Refleksi dari Bulan Sya‘ban Menuju Ramadan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Bulan Sya‘ban sering kali hadir sebagai bulan transisi yang luput dari perhatian. Secara sosial-keagamaan, perhatian umat Islam lebih tertuju pada Rajab sebagai bulan spiritual awal dan bulan suci Ramadan sebagai puncak ibadah. Namun justru dalam ruang “antara” inilah, Sya‘ban memainkan peran penting sebagai fase persiapan psikologis dan spiritual menuju perubahan besar yang ditawarkan bulan suci Ramadan.

Rasulullah menegaskan keistimewaan bulan ini melalui sabdanya:

ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan ini amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam.” (HR. An-Nasa’i)

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Sya‘ban bukan sekadar bulan penantian, melainkan bulan evaluasi di mana amal manusia dipresentasikan secara spiritual. Dalam konteks ini, Sya‘ban menjadi ruang refleksi sebelum memasuki fase transformasi diri yang lebih intens di bulan Ramadan.

Teladan Sahabat, Disiplin Spiritual yang Berkesinambungan.

Praktik keagamaan para sahabat Nabi menunjukkan bahwa perubahan spiritual tidak pernah bersifat mendadak. Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah  memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya‘ban, bahkan lebih banyak dibanding bulan-bulan lainnya di luar Ramadan.

Riwayat ini menegaskan satu prinsip penting, ibadah besar memerlukan pembiasaan dan latihan bertahap.

Para sahabat memahami bahwa kekuatan ibadah bukan hanya pada momentum, tetapi pada konsistensi dan kesiapan batin. Karena itu, mereka memanfaatkan Sya‘ban untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia, baik melalui ibadah personal maupun perbaikan akhlak sosial.

Pemikiran ini sejalan dengan nasihat reflektif Umar bin Khattab yang terkenal:

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Ungkapan tersebut menunjukkan kesadaran etis dan psikologis yang tinggi: manusia perlu melakukan evaluasi diri internal sebelum menghadapi evaluasi eksternal, baik secara sosial maupun spiritual. Dalam konteks Sya‘ban, muhasabah menjadi landasan kesiapan memasuki Ramadan.

Perspektif Psikologis,  Mengapa Persiapan Itu Esensial?

Dari sudut pandang psikologi modern, perubahan perilaku dan karakter tidak terjadi secara instan. Jiwa manusia bekerja melalui pola kebiasaan (habitual patterns) yang memerlukan fase transisi untuk berubah secara sehat dan berkelanjutan.

Dalam hal ini, Sya‘ban dapat dipahami memiliki tiga fungsi psikologis utama:

Mental Preparation (Persiapan Mental)

Perubahan besar tanpa persiapan sering menimbulkan kelelahan mental (mental fatigue). Hal ini menjelaskan mengapa sebagian individu merasakan Ramadan sebagai beban, bukan karena tuntutan ibadahnya, tetapi karena ketidaksiapan mental dan emosional.

Emotional Regulation (Pengelolaan Emosi)

Praktik puasa sunnah dan peningkatan spiritual di Sya‘ban melatih pengendalian emosi. Individu yang terbiasa menunda kepuasan dan mengelola dorongan diri akan lebih stabil secara emosional saat menghadapi tantangan ibadah Ramadan.

Habit Formation (Pembentukan Kebiasaan)

Aktivitas seperti membaca Al-Qur’an, shalat malam, dan sedekah yang dimulai secara bertahap di Sya‘ban akan lebih mudah dipertahankan ketika intensitas ibadah meningkat di Ramadan. Ini sejalan dengan teori pembentukan kebiasaan dalam psikologi perilaku.

Menariknya, konsep ini selaras dengan prinsip tazkiyatun nafs dalam Islam. Allah SWT berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”

(QS. Asy-Syams: 9)

Ayat ini menegaskan bahwa keberhasilan spiritual tidak bersifat spontan, melainkan hasil dari proses penyucian jiwa yang sadar dan berkelanjutan.

Menata Jiwa Sebelum Ramadan

Ramadan sering dipahami sebagai bulan perubahan, tetapi sejatinya perubahan dimulai sebelum Ramadan itu sendiri. Sya‘ban menyediakan ruang aman untuk menata niat, menurunkan ego, melatih kesabaran, serta membersihkan luka-luka batin yang sering menghambat kualitas ibadah.

Dalam perspektif ini, keberhasilan Ramadan tidak diukur dari seberapa kuat fisik seseorang, tetapi dari seberapa siap jiwanya. Jiwa yang telah dilatih di Sya‘ban akan lebih mampu menjadikan Ramadan sebagai pengalaman transformasi, bukan sekadar rutinitas tahunan.

 

S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *