Ilustrasi Ramadan / Foto: Getty Images/iStockphoto/TanyaSid

UINSGD.AC.ID (Humas) — Bulan Ramadan bukan hanya waktu berhubungan dengan kehidupan rohani umat Islam, tetapi juga saat di mana media memiliki tanggung jawab besar dalam menyebarkan pesan-pesan positif, memberikan pengetahuan spiritual, dan memberikan inspirasi bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, dan memperoleh berkah selama bulan suci Ramadan.

Ini sudah menjadi agenda setiap media, ketika menjelang Ramadan sampai hari puncak Ramadan, yaitu Idul Fitri, wajah media penuh dengan berbagai tampilan dan pernak pernik Ramadan. Kondisi dan tren seperti ini terjadi sejak dulu sampai saat ini, di mana telah terjadi persaingan memperebutkan konsumen media dengan media sosial. Namun media masih tetap masihmenjadi sumber informasi yang dicari dan diikuti pesan-pesannya.

Edukatif

Selama bulan Ramadan, peran media sangat penting dalam menyajikan konten Islami yang edukatif, untuk umat muslim yang sedang beribadah meraih pahala selama Ramadan. Konten konten berorientasi ibadah ini, dapat disajikan setiap tahunnya dengan cara yang berbeda sesuai dengan perkembangan jemaah.

Di bulan Ramadan, umumnya konten-konten edukasi berfokus pada hikmah puasa, amalan-amalan dengan pahala yang besar, zakat dan sedekah yang akan mendapat ganjaran berlimpah ketika dilakukan semasa Ramadan, sampai ragam busana muslim muslimah, yang pantas dipakai ketika salat tarawih, salat Idul Fitri atau di hari kemenangan dengan menggunakan gaun yang bisa mengingkatkan kesahihan setelah berjuang 30 hari.

Program serius pun hadir, seperti kajian keislaman, tausiyah, dan diskusi interaktif dengan ulama ternama, yang bisa meningkatkan pemahaman masyarakat, tiba-tiba menjadi populer di berbagai media massa dengan berbagai platform.

Media juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan, yang melibatkan hubungan horizontal, sehingga dapat memperkuat hubungan kebersamaan antara sesama muslim dan umat manusia. Bagaimana nilai kebersamaan, toleransi, dan kepedulian sosial dapat ditingkatkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan umat muslim. Konten yang menampilkan kisah-kisah inspiratif, dokumenter keagamaan dari berbagai daerah dan negara, dan liputan kegiatan sosial selama bulan Ramadan, dapat meningkatkan semangat ukhuwah Islamiah.

Selain menyiarkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas ibadah selama bulan Ramadan, media massa juga mengubah format program hiburan menjadi format religius agar tetap mempertahankan nilai etik moral yang baik. Contohnya, di televisi ada program Yuk Sahur yang menghibur umat muslim saat makan sahur. Juga ada program-program yang menemani pemirsa saat berbuka puasa dengan tampilan para presenter berbusana muslim dan muslimah, begitu pun di media cetak dan online berbagai tampilan visual yang penuh dengan pesan pesan visual dengan simbol keagamaan, atau simbol-simbol Ramadan.

Inspiratif

Tujuan utama media selama bulan Ramadan adalah menciptakan konten yang bisa menginspirasi, mendidik, dan memperkuat nilai-nilai keislaman, serta kebersamaan dalam masyarakat. Tantangan terbesar bagi media adalah bagaimana menemukan keseimbangan antara nilai religi, hiburan, dan kepentingan bisnis tanpa menghilangkan makna utama Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah dan begitu sakral untuk umat Islam.

Di bulan yang penuh rahmat dan limpahan maghfirah ini, media sebenarnya sedang melakukan dakwah amar maruf nahi mungkar tanpa mengurangi sisi kualitas sajian kontennya. Sama halnya dengan seorang pemuka agama, yang biasa mengajak para jemaahnya untuk merayakan bulan penuh rahmat dengan berlama-lama melakukan ibadah. Terlebih lagi jika dakwah itu dilakukan secara intensif pada waktu siaran prime time atau dalam rubrik berita utama, maka kebaikan yang dilakukan para pemirsanya akan berlipat-lipat.

Gerbner & Gross (1976) dalam teori kultivasi mengatakan bahwa eksposur terus-menerus terhadap pemirsa atau khalayak, bisa membentuk persepsi jangka panjang masyarakat. Media memiliki kesempatan besar untuk memengaruhi pandangan pemirsa sebagai komunitasnya atau konsumennya, untuk mengikuti keinginan media ketika media menayangkan atau mempersembahkan berbagai konten yang bernuansa Ramadan yang penuh kesucian.

Selama bulan Ramadan, media sebaiknya menahan diri berpuasa dari menayangkan gosip tentang selebriti dan politik yang dapat merusak kesehatan mental dan spiritualitas para penggemar medianya.

Selama bulan Ramadan juga, media harus ikut serta dalam menyucikan diri dengan menyebarkan pesan-pesan suci di setiap kontennya, agar audiens pun turut terbantu dalam meningkatkan ibadah di bulan suci ini.

Encep Dulwahab, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *