Pembentangan Simbol Spiritualitas Sepanjang Tol Trans Jawa

Sebuah Catatan Perjalanan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Alhamdulillâh, kita meluncur di atas jalan mulus yang membentang dari Bandung menuju Surabaya atau sebaliknya. Rasanya perjalanan tersebut bukan hanya “long trip”, tetapi sedang melakukan “spiritual journey” seakan melintasi sebuah sajadah panjang yang sengaja dibentangkan oleh tangan-tangan tak terlihat.

Di kanan dan kiri jalan, di balik pagar pembatas tol yang kaku itu, mata kita tak henti-hentinya disapa oleh “checkpoint” berupa menara-menara mesjid yang mencuat gagah di antara rimbun pohon-pohon, hamparan sawah, atau “gundukan” rumah-rumah.

Ada semacam dialog sunyi antara “kekuatan beton modernitas” yang kita injak dengan kubah-kubah yang menunjuk langit. Seolah mereka sedang saling mengingatkan agar manusia yang sedang memacu “speed” mesin ini jangan sampai kehilangan kendali atas batinnya sendiri, kareba ada Dzat Supranatural yang menggerakkan roda kehidupan.

Perjalanan ini, secara analitik, sesungguhnya adalah sebuah panggung sosiologis yang sangat menarik. Bayangkan saja, di jalur Tol Trans-Jawa yang panjangnya mencapai 1.167 kilometer itu, spiritualitas kita ternyata tidak pernah benar-benar menepi ke pinggiran sejarah.

Ia justru hadir tepat di jantung mobilitas kita. Fenomena ini bukan sekadar urusan teknis penyediaan fasilitas umum, melainkan sebuah manifestasi sosiologis tentang bagaimana ritualitas “ubudiyah” atau “spiritual landscap” orang Indonesia tetap menjadi poros utama di tengah arus modernitas yang kian kencang.

Berdasarkan regulasi dari Badan Pengatur Jalan Tol, keberadaan Tempat Istirahat dan Pelayanan atau yang akrab kita sebut rest area memang diwajibkan menyediakan fasilitas ibadah. Namun, apa yang kita lihat di lapangan jauh melampaui sekadar pemenuhan syarat administratif, tetapi pemenuhan “high demand” dari masyarakat Indonesia yang membutuhkan “tempat mengekspresikan ketaatan” di tengah perjalanan.

Mesjid-mesjid di rest area, mulai dari KM 57 yang riuh hingga KM 429 di Ungaran yang sejuk, atau KM 725 menjelang Surabaya, telah bermutasi menjadi “oase psikologis” bagi para musafir yang didera keletihan lahiriah ketika melakukan “safar”.

Argumennya sederhana saja, bahwa di balik gemerlap lampu dasbor dan deru knalpot, orang Indonesia itu memiliki “ketakutan yang purba” akan keterasingan dari Tuhannya saat berada di perjalanan. Maka, kehadiran tempat sujud di setiap jarak 20 hingga 50 kilometer itu adalah jawaban atas kebutuhan rasa aman yang metafisik. Mesjid menjadi “existensial break” yang mengondisikan setiap muslim untuk meraih “thumaninah” (ketenangan batin) di tengah hiruk pikuk duniawi.

Di sana, kita menyaksikan sebuah ruang demokrasi spiritual yang paling jujur. Di depan keran wudhu yang sama, seorang supir truk yang matanya merah karena kurang tidur berdiri bersisian dengan pejabat necis yang turun dari mobil mewah.

Mereka melepaskan semua atribut pangkat dan gengsi di pelataran mesjid, lalu sujud dengan kerendahan hati yang setara. Inilah momen di mana “lifestyle” dan kasta-kasta sosial melebur dalam dinginnya air wudhu dan hangatnya karpet sajadah. Di sini “social connectivity” (habl min al-nâs) berjalin gelindan dengan “divine connectivity” (habl min Allâh).

Secara filosofis, keberadaan rumah ibadah di sepanjang jalur cepat ini merupakan antitesis dari sifat jalan tol itu sendiri. Jalan tol itu wataknya egois, linear, materialistik, dan ingin serba cepat sampai tujuan. Sebaliknya, mesjid hadir untuk menawarkan “jeda”. Ia memaksa kita untuk berhenti sebentar, menarik napas dalam-dalam, dan menyadari bahwa secepat apa pun kita lari mengejar urusan di Surabaya (atau kota lainnya), pada akhirnya kita tetaplah hamba yang kecil di hadapan Sang Pemilik Kehidupan.

Arsitektur mesjid yang beragam, mulai dari yang bergaya futuristik “modern-minimalist” tanpa kubah di tanah Pasundan hingga yang “adaptable” beratap tumpang ala Jawa tradisional di wilayah tengah, menunjukkan betapa lenturnya spiritualitas kita dalam memeluk budaya setempat tanpa kehilangan esensi ketauhidannya.

Maka, setiap kali kita menginjak rem untuk berbelok ke arah menara mesjid, kita sebenarnya sedang melakukan “re-centering” atau pemusatan kembali orientasi hidup kita agar tidak melulu mengejar angka-angka di spidometer.

Maka, narasi spiritualitas sepanjang tol Bandung-Surabaya atau sebaliknya ini adalah bukti nyata bahwa kemajuan fisik tidak harus mengorbankan kekayaan ruhani. Kita boleh saja bangga dengan konektivitas aspal yang mempersingkat waktu tempuh, namun kita jauh lebih beruntung karena di sepanjang aspal itu Tuhan tetap “menyapa” lewat azan yang sayup-sayup terdengar dari balik kemudi.

Mesjid di rest area bukan sekadar tempat sholat, ia adalah pengingat bahwa tujuan akhir perjalanan kita yang sebenarnya bukanlah Surabaya atau kota mana pun di peta, melainkan kepulangan kepada-Nya dengan hati yang tenang. Di atas jalan tol ini, kita belajar bahwa menjadi modern itu perlu, tapi menjadi manusia yang tetap ingat jalan pulang ke langit itu jauh lebih utama.

Panginten, kitu. Wallâhu a’lam bi al-shawab

Dadan Rusmana Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *