Pesan Nabi dan Solusi Atas Ironi Dunia Hari Ini

Ilustrasi mencintai sosok Nabi Muhammad SAW / foto NU Online

UINSGD.AC.ID (Humas) — Abdullah Bin Salam, saorang Sahabat Ansor menceritakan bahwa ketika pertama kali Rasulullah SAW datang ke Madinah, semua orang berkumpul, dan aku termasuk di antara mereka.

Ketika wajah Nabi terlihat jelas, aku bisa merasakan bahwa wajah itu bukanlah wajah seorang pembohong. Pertama kali yang aku dengar dari ucapan Nabi kala itu adalah:

يا أيُّها النَّاسُ أفشوا السَّلامَ، وأطعِموا الطَّعامَ، وصِلوا الأرحامَ، وصلُّوا باللَّيلِ، والنَّاسُ نيامٌ، تدخلوا الجنَّةَ بسَلامٍ [صحيح ابن ماجة]

Terjemahan bebasnya kurang lebih: “Wahai sekalian manusia: tebarkan salam, saling berbagi makan, bangun silaturahmi, sholat malam ketika yang lain tidur –jika kalian melakukan semua itu, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh kedamaian”. [dari Kitab Hadits Sohih, Ibnu Majah].

Itulah pesan penting sang Nabi SAW ketika pertama kali datang hijrah ke Madinah, di hadapan Masyarakat Madinah yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Ansor.

Secara individual, empat hal itu menjadi amalan yang dapat menghantarkan seseorang meraih surga; dan secara kolektif sosial, empat hal itu yang menjadi kunci keberhasilan pembangunan masyarakat Madinah yang penuh kedamaian (Masyarakat Madani).

Konflik Timur Tengah

Ada ironi besar dunia hari ini. Di satu sisi, manusia nyaris mencapai puncak peradaban teknologi paling canggih. Namun di sisi lain, ia justru terperosok pada titik paling purba: manusia saling bunuh, saling menghancurkan.

Konflik di kawasan Timur Tengah kembali membara, dipicu oleh agresi militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Ia menjadi salah satu cermin buram paling nyata. Korban berjatuhan—banyak di antaranya adalah warga sipil, termasuk anak-anak.

Laporan kemanusiaan mencatat ribuan korban jiwa dan puluhan ribu luka-luka akibat eskalasi militer yang terus berlanjut. Belum terhitung kerugian fisik dan ekonomi.

Tak terbayang berapa lama proses recovery untuk pemulihan luka fisik dan batin ke depan. Kita, bahkan dunia, hanya bisa menatap dan meratap di layar kaca, tak berdaya.

Di tengah lanskap global seperti ini, pesan Nabi Muhammad SAW di awal tulisan ini terasa semakin relevan dan mendesak.

“Tebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan bangun (shalat) malam ketika manusia (lain) tidur…”

Pesan ini mungkin terdengar terlalu “lembut” untuk dunia yang keras. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia bukan sekadar nasihat individual, melainkan fondasi peradaban—peradaban yang dibangun bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan nilai.

Hilangnya Kedamaian dan Rasa Aman

Konflik antar manusia memperlihatkan satu hal yang jelas: hilangnya “salam” dalam arti yang paling mendasar—kedamaian dan rasa aman.

Ketika rudal diluncurkan, yang rusak bukan hanya bangunan, tetapi juga rasa aman. Ketika sirene berbunyi, yang runtuh bukan hanya tembok, tetapi juga ketenangan batin manusia.

Salam dalam ajaran Islam bukan sekadar ucapan. Ia adalah komitmen: engkau akan aman, aku tidak akan menyakitimu, karena aku seorang “Muslim”. Bayangkan jika prinsip peradaban, menjadi dasar hubungan antarbangsa.

Namun realitas hari ini berkata lain. Kepentingan geopolitik, perebutan pengaruh, keserakahan, dan ketegangan ideologis sering kali mengalahkan nilai kemanusiaan. Bahkan serangan terhadap fasilitas sipil seperti sekolah dan rumah sakit menjadi bagian dari “tragedi” perang modern .

Sungguh, satu kondisi manusia sudah kehilangan “kemanusiaannya”. I see human but no humanity.

Di titik ini, pesan Nabi bukan sekadar idealisme, tetapi kritik tajam terhadap arah peradaban manusia.

Bangun Gerakan Sosial

Perang tidak hanya menghancurkan wilayah konflik, tetapi juga mengguncang dunia. Jalur perdagangan terganggu, harga energi melonjak, dan ketidakpastian ekonomi mengancam masyarakat secara global.

Dalam situasi seperti ini, pesan kedua Nabi SAW untuk saling memberi makan menjadi sangat relevan.

Memberi makan hari ini bukan hanya soal amal personal, tetapi harus menjadi sikap dan gerakan global. Menjadi gerakan saling peduli dan saling menanggung (universal coverage, at-takaful al-ijtima’i)

Pada level individu pun sama. Ketika harga naik dan ekonomi menekan, berbagi menjadi lebih berat—tetapi justru lebih bermakna. Di sinilah letak ujian kemanusiaan kita.

Sambung Silaturahmi

Konflik dan perang juga memperlihatkan betapa dunia semakin terfragmentasi. Blok-blok politik terbentuk, aliansi diperkuat, dan garis pemisah semakin tegas.

Dalam konteks ini, pesan ketiga Nabi SAW untuk menyambung silaturahmi, menjadi solusi yang hampir mustahil—tetapi justru sangat dibutuhkan.

Silaturahmi dalam skala global bisa berarti dialog, diplomasi, dan upaya rekonsiliasi. Ia mungkin tidak menghasilkan solusi instan, tetapi setidaknya dapat mencegah kehancuran total.

Sejarah menunjukkan bahwa perang besar sering kali berawal dari putusnya komunikasi.

Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW justru berdiri di atas keterhubungan, antara Muhajirin dan Ansor, antara Muslim dan non-Muslim, antara berbagai kelompok yang sebelumnya saling bermusuhan.

Hari ini, dunia membutuhkan “semangat Madinah” itu hadir dan menguat kembali.

Merawat Dimensi Spiritual

Di tengah hiruk-pikuk konflik global, ada satu dimensi yang sering diabaikan, yaitu dimensi spiritual.

Padahal, tanpa kekuatan batin, manusia mudah terjebak dalam siklus kebencian yang tak berujung.

Di sinilah pesan keempat—shalat malam—menjadi penting. Ia bukan sekadar ibadah personal, tetapi sumber kejernihan moral. Dalam sunyi malam, manusia diingatkan bahwa kekuasaan bukanlah segalanya, dan bahwa setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawaban.

Konflik global mengajarkan bahwa tanpa nilai, kemajuan bidang apapun bisa berubah menjadi kehancuran. Tanpa nilai (akhlak), kekuatan bisa menjadi bencana.

Maka, empat pesan Nabi Muhammad SAW itu bukan hanya untuk ummat Islam, tetapi untuk peradaban manusia.

Salam untuk menggantikan ketakutan; Berbagi untuk melawan ketimpangan; Silaturahmi untuk menyembuhkan perpecahan; Qiyamullail untuk menjaga nurani.

Menebar Nasihat Moral

Tulisan ini bukan untuk menyederhanakan kompleksitas konflik global. Kita tahu, realitas geopolitik tidak sesederhana nasihat moral.

Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa peradaban besar tidak runtuh karena kekurangan strategi, tetapi justru karena kehilangan nilai.

Di tengah dunia yang terasa semakin “gelap” dan penuh ketidakpastian, setiap kita memiliki pilihan: ikut menambah kegelapan, atau menjadi cahaya.

Dan mungkin, cahaya itu dimulai dari hal yang sangat sederhana—seperti yang diajarkan oleh kita tercinta, lebih dari 14 abad yang lalu.

Menyapa dengan damai. Berbagi dengan tulus. Menyambung yang terputus. Dan berdiri terjaga, berdoa, di malam yang sunyi.

Karena bisa jadi, di saat dunia sibuk dengan suara ledakan, justru dari sujud-sujud sunyi itulah lahir harapan baru bagi kemanusiaan. Aamiin.

 

Masjid Nabawi

Madinah Al-Munawwarah 

Lepas Tengah Malam,

27 Maret 2026

 

Tatang Astarudin, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *