Prof. Badruzzaman: Sang Guru yang Teduh

UINSGD.AC.ID (Humas) — Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung ada pakar tafsir yang far excellence. Beliau adalah Prof. Dr. H. Badruzzaman M. Yunus, M.A. Kami—para muridnya—sering menyapanya Prof. Badru. Beliau bahkan satu-satunya Guru Besar dalam bidang tafsir di UIN Bandung yang menimba ilmu dari dua perguruan tinggi terkenal di luar negeri, yaitu al-Azhar Mesir dan Khartoum Sudan. Sudah sangat banyak murid yang telah didiknya. Kampus ini sangat beruntung memiliki Prof. Badru.

Sebagai murid beliau, saya merasa sangat beruntung pernah berguru kepada Prof. Badru—seorang alim yang bukan hanya menguasai ilmu tafsir secara mendalam, tetapi juga menghadirkannya dalam laku hidup yang penuh keteladanan.

Prof. Badru bukan sekadar seorang akademisi, tetapi juga seorang pembimbing spiritual yang tulus. Setiap perjumpaan dengannya bukan hanya memberi pencerahan intelektual, tapi juga menanamkan adab dan kerendahan hati. Beliau tidak pernah lelah mengingatkan kami, para mahasiswanya, bahwa tafsir bukan hanya kerja akademik, tetapi jalan hidup yang menuntut keikhlasan dan kesabaran.

Satu hal yang sangat membekas bagi saya adalah sikap beliau yang sangat menghargai perbedaan pendapat, baik dalam diskusi kelas maupun dalam forum-forum ilmiah. Beliau mengajarkan bahwa tafsir Al-Qur’an akan terus hidup selama umat ini bersedia berdialog, mendengar, dan membuka diri.

Dalam kepribadiannya, saya melihat sosok yang tenang, teduh, dan bersahaja. Beliau adalah guru yang tidak hanya mengajarkan ayat-ayat, tetapi juga memperagakan akhlak Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari.

Perkenalan saya dengan Prof. Badru diawali dengan kepulangannya dari studi di Sudan dan lalu mengajar di Jurusan Tafsir-Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun 90an, tempat saya mencari ilmu. Sebagian besar pengetahuan tafsir saya di S1 berasal dari ajaran dan bimbingannya. Lebih intens lagi tatkala beliau menjadi pembimbing skripsi saya dan ketika saya menjadi sekretaris jurusan Tafsir-Hadits yang mana beliau menjadi Ketua Jurusannya. Dan kebersamaan itu terus kami rasakan sampai saat ini.

Mengajarkan Falsafah Kehidupan
Sebagai sang Guru, Prof. Badru mengajarkan banyak hal kepada banyak mahasiswanya, termasuk saya. Di antara yang diajarkannya, saya mengingat tiga falsafah kehidupan.

Pertama, para alumni UIN Bandung harus seperti “ayam kampung” bukan “ayam sayur”. Ayam kampung itu hidup tidak bergantung pada pemberian orang, tetapi mencari sendiri. Dan ternyata harga ayam kampung lebih mahal dan lebih enak. Ini adalah falsafah kehidupan tentang independensi dan tidak selalu menggantungkan kepada orang lain. Ini adalah tentang bagaimana seseorang berikhtiar keras berusaha dengan tangannya sendiri. Ini adalah tentang bagaimana menerpa diri agar berkualitas dan bermanfaat bagi orang lain.

Dengan falsafah ini, tidak jarang Prof. Badru menjadi motivator bagi banyak orang dan mahasiswa, termasuk saya sendiri. Jangan tanya bagaimana cara beliau memotivasi. Dengan tutur kata yang lembut dan penuh makna, banyak orang yang termotivasi untuk membuat hidup semakin bermakna.

Bagi saya sendiri, Prof. Badru adalah guru tempat bertanya dan meminta nasehat. Ajaran beliau tentang falsafah ini rasanya terus menjadi acuan yang mengiringi karir saya di kampus UIN Bandung ini, mulai dari semenjak menjadi Sekretaris Jurusan sampai Rektor saat ini. Tak jarang pula saya meminta nasihat kepada beliau dalam menyelesaikan banyak persoalan yang saya hadapi salam menjalani karir.

Kedua, “rizki tahu kita dan kita tidak tahu rizki kita”. Falsafah ini bukan hanya tentang bagaimana kita harus meyakini adanya rizki, tetapi juga tentang keyakinan bahwa seseorang pasti akan mendapatkan rizki yang telah ditentukan. Ini tentang bagaimana seseorang tidak boleh putus asa dengan rizkinya. Ini tentang bagaimana seseorang tidak boleh berkonflik gara-gara memperebutkan rizki. Ini tentang bagaimana seseorang tidak terlalu serakah dalam kehidupan.

Kalimat di atas bukan sekadar ungkapan puitis, tapi sebuah falsafah hidup yang dalam. Prof. Badru sering menyampaikan makna ini dalam nada yang tenang. Falsafah ini mengajarkan bahwa rizki itu bergerak menuju kita, bukan hanya kita yang mencarinya. Apa yang menjadi jatah kita tidak akan tertukar, dan apa yang bukan untuk kita tidak akan pernah menjadi milik kita—sekeras apa pun kita kejar.

Ini tentang keyakinan bahwa rizki sudah ditetapkan, bahwa Allah Maha Tahu kapan dan bagaimana kita menerimanya.

Ini tentang ketenangan bahwa kita tidak perlu cemas atau putus asa.
Ini tentang akhlak bahwa memperebutkan rizki hingga menyakiti orang lain adalah bentuk kekeliruan spiritual.

Ini tentang kebijaksanaan bahwa hidup bukan tentang serakah, tapi tentang cukup, syukur, dan berkah.

Prof. Badru ingin kita semua hidup dalam keyakinan bahwa Allah sudah menakar segalanya secara adil. Kita hanya perlu berjalan di jalan yang benar, bekerja dengan niat baik, dan menyerahkan hasilnya pada-Nya. Karena rizki itu, sejatinya, sedang mencari kita—sekalipun kita tidak tahu di mana ia berada.

Sebagian besar muridnya pasti sudah merasakan taji falsafah yang diajarkan Prof. Badru di atas.

Ketiga, “fil harakah barakah”, dalam setiap aktivitas sejatinya ada keberkahan. Ungkapan ini bukan sekadar motivasi, tapi merupakan prinsip hidup Islami yang kuat: Bahwa keberkahan itu tidak jatuh dari langit begitu saja. Ia hadir ketika kita bergerak, berusaha, melangkah, dan tidak tinggal diam. Sekecil apa pun usaha, jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang baik, pasti ada nilai berkah di dalamnya.

Falsafah ini juga mengajarkan bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang aktif, yang berusaha mencari jalan keluar, bukan yang hanya menunggu takdir tanpa ikhtiar. Seperti air yang mengalir akan tetap jernih, sementara yang diam menggenang bisa menjadi keruh—begitu pula hidup kita.

Bagi Prof. Badru, ajaran ini bukan hanya disampaikan, tapi dipraktikkan: aktif menulis, mengajar, membina, membimbing—sepanjang hidup beliau adalah gerak untuk keberkahan. Jadi, jangan ragu untuk melangkah. Sekecil apa pun gerakmu hari ini, bisa jadi itulah pintu berkah yang Allah bukakan.

Peneguh Norma-Norma Tafsir
Prof. Badru adalah sosok yang menempati posisi istimewa dalam dunia keilmuan tafsir di Indonesia, khususnya dalam tradisi akademik UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Keilmuannya tidak hanya tampak dalam kapasitas intelektual sebagai guru besar, tetapi juga dalam komitmennya menjaga, merawat, dan meneguhkan norma-norma tafsir yang bersandar pada tradisi keilmuan yang otoritatif dan akhlak intelektual yang terpuji.

Dalam era yang semakin terbuka ini, ketika berbagai penafsiran atas Al-Qur’an bermunculan, sering kali tanpa fondasi ilmu yang kokoh, peran Prof. Badru menjadi sangat penting. Beliau senantiasa mengingatkan bahwa tafsir bukanlah kegiatan menafsirkan secara liar dan bebas, tetapi sebuah proses ilmiah dan spiritual yang menuntut penguasaan terhadap alat-alat ilmu, penghayatan terhadap maqashid al-syari’ah, dan sikap rendah hati di hadapan wahyu.

Salah satu warisan terbesar Prof. Badru adalah keteguhannya dalam menanamkan prinsip bahwa tafsir harus berpijak pada norma. Norma itu meliputi metodologi yang benar, adab dalam berbicara tentang firman Allah, dan kejujuran intelektual. Dalam berbagai pengajian dan kuliah, beliau sering mengutip perkataan ulama klasik yang menegaskan bahwa berbicara tentang Al-Qur’an tanpa ilmu adalah bagian dari perbuatan dosa besar. Hal ini menjadi pengingat keras bahwa keilmuan tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab moral.

Beliau juga sangat menekankan pentingnya tafsir kontekstual—yakni kemampuan untuk membaca teks suci dalam terang realitas sosial yang terus berkembang. Namun, beliau tidak serta-merta menerima tafsir kontekstual sebagai justifikasi atas tafsir bebas. Baginya, kontekstualisasi hanya dapat dilakukan oleh mereka yang telah kokoh dalam fondasi ilmu alat, menguasai bahasa Arab, memahami asbab al-nuzul, dan memiliki kepekaan terhadap ruh al-Qur’an.

Yang menarik, beliau memadukan pendekatan ilmiah dengan pendekatan ruhani. Beliau percaya bahwa menafsirkan Al-Qur’an bukan hanya soal metodologi, tetapi juga soal kejernihan hati. Maka, dalam setiap kesempatan, beliau tidak henti menekankan pentingnya adab sebelum ilmu, dan dzikir sebelum tafsir. Inilah sisi sufistik yang menyejukkan dari seorang akademisi yang tetap menjunjung tinggi etos keilmuan.

Prof. Badru juga menjadi teladan dalam mengajarkan tafsir sebagai bagian dari dakwah dan pendidikan. Ia tidak hanya aktif di ruang akademik, tapi juga hadir di ruang-ruang sosial, membina santri, membimbing guru, dan menjadi rujukan masyarakat dalam memahami pesan-pesan ilahi. Ia mengajarkan bahwa ilmu tafsir harus turun dari menara gading dan menjadi pelita yang menerangi kehidupan umat.

Melalui tulisan-tulisannya, karya-karya tafsir tarbawi, serta pembinaan terhadap generasi muda, beliau telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga kewibawaan ilmu tafsir. Dalam dirinya, kita menemukan sosok penafsir yang tidak hanya alim, tapi juga adil; tidak hanya cerdas, tapi juga tawadhu’; tidak hanya tegas terhadap penyimpangan, tetapi juga lembut dalam membimbing.

Prof. Badru adalah peneguh norma-norma tafsir. Dalam wajahnya terpancar keteduhan ulama; dalam ucapannya tergambar keluasan ilmu; dan dalam hidupnya tercermin keberkahan orang yang selalu bersama Al-Qur’an.

Ucapan Terima Kasih dari Sang Murid
Dengan penuh takzim, saya haturkan terima kasih kepada Prof. Badru. Terima kasih atas bimbingan yang tidak hanya mengisi akal, tetapi juga menyentuh kalbu. Terima kasih atas teladan yang tidak hanya tampak di ruang kelas, tapi juga hadir dalam laku dan keseharian.

Engkau mendidik kami bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan keteladanan.
Engkau menanamkan makna tafsir bukan hanya pada ayat-ayat, tetapi juga pada sikap hidup:
tentang kesabaran dalam menghadapi perbedaan, tentang kesederhanaan dalam keilmuan, dan tentang kemuliaan dalam istiqamah.

Sebagai murid, saya merasa belum mampu membalasnya dengan apa pun. Namun saya percaya, setiap ilmu yang engkau wariskan akan terus berdenyut dalam jejak amal para muridmu, akan terus tumbuh dalam laku hidup kami yang berusaha meneladanimu.

Semoga Allah menambahkan keberkahan pada usiamu, menjaga kesehatanmu, dan menjadikan setiap langkahmu sebagai cahaya yang menuntun umat dalam memahami Kalam-Nya.

Dari muridmu yang selalu berdoa, dan tak pernah selesai belajar darimu—Terima kasih, Prof.

Rosihon Anwar, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *