Ketika covid 19 menjadi pandemik, diantara solusi untuk memutus mata rantai penyebarannya adalah menjaga jarak sosial dan fisik. Karena pilihan medik itu, segalanya harus dikerjakan di rumah. Dari mulai bekerja, belajar, sampai beribadah. Rumah yang dalam fungsi semula hanya sebagai tempat istirahat, kini menjadi tempat segalanya.

Pada pilihan ini, ada hajat spiritual yang terasa hilang. Kebiasaan sholat berjamaah di masjid, keterjagaan pelaksanaan sholat jum’at, kegiatan taklim dan tablig yang selama ini telah berfungsi sebagai nutrisi bergizi untuk menyirami ruhani, kini harus terhenti. Ragam kegiatan keagamaan yang menjadi pondasi spiritual bahkan benteng kokoh untuk menghalau segala derita dan cobaan hidup, menjadi ikut terkoyak.

Dalam irama takdir Allah ini juga dalam kepungan kerinduanan mendalam untuk kembali bertugas menjadi pelayan tamu Allah ke tanah suci, pikiran ini dihantarkan pada suatu masa ketika Muhammad harus uzlah (mengasingkan diri) dari ruang publik, terasing ke Gua Hira di Jabal Nur. Kemusrikan dan ragam kemaksiatan yang telah menjadi pandemik masyarakat Qurais kala itu, menjadi sebab al-Amin pergi mengasingkan diri.

Sejak usia 27 tahun hingga menjelang masa diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah, manusia agung itu telah mengasingkan diri di Gua Hira. Dalam uzlah-nya, Al-Amin melakukan dua hal, yakni khalwat dan tafakur. Buah dari mengasingkan diri di ruang privat itu, Al-Amin, tampil di ruang public sebagai manusia tangguh nan paripurna. Karena itu beliau dipilih Allah sebagai Nabi dan Rasul yang membawa misi profetik untuk menggunting segala pandemik kemusyrikan dan kebodohan.

Dalam suasana lock down yang menghajatkan kita tinggal dan beraktivitas di rumah saja, ada tiga kata kunci yang dapat kita petik dari tarih Baginda Nabi, yakni; khalwat, tafakur dan gua Hira.

Khalwat secara bahasa berasal dari kata khala yang berarti sepi. Dalam Minhajul ‘Abidin dan Ihya Ulumudin (Imam Al-Ghzalai) juga ar-Risalah al-Qusyairiyah (Imam Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi), ditemui simpulan, bahwa khalwat adalah praktik menarik diri dari hiruk pikuk dan bisingnya duniawi pada ruang hening untuk mendekatkan diri kepada yang Ilahi.

Menurut Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Muhammad Ramadhan Al-Buthy, diantara hikmah khalwat adalah untuk menyembuhan ragam pandemik penyakit bahin yang susah diobati. Kufur nikmat, ujub, riya, takabbur, iri, dengki adalah sederet pandemik batin yang ditularkan di ruang public. Diantara obat untuk menyembuhkan pandemik batin itu adalah khalwat.

Dalam keadaan khalwat, diantara hal yang harus dilakukan adalah tafakur, yakni mengoperasionalkan potensi pikir untuk mengkaji segala realitas yang ada dan yang mungkin ada sebagai objek pikir. Dalam khazanah sufistik ada lima objek tafakur, yakni tafakur tentang ayat Allah agar berbuah ma’rifat (mengenal Allah), tafakkur tentang nikmat Allah agar berbuah syukur dan mahabbah (mencintai Allah), tafakur tentang janji pahala Allah agar berbuah mujahadah (kesungguhan dalam beribadah), tafakur tentang ancaman siksaan Allah agar bebuah khauf (takut berbuat berdosa pada Allah), dan tafakur tentang dosa yang diperbuat pada Allah agar berbuah taubat.

Berikutnya, kenapa Rasulullah melakukan khalwat dan tafakurnya di Gua Hira?. Al-‘Alamah Syarwani (1301 H), dalam hasyiyah-nya untuk kitab Tuhfatul Muhtaj, mengemukan alasan, karena gua Hira adalah suatu locus dimana posisinya segaris lurus bahkan menghadap langsung ke kiblat baitullah. Ini mengandung pelajaran, bahwa praktik khalwat dan tafakur akan menjadi solusi untuk mengentaskan pandemik lahiriyah dan bathiniyah, manaka segenap potensi jasadi, ruhani dan nafsani kita berkiblat secara totalitas kepada Allah.

Pesan dari moral Gua Hira, ketika seluruh aktvitas kita hanya boleh dilakukan di rumah saja, marilah irama takdir Allah ini kita gunakan untuk mengasingkan diri dari pandemik jasadi dan ruhani, menghidupakan diri dengan tafakur, dan menghadapkan pusat kesadaran diri hanya pada Allah. Anda pasti bisa.

Dr. H. Aang Ridwan, M.Ag, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.

Sumber, Pikiran Rakyat 7 April 2020

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *