UINSGD.AC.ID (Humas) — Di sebuah rumah sederhana di tengah kampung, keluarga Ust Haji Harja dan Ustz Hj. Mita sedang merasakan getaran yang berbeda. Angin sore berembus lembut, membawa suara anak-anak mengaji dari surau di pinggir rumah. Ramadan tinggal menghitung hari.
Pak Haji menutup mushaf Al-Qur’an yang sejak tadi dibacanya di teras. Janggut tipisnya yang mulai memutih bergerak pelan saat ia berzikir.
“Bu,” panggilnya lembut, “sebentar lagi tamu agung itu datang.” Ibu Hajah yang sedang melipat mukena putih tersenyum haru. “Semoga kita dipertemukan dalam keadaan terbaik, Yah.”
Di ruang tengah, tiga anak mereka Aulia, Elsyam, dan Lazulfa duduk melingkar. Lantunan hafalan mereka mengalun merdu. Aulia yang sulung sedang menyetorkan hafalan ayat kepada ibunya. Elsyam murajaah ayat dengan penuh konsentrasi. Sementara Lazulfa yang paling kecil masih terbata, tetapi matanya berbinar penuh semangat.
Keluarga itu dikenal sebagai keluarga religi. Bukan karena ingin dipuji, tetapi karena Pak Haji dan Ibu Hajah menanamkan cinta ibadah sejak anak-anak mereka masih kecil. Bagi mereka, Ramadan bukan sekadar bulan puasa, ia adalah musim panen pahala dan perbaikan jiwa.
Suatu sore menjelang Ramadan, mereka berjalan bersama menuju rumah tetangga untuk bersilaturahmi. Pak Haji membawa bingkisan sederhana.
“Assalamu’alaikum, kami sekeluarga mohon maaf lahir dan batin,” ucapnya tulus. Tangan berjabat erat. Mata berkaca-kaca. Anak-anak pun menyalami dengan takzim, mencium tangan orang tua dengan penuh hormat. Momen itu sederhana, tetapi terasa agung, hati yang dibersihkan sebelum memasuki bulan suci.
Malam terakhir sebelum Ramadan tiba.
Di dapur, Ibu Hajah menyiapkan sahur perdana nasi hangat, sayur bening, telur dadar, dan kurma. Anak sulung membantu menata piring. Yang lain menyiapkan sajadah, juga memilih gamis kecilnya.
“Besok kita sahur pertama ya, Ayah?” tanya si Kecil dengan mata berbinar.
“Iya,” jawab Ayah tersenyum. “Sahur pertama harus kita awali dengan doa dan niat yang lurus.”
Sebelum tidur, mereka berkumpul. Pak Haji membaca beberapa ayat dari Al-Qur’an. Suasana hening dan khusyuk. Setelah itu, masing-masing memegang mushaf dengan penuh cinta seolah membuat janji baru untuk lebih dekat dengan Allah.
Pukul tiga dini hari, Ibu Hajah membangunkan keluarga dengan suara lembut. “Bangun, sayang… waktunya sahur.”
Anak-anak bangun dengan wajah berseri. Di meja makan, mereka duduk melingkar. Pak Haji memimpin doa. Di sela sahur, si sulung berbisik, “Semoga Ramadan ini hafalan kita bertambah.”
“Aamiin,” jawab sang ayah. “Dan semoga hati kita juga semakin bersih.”
Ketika adzan Subuh berkumandang, mereka berdiri berjamaah. Pakaian putih yang dikenakan membuat suasana terasa suci. Dalam sujudnya, Pak Haji memohon agar keluarganya selalu diberi kesempatan bertemu Ramadan dalam iman yang kuat.
Di luar, langit mulai memerah. Hari pertama puasa dimulai. Rumah itu tetap sederhana. Namun di dalamnya tersimpan kekayaan yang tak ternilai berupa cinta keluarga, cahaya Al-Qur’an, dan kegembiraan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih.
Selamat menyambut bulan suci Ramadan 1447 H. Balkon Pondok Tugu Lj
S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung.