UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam semangat membangun kebersamaan dan menebar keberkahan bulan suci, Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Ramadhan Mubarak bertema “Spirit Rahmatan Lil ‘Alamin” yang berlangsung di Aula Abdjan Soelaeman, Rabu (04/03/2026).
Ketua Pelaksana, Erlis Marliani Fathonih, menjelaskan bahwa kegiatan bertajuk “Berbagi Berkah, Menebar Cinta” ini merupakan program rutin Bidang Sosial Budaya DWP UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Sebanyak 600 paket buka puasa dibagikan, terdiri atas 450 paket di Kampus 1 dan 150 paket di Kampus 2. Setiap paket berisi snack (makanan ringan/camilan) dan nasi untuk hidangan berbuka. Sasaran kegiatan ini adalah sivitas akademika, mahasiswa dan masyarakat sekitar yang membutuhkan.
Ketua DWP UIN Bandung, Ny. Enung Supartini Rosihon, menjelaskan bahwa pembagian takjil bukan sekadar berbagi makanan, melainkan wujud nyata kepedulian sosial di bulan suci.
“Berbagi kasih ini adalah wujud kecil rasa syukur kami di bulan yang penuh berkah. Semoga dengan berbagi, kita bisa mempererat ukhuwah Islamiyah dan meringankan beban saudara-saudara kita,” tegasnya.
Dengan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pengurus DWP, para mitra, serta sponsor utama Djati Mart atas dukungan dan kerja sama yang solid sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik dan berjalan lancar. Menurutnya, kolaborasi dan semangat kebersamaan menjadi kunci suksesnya acara.
“Terima kasih kepada seluruh pengurus, mitra DWP, dan sponsor utama Djati Mart yang telah sama-sama bekerja dan berkontribusi. Semoga setiap kebaikan yang dilakukan menjadi amal jariyah dan membawa keberkahan bagi kita semua,” ungkapnya.
“Mari kita jadikan ini sebagai Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk memperkuat nilai kasih sayang, kepedulian, dan ukhuwah di lingkungan kampus,” jelasnya.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, tausiyah dan doa disampaikan oleh KH. Aang Ridwan. Dalam pemaparannya, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini menegaskan pentingnya menghidupkan Spirit Rahmatan Lil ‘Alamin dalam suasana Ramadan.
Setiap agama mengenal konsep sakral dan profan, suci dan tidak suci. Bulan Ramadan sebagai bulan suci sering kali “dikepung” oleh budaya populer yang diproduksi dan didistribusikan manusia, termasuk oleh umat Islam sendiri.
Dengan menguraikan sejumlah ciri budaya populer yang perlu disikapi secara kritis, di antaranya budaya yang relatif dan serba tidak mutlak, materialistik, visual dan berbasis layar, hiburan yang berlebihan, mengedepankan gaya daripada substansi, serba instan, berbasis komunitas, hingga mengutamakan merek dibanding fungsi.
Menurutnya, jika tidak disertai perenungan, budaya ini dapat menggerus kesakralan Ramadan. “Bulan suci hari ini dihadapkan pada kepungan budaya populer. Karena itu, Ramadan harus menjadi momentum pengendalian diri dan pendisiplinan spiritual,” paparnya.
Kepada Laboratorium Dakwah ini menitipkan dua hal penting dalam menjalani Ramadan. Pertama, kesadaran waktu. Para ulama selalu mengingatkan bahwa waktu adalah nafas kehidupan. Dengan kesadaran waktu, seseorang akan mengenal amalnya, mengenal dirinya, dan pada akhirnya mengenal Tuhannya. “Waktu itu seperti pedang. Jika tidak dijaga, ia akan memotong kita,” ungkapnya.
Kedua, kemampuan mengendalikan diri. Shaum mengajarkan mekanisme pengendalian diri, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi berusaha mengelola emosi, pikiran, dan perilaku. “Pengendalian diri inilah yang akan mengantarkan manusia pada derajat kemuliaan,” bebernya.
Untuk itu, penting menjaga lisan, tangan, dan pikiran selama Ramadan agar ibadah benar-benar bermuara pada ampunan Allah Swt. “Puasa adalah latihan moral yang membentuk pribadi berintegritas dan berempati,” pungkasnya
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Melalui kegiatan ini, DWP UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap semangat rahmatan lil ‘alamin tidak berhenti pada seremoni, tetapi terwujud dalam aksi nyata yang menghadirkan manfaat dan kemaslahatan bagi umat.
