UINSGD.AC.ID (Humas) — “Tetaplah persembahkan doamu meskipun kering, munafik, dan tanpa keyakinan. Karena Tuhan dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata uang palsumu.” [Jalaluddin Rumi]
Kita mungkin pernah membaca kalimat Rumi ini tanpa sengaja. Sebuah pernyataan yang dalam pemahaman saya seumpama tamparan lembut. Sebuah seruan yang sarat pesan. Kalimat ini terbaca paradoksal, bahkan mungkin provokatif. Bagaimana mungkin doa yang kering, tanpa ruh, tanpa iman yang kuat, masih dianggap bernilai di hadapan Tuhan? Bukankah doa seharusnya lahir dari keikhlasan dan keyakinan yang utuh? Tapi seperti banyak kata-kata yang disampaikan Rumi, paradoks itu justru menyembunyikan suatu rahasia yang lebih dalam.
Dalam pemahaman saya, Rumi tidak sedang membenarkan kemunafikan, melainkan sedang menyingkap lapisan rahmat yang lebih lembut dari penilaian moral yang kaku. Rumi seolah berbicara kepada jiwa-jiwa yang lelah, yang tidak lagi merasakan denyut spiritual dalam ritualnya. Mereka yang berdoa bukan karena yakin, tapi karena kebiasaan. Yang menyebut nama Tuhan tanpa getar. Yang merasa bahwa doa yang dipanjatkan kehilangan maknanya, seakan hanya gema kosong di ruang batin yang sepi. Namun justru kepada mereka Rumi berkata: tetaplah berdoa. Karena bahkan doa yang tampak palsu pun masih lebih hidup daripada keheningan yang putus asa.
Doa yang kering mungkin bukan tanda kemunafikan sejati, melainkan tanda kehausan. Ia adalah keadaan di mana manusia telah terlalu lama berjalan di padang spiritual yang gersang, tapi masih menyertakan keyakinan samar bahwa di ujung sana, ada mata air. Dalam doa yang seperti itu, ada kerendahan hati yang tak disadari. Sejenis pengakuan bahwa manusia tidak selalu mampu hadir dengan sempurna, bahwa iman pun punya musim gugur dan musim dinginnya sendiri.
Dalam pernyataan di atas, Rumi menggunakan metafora “mata uang palsu” bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menegaskan kemurahan hati Tuhan. Di pasar dunia, uang palsu ditolak tanpa ampun tetapi di hadapan Tuhan, bahkan kepalsuan pun bisa diterima, bukan karena nilainya, melainkan karena niat di baliknya. Rahmat Tuhan bukanlah neraca pedagang yang menimbang murninya niat manusia, melainkan pelukan yang mendahului segala ukuran. Ia menerima bukan karena kita layak, melainkan karena Ia penuh kasih.
Ada saat-saat dalam hidup ketika seseorang kehilangan rasa dalam doanya. Bibir mengucap, tapi hati kosong. Dalam kesunyian itu, Rumi menasihati: jangan berhenti. Karena berhenti berdoa berarti berhenti mengetuk. Dan pintu yang tidak diketuk, tak akan terbuka. Doa yang palsu hari ini, bisa jadi benih doa yang tulus esok hari. Lidah yang kini terbata-bata, bisa jadi suatu hari menemukan kata-kata yang bersinar. Dalam proses spiritual, kontinuitas lebih penting daripada kesempurnaan.
Kalimat ini juga menyingkap sesuatu yang lebih subtil, bahwa keikhlasan bukanlah keadaan permanen, melainkan proses yang tumbuh. Tak ada manusia yang selamanya tulus, kita semua, dalam satu titik, membawa bayangan kepentingan, kebiasaan, atau kelelahan dalam ibadah kita. Tetapi justru di sanalah rahmat Tuhan bekerja, menyucikan yang palsu melalui kesetiaan. Terkadang, ketulusan tidak datang sebelum kita berlatih berpura-pura untuk tetap setia.
Bayangkan seorang anak kecil yang menggambar dengan tinta yang belepotan, memberi hasilnya pada ibunya. Sang ibu tidak melihat cacatnya gambar itu, ia melihat kasih yang ada di baliknya. Demikianlah, Tuhan tidak menolak doa yang berantakan. Ia melihat usaha kecil untuk tetap datang, bahkan ketika hati tidak sepenuhnya hadir. Dalam pandangan ilahi, setiap usaha untuk mendekat adalah sebuah keindahan.
Rumi juga sedang mengingatkan bahwa iman bukan sesuatu yang selalu menyala terang. Ia berdenyut seperti napas, kadang kuat, kadang nyaris tak terasa. Maka doa tidak boleh hanya menjadi respon atas hadirnya iman, tapi justru menjadi jembatan untuk menghidupkannya kembali. Doa yang kering adalah doa yang sedang mencari sumber air. Doa yang palsu adalah doa yang sedang belajar jujur. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan dalam langkah pertama, Ia sedang menunggu dengan sabar di ujung jalan, bahkan ketika langkah kita terseok.
Ada kebijaksanaan yang mendalam dalam paradoks ini, bahwa ketulusan terkadang tumbuh dari ketidaktulusan yang diakui. Orang yang menyadari bahwa doanya kering sedang berada lebih dekat pada kejujuran daripada mereka yang merasa telah sempurna berdoa. Karena kesadaran akan kekeringan itu sendiri adalah bentuk kerendahan hati. Sebuah pengakuan bahwa kita butuh disiram oleh kasih yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Pada akhirnya, pesan Rumi ini bukan tentang doa semata, melainkan tentang relasi antara manusia dan rahmat. Ia menolak pandangan bahwa hubungan spiritual harus dimulai dari kesempurnaan moral atau keikhlasan absolut. Ia membuka ruang bagi yang rapuh, yang ragu, yang sedang jatuh. Dalam pandangan Rumi, rahmat Tuhan adalah laut luas yang bahkan menerima air mata yang keruh.
Maka ketika kau merasa doamu hanyalah gema kosong, tetaplah ucapkanlah. Ketika lidahmu berat, dan hatimu dingin, tetaplah angkat tanganmu! Karena dalam setiap gerak kecil menuju Tuhan, ada cinta yang lebih besar yang sedang mendekat padamu. Doamu yang “palsu” bukan tanda penolakan, tetapi panggilan lembut agar kau terus datang, terus mengetuk, terus belajar hadir. Sebab Tuhan, kata Rumi, bukanlah hakim yang menghitung nilai mata uangmu, melainkan Sang Penerima yang Maha Penyayang, yang dengan rahmat-Nya dapat menukar kepalsuan menjadi kejujuran, kekeringan menjadi air kehidupan.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dari kata “rahmat”: kasih yang tidak menunggu kita menjadi tulus untuk mencintai, tapi justru mengajari kita untuk menjadi tulus karena telah dicintai. Allahu a’lam bi Shawab.[]
Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung