Reorientasi Pendidikan Kimia: Integrasi Literasi Lingkungan untuk Menumbuhkan Kesadaran Ekologis

UINSGD.AC.ID (Humas) — Jika kita merenungkan hakikat ilmu pengetahuan, khususnya kimia, kita akan menemukan bahwa kimia bukanlah sekadar kumpulan fakta dan persamaan. Lebih dari itu, kimia adalah bahasa universal alam semesta, yang mengungkapkan interaksi fundamental antar materi dan energi. Memahami bahasa kimia berarti membuka tabir rahasia alam, dari skala atom – electron yang tak terhingga kecilnya, hingga siklus biogeokimia yang mengatur keseimbangan planet.

Oleh karena itu, mempelajari ilmu kimia bukanlah sekadar penguasaan konsep, prinsip, rumus dan perhitungan kimia, Namun harus dapat menumbuhkan kesadaran kritis dan menginternalisasi nilai-nilai yang mendorong tindakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam hal ini, belajar kimia adalah upaya menumbuhkan literasi kimia dalam konteks lingkungan atau literasi lingkungan – sebuah imperatif yang semakin mendesak di tengah tantangan krisis ekologis global. Pengkajian permasalahan lingkungan melalui lensa kimia akan membuka mata terhadap jalinan kompleksitas alam.

Pencemaran sungai, misalnya, bukan sekadar kehadiran zat asing, melainkan manifestasi dari ketidakseimbangan siklus hidrologi dan biogeokimia. Reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalam air tercemar adalah cerminan dari hukum kekekalan massa dan energi, namun dalam konteks yang terdistorsi oleh aktivitas manusia. Pemanasan global (global warming), di sisi lain, adalah pengingat tentang konsekuensi tak terduga dari pelepasan gas-gas industri dan kendaraan bermotor ke atmosfer serta deforestrasi hutan yang berdampak pada peningkatan konsentrasi gas rumah kaca.

Ini sebuah ironi dari kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan kearifan ekologis. Secara filosofis, pendidikan kimia berbasis konteks lingkungan mengajak kita untuk merenungkan kembali hakikat tanggung jawab manusia sebagai bagian dari ekosistem. Pemahaman tentang bagaimana aktivitas manusia pada skala molekuler dapat berdampak pada skala planet, menuntut adanya kesadaran etis dan moral.

Sebagai respons etis dan ilmiah, pandangan ekosentrisme tersebut selaras dengan Rahmatan lil ‘Alamin yang menuntut pemahaman kimia yang mendalam yang sangat terkait dengan tiga level representasi kimia dalam konteks isu lingkungan.

Contohnya : pengamatan langsung terhadap kerusakan hutan (makroskopik), harus diikuti pemahaman tentang dampaknya pada siklus karbon di level molekuler (submikroskopik) – bagaimana hilangnya biomassa mengurangi penyerapan air dan CO2 yang direpresentasikan secara simbolik melalui persamaan reaksi fotosintesis dan respirasi seluler (simbolik), sehingga berdampak antara lain pada pemanasan lingkungan secara global, terjadinya banjir dan longsor.

Pemahaman komprehensif ketiga level representasi kimia (makroskopik, submikroskopik dan simbolik), penting untuk memperkuat argumen filosofis tentang urgensi pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, bukan hanya demi kepentingan manusia, tetapi demi keberlangsungan seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang harmoni alam dan larangan berbuat kerusakan di muka bumi (QS. Al-A’raf: 56).

Dalam konteks pembelajaran di kelas, agar terwujud perubahan nyata, Pembelajaran Kimia harus memberdayakan mahasiswa untuk berpikir dan bertindak melalui berbagai aktifitas pembelajaran, antara lain proyek yang mengaitkan masalah lingkungan yang teramatisecara langsung (makroskopik) dengan analisis kimia pada level molekuler (submikroskopik) dan perumusan solusinya.

Upaya yang telah dilakukan saya bersama rekan-rekan di Program Studi Pendidikan Kimia dalam mengembangkan strategi pembelajaran inovatif berbasis konteks lingkungan bukan hanya didorong oleh tuntutan pedagogis, tetapi juga oleh keyakinan filosofis bahwa pendidikan harus mampu menumbuhkan wisdom (kebijaksanaan) di samping knowledge (pengetahuan). Pembelajaran kimia yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan konteks kehidupan nyata dan nilai-nilai etika, diharapkan dapat menghasilkan individu yang tidak hanya kompeten secara ilmiah, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan.

Ida Farida, (Guru Besar Bidang Ilmu Evaluasi Pendidikan Kimia pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan)

Untuk mengetahui Naskah lengkap Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Evaluasi Pendidikan Kimia—yang disampaikan pada Sidang Senat Terbuka UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Gedung Anwar Musaddad dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Rabu, 23 April 2025—dapat diunduh di laman berikut ini.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *