UINSGD.AC.ID (Humas) — Sejak tahun 1985 tanggal 9 Februari sampai sekarang, di Indonesia diadakan peringatan Hari Pers Nasional. Peringatan ini sebagai bentuk penghargaan pada jurnalisme atas kontribusinya pada Indonesia, juga sebagai upaya menjaga kualitas, dan terus mengevaluasi kontribusi pers pada masyarakat.
Kegiatan peringatannya pun dilakukan pemberian penghargaan kepada media dan jurnalis yang berprestasi, dan diskusi-diskusi tentang kebebasan pers, serta tantangan jurnalisme di setiap eranya. Hal ini untuk mengingatkan kepada para penggiat dan pecinta pers agar tetap pada koridor yang sesungguhnya, yaitu ikut mencerdaskan bangsa, dan menjaga demokrasi, dan membantu pemerintah dalam mensejahterakan masyarakatnya.
Peringatan hari pers kali ini menghadirkan renungan serius mengenai berbagai hambatan dan kewajiban yang diemban pers dalam menghadapi revolusi digital yang tengah berlangsung. Sejak satu dekade terakhir, pers mengalami tekanan yang luar biasa, yang pada fase-fase sebelumnya tidak ada. Mulai dari melubernya informasi di berbagai media termasuk media sosial, mewabahnya hoaks dan informasi yang mengagitasi dengan tujuan menyesatkan agar terjadi kekacauan, serta transformasi model pemasukan untuk para pengelola media konvensional yang jauh berbeda dengan era konvensional, sehingga mengharuskan jurnalis untuk beradaptasi agar bisa survive dalam waktu yang singkat.

Logo Maskot Hari Pers Nasional 2026 (Foto: Dok. Pemprov Banten)
Tantangan lainnya ialah persaingan bukan lagi dengan antar media massa, melainkan harus bersaing dengan media sosial, yang para pemainnya ialah konten kreator yang tidak memiliki basic keilmuan jurnalistik. Saat ini ledih dari seribu kanal di ranah digital yang yang bisa diakses masyarakat untuk melihat berbagai informasi. Media sosial ini lebih bebas, lebih menarik, dan lebih cepat dibanding dengan media massa, sehingga tidak heran kalau banyak digandrungi semua kalangan.
Meskipun demikian, ada peluang besar yang menjadi modal media mainstream agar tetap bisa bertahan di tengah-tengah gempuran media sosial, yaitu jurnalistik yang berkualitas dalam menghadirkan informasi. Jurnalistik yang sarat dengan verifikasi dan faktualitas.
Tatkala media sosial berlomba-lomba mengumbar berbagai konten dengan kecepatan dan kebebasannya, media massa harus hadir dengan sesuatu yang konsisten pada kualitas tayangan, kualitas konten, kualitas pesan sehingga publik benar-benar terus menjaga kepercayaan. Pastikan publik merasa kalau ingin mendapatkan informasi yang benar dan mendalam, maka produk media massa solusinya.
Konsisten menjaga kualitas jurnalistik harus menjadi spirit para pengelola media. bagaimana pun masyarakat sudah lelah dengan berjubel informasi yang banyak sampahnya, dibanding dengan informasi yang bermutu dan bermanfaat. Kondisi ini menjadi peluang untuk media massa mainstream menjaga pangsa pasarnya. Ibaratnya sebuah produk yang dibuat dengan harga mahal namun bisa memuaskan selera dan kebutuhan konsumennya, maka ketika dibanderol dengan harga mahal pun konsumen tetap memutuskan untuk membeli dan mengkonsumisnya.
Dengan bertahannya para pembaca setia media massa, maka kesulitan finansial yang dirasakan media massa sebagai akibat dari perpindahan iklan ke platform digital, bisa diatasi, karena para pengiklan akan kembali ke media mainstream yang tetap dirindukan kehadirannya.
Media jangan melanggar kode etik jurnalistik. Media harus menunjukkan kredibilitasnya dan membedakannya dengan media sosial. Kondisi ini menjadi distingsi antara media massa dengan media sosial. Media massa bisa melakukan rebranding dengan sajian informasi yang bermutu dan berdampak positif.
Peringatan Hari Pers Nasional tahun ini, semoga menjadi momentum titik balik media berjaya mengudara di hadapan pembaca. Peringatan tahun ini semoga menjadi penyemangat para pengelola media untuk bisa menjaga marwah jurnalistik yang berkualitas, dengan ditopang oleh para pengelola di redaksi dan jurnalis di lapangan menggunakan standar profesional dalam bertugas.
Encep Dulwahab, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung