tanggung jawab memakmurkan bumi dan menjaga keseimbangannya. Karena itu, bencana harus menjadi bahan refleksi dan pendidikan: 1) Guru IPA menjelaskan hubungan hutan–air–bencana; 2) Guru IPS mengulas tata ruang dan relasi kekuasaan; 3) Guru agama menanamkan amanah sebagai khalifah; 4) Guru seni membangkitkan kesadaran ekologis melalui karya. Inilah makna konkret merawat semesta dengan cinta: pembelajaran yang menyentuh nalar dan nurani.

 

Keempat, Merawat Semesta Adalah Tugas Pendidikan: Jika tema HGN ingin hidup, perlu langkah nyata: 1) Sekolah hijau menjadi budaya permanen. 2) Literasi bencana dan iklim diwajibkan dalam proyek pembelajaran; 3) Siswa terlibat langsung mengamati lingkungan sekitar. 4) Guru diberi ruang mengangkat isu ekologis meski tak masuk kisi ujian; 5) Pemerintah daerah menjadikan edukasi ekologi sebagai program strategis. Bukankah Allah mengingatkan kembali melalui ayat kekhalifahan:

 

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“…Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: [2]: 30).

Maksud ayat di atas, tugas memelihara bumi adalah bagian dari ibadah dan amanah besar manusia. Merawat bumi bukan hanya urusan kementerian lingkungan. Ini adalah urusan pendidikan. Karena hanya pendidikan yang mampu menanamkan kesadaran jangka panjang.

 

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Sebagai Penutup Khutbah: Bencana Sumatra adalah peringatan bahwa manusia tidak boleh memisahkan agama, ilmu, dan alam. Kerusakan terjadi akibat ulah manusia; maka memperbaiki kerusakan juga harus dimulai oleh manusia melalui pendidikan yang bijak, berani, dan mencintai bumi, Wallahu A’lam.

 

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *