(Sebuah Refleksi Keagungan Waktu, Teladan Nabi, dan Hikmah Para Ulama)
UINSGD.AC.ID (Humas) — Halaqah sore ini, Sang Guru menyampaikan sebuah renungan sosio-religius mengenai Bulan Rajab. Memulai tuturan mulianya, ia menyebutkan bahwa dalam arsitektur waktu Islam, Allah SWT tidak menciptakan hari-hari dengan kemuliaan yang datar dan seragam. Ada masa-masa tertentu yang dipilih-Nya sebagai “terminal” bagi hamba untuk mengisi ulang bahan bakar spiritual. Salah satunya adalah bulan Rajab.
Rajab bukanlah sekadar pergantian kalender; ia adalah fase awal dari sebuah perjalanan agung. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Tawbah ayat 36: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…”
Ayat ini dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa empat bulan haram (suci) tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab (yang disandarkan pada suku Mudar). Disebut “Haram” atau suci karena pada bulan ini, dosa memiliki bobot yang lebih berat, sebagaimana amal saleh memiliki nilai yang berlipat ganda. Dahulu, di masa jahiliyah, pedang disarungkan dan gencatan senjata dilakukan demi menghormati bulan ini. Dalam Islam, makna ini bertransformasi menjadi perang melawan hawa nafsu dan “gencatan senjata” dari perilaku maksiat.
——
Teladan Kanjeng Nabi SAW: Getaran Rindu dan Pemanasan Spiritual
Bagaimana Kanjeng Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia, menyambut bulan ini? Beliau tidak menyambutnya dengan kemeriahan pesta, melainkan dengan getaran hati yang rindu akan keberkahan yang berujung pada Ramadhan.
Ketika hilal Rajab terlihat, Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa yang menjadi proklamasi kesiapan jiwa.
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik r.a., Rasulullah berdoa: “Allâhumma bârik lanâ fî Rajaba wa Sya’bâna wa ballighnâ Ramadhâna” (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah usia kami hingga bulan Ramadhan).
Hadis ini tercatat dalam Musnad Imam Ahmad (No. 2346), Al-Mu’jam Al-Awsat (No. 3939), dan Syu’abul Iman Al-Baihaqi (No. 3534). Meskipun para ahli hadis memberikan catatan mengenai sanadnya, namun Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menegaskan bahwa hadis-hadis semacam ini sah diamalkan dalam konteks Fada’il al-A’mal (keutamaan amal), sebagai bentuk optimisme seorang hamba.
Selain doa, Nabi juga menjadikan Rajab sebagai bulan conditioning (pemanasan) fisik dan mental. Beliau memperbanyak puasa sunnah, namun tidak sebulan penuh agar tetap ada pembeda dengan Ramadhan. Hal ini sejalan dengan hadis dalam Sunan Abu Dawood (No. 2428), di mana Nabi bersabda: “Berpuasalah dari bulan-bulan haram dan tinggalkanlah (sebagiannya).” Hikmahnya jelas: fisik harus dilatih secara bertahap. Mustahil seseorang bisa mendaki “puncak gunung” Ramadhan dengan napas panjang jika tidak melakukan pemanasan sejak di “kaki gunung” Rajab.
——
Mutiara Hikmah Ulama: Perumpamaan Pertanian Hati
Para ulama ‘Arifin (ahli makrifat) memandang Rajab dengan kedalaman makna yang luar biasa. Mereka mengajarkan bahwa siklus Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan adalah satu kesatuan proses yang tidak bisa dipisahkan.
—-
Pertama, Metafora Angin, Awan, dan Hujan
Dikutip oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya yang terkenal, “Lata’if al-Ma’arif”, Imam Abu Bakar Al-Warraq Al-Balkhi membuat perumpamaan puitis: “Bulan Rajab itu ibarat angin (rîh), bulan Sya’ban itu ibarat awan (mendung), dan bulan Ramadhan itu ibarat hujan.”
Maknanya sangat dalam: Angin (Rajab) bertugas mengumpulkan awan dan membersihkan udara. Tanpa angin Rajab yang membawa hawa pertobatan, awan rahmat di Sya’ban tidak akan berkumpul, dan hujan keberkahan di Ramadhan tidak akan turun membasahi hati yang tandus.
—-
Kedua, Metafora Menanam dan Memanen
Masih dalam kitab “Lata’if al-Ma’arif”, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali sendiri memberikan analogi pertanian yang sangat relevan: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram tanaman, dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman.”
Beliau kemudian memberikan peringatan reflektif: “Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia berharap memanen di bulan Ramadhan?” Jika Ramadhan adalah bulan panen raya pahala, maka Rajab adalah waktu untuk membajak tanah hati dan menebar benih amal.
—–
Ketiga, Rajab sebagai Bulan Penyucian (Istighfâr)
Sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali dalam “Ihya’ Ulumuddin” (pada pembahasan Asraru Ash-Shaum), menekankan aspek Tazkiyatun Nafs. Beliau mengisyaratkan bahwa: “Rajab adalah bulan istighfar (memohon ampun), Sya’ban adalah bulan shalawat, dan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an.”
Logika spiritualnya adalah: sebelum kita berinteraksi intens dengan Al-Qur’an yang suci di bulan Ramadhan, “wadah” (hati) kita harus dicuci terlebih dahulu dengan Istighfar di bulan Rajab.
——
Keempat, Kedalaman Makna Huruf “Rajab”
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab “Al-Gunyah Li Talibi Tariq Al-Haqq”, mengupas makna huruf-huruf dalam kata Rajab (Ra-Jim-Ba) sebagai simbol kasih sayang Ilahi: “Ra’ bermakna Rahmatullah (Kasih sayang Allah), Jim bermakna Judullah (Kemurahan Allah), dan Ba’ bermakna Birrullah (Kebaikan Allah).”
Maka, baginya, Rajab adalah momentum di mana Allah melimpahkan rahmat, kemurahan, dan kebaikan-Nya secara khusus kepada hamba-hamba yang mau kembali mengetuk pintu-Nya.
—-
Khâtimah
Di akhir tuturannya, Sang Guru menuturkan bahwa Rajab adalah gerbang pembuka. Ia adalah “Bulan Allah” (Syahrullah) di mana pintu ampunan dibuka lebar sebelum pintu itu dibuka sepenuhnya di Ramadhan. Mari kita isi Rajab ini dengan memperbanyak istighfar, memperbaiki kualitas salat (mengingat Isra Mi’raj terjadi di bulan ini sebagai simbol perintah salat), dan melatih diri dengan puasa sunnah.
Semoga Allah memberkahi kita di bulan Rajab, menyampaikan kita pada bulan Sya’ban, dan mempertemukan kita dengan kemuliaan Ramadhan dalam keadaan iman yang kokoh. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung