Pendahuluan: Kepahlawanan yang Terus Berevolusi
UINSGD.AC.ID (Humas) — Setiap zaman melahirkan definisi kepahlawanannya sendiri. Jika masa lalu adalah tentang perjuangan kemerdekaan, maka masa kini adalah tentang perubahan dan keberlanjutan.
Kita tidak lagi berperang melawan penjajah bersenjata, tetapi melawan bentuk penjajahan baru: ketergantungan, ketidakjujuran, kebodohan, dan kehilangan arah moral. Kepahlawanan tidak lagi identik dengan darah dan nyawa, tetapi dengan keberanian berpikir jernih, berbuat benar, dan berkontribusi nyata.
Dalam konteks inilah tema “Pahlawan: dari Perjuangan ke Perubahan” menjadi relevan, menandai pergeseran makna dari heroisme masa lalu menuju heroisme intelektual dan moral bagi generasi baru di tengah abad ke-21 yang penuh disrupsi dan kompetisi global, kepahlawanan menuntut sesuatu yang lebih senyap namun tak kalah heroik: keberanian berpikir, bertindak, dan berubah demi kemajuan bangsa.
Para pahlawan pendiri bangsa seperti Soekarno, Hatta, Kartini, dan Diponegoro mengukir sejarah dengan darah dan pengorbanan. Mereka memperjuangkan satu kata yang mahal: kemerdekaan. Namun, kemerdekaan yang diwariskan bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab peradaban. Kini, kita hidup di masa yang damai, tapi tidak sepenuhnya bebas.
Penjajahan telah berganti rupa menjadi ketergantungan pada teknologi tanpa arah, ketimpangan sosial, dan krisis etika. Seperti yang disebut oleh filsuf Jerman Friedrich Nietzsche sebagai “the slavery of comfort” , terjadi perbudakan dalam kenyamanan, di mana manusia kehilangan daya juangnya karena terlalu nyaman dengan keadaan.
Pahlawan masa kini bukan lagi mereka yang menumpas musuh bersenjata, tetapi mereka yang melawan stagnasi, menantang kebodohan, dan menolak kekakuan berpikir.

Pahlawan Baru di Era Intelektual dan Digital
Generasi Z adalah generasi yang lahir di tengah dunia digital. Mereka hidup di ruang realitas dan virtual secara bersamaan. Mereka cepat, adaptif, dan kreatif, tetapi sering kehilangan arah nilai.
Tantangan terbesar generasi ini bukan bambu runcing, bukan pula kekurangan akses, tetapi gawai, data, dan jejaring sosial. Tanpa nilai dan kesadaran, semua bisa berubah menjadi alat penjajahan baru. Disinilah pentingnya peran kampus sebagai Lembaga intelektual menjadi arena perjuangan nilai di mana mahasiswa ditempa menjadi manusia berpikir, berakhlak, dan berdaya guna.
Generasi baru perlu memaknai kepahlawanan sebagai keberanian berpikir kritis tanpa kehilangan etika, berilmu tanpa kehilangan makna. Pahlawan di kampus bukan hanya mereka yang unggul IPK, tetapi yang berani membela kebenaran ilmiah, menolak plagiarisme, menjunjung integritas akademik.
Dan siapapun yang menyalakan perubahan dari hal kecil, mahasiswa yang meneliti dengan jujur, dosen yang mengajar dengan hati, wirausaha muda yang menciptakan solusi sosial, atau aktivis yang berjuang menegakkan keadilan digital.
Sebagaimana filsuf Yunani Plato sampaikan : “The measure of a man is what he does with power.” Kekuasaan masa kini adalah pengetahuan. Maka, ukuran kepahlawanan akademis adalah bagaimana ilmu digunakan untuk mengangkat martabat manusia, bukan karir akademis saja.
Dan juga diingatkan oleh sang Proklamator Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Namun generasi kini perlu melanjutkan kalimat itu menjadi: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang melahirkan pahlawan baru di setiap generasinya.”

Dari Patriotisme ke Produktivisme
Semangat kepahlawanan sejati bukan hanya tentang mencintai bangsa, tetapi juga membangun bangsa. Kecintaan tanpa karya adalah romantika, sementara karya tanpa cinta hanyalah rutinitas. Pahlawan era perubahan adalah mereka yang produktif dan visioner.
Seorang ilmuwan yang mencipta solusi, dosen yang menanamkan nilai, mahasiswa yang menjadi agen kebaikan sosial. Dalam bahasa Khalil Gibran, “Progress lies not in enhancing what is, but in advancing toward what will be.” Kemajuan bukan sekadar memperbaiki yang ada, tapi menciptakan yang lebih baik untuk masa depan.
Kepahlawanan hari ini adalah kerja nyata dengan membangun inovasi hijau, meneliti dengan integritas, menciptakan wirausaha sosial, memperkuat literasi moral, dan menanamkan optimisme nasional di tengah tantangan global.
Kepahlawanan era kini, selain kita kenang sebagai pengorbanan, juga tentang transformasi. Jika dahulu pahlawan mengorbankan dirinya untuk bangsa, maka kini pahlawan adalah mereka yang mengembangkan dirinya untuk bangsa.
Seorang dosen yang tetap meneliti demi kemajuan masyarakat, seorang mahasiswa yang menolak menyerah pada keadaan, atau seorang pemimpin muda yang menjunjung nilai kemanusiaan, semuanya adalah bentuk kepahlawanan transformasional.
Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre pernah menulis, “Man is nothing else but what he makes of himself.” Artinya, manusia menjadi pahlawan bukan karena gelar, tetapi karena pilihan sadar untuk bertanggung jawab atas makna hidupnya.
Pahlawan sejati tidak hanya berani melawan musuh di luar dirinya, tetapi juga melawan ketakutan, keraguan, dan ketidakpedulian dalam dirinya. Seperti kutipan dari Mahatma Gandhi, “Kekuatan tidak datang dari kemampuan fisik, tetapi dari kemauan yang tak tergoyahkan.” Makna yang penting untuk dipahami generasi muda Indonesia, bahwa perubahan bangsa tidak datang dari kekuatan besar semata, melainkan dari setiap tindakan kecil yang konsisten dan berintegritas.
Generasi Emas 2045 tidak akan lahir dari slogan dan retorika, tetapi dari kesadaran baru, bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral menjadi agen perubahan. Menjadi pahlawan bukan berarti menjadi sempurna, melainkan terus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebenaran di tengah kompleksitas dunia modern.
Visi Indonesia Emas 2045 menuntut generasi yang tidak hanya cerdas dan kompetitif, tetapi juga berkarakter dan berjiwa pahlawan. Bangsa ini tidak akan maju hanya dengan infrastruktur fisik, tetapi dengan infrastruktur moral dan spiritual.
Mahasiswa dan civitas akademika adalah bagian dari barisan pahlawan perubahan itu. Mereka ditantang untuk: a) Menjadi peneliti yang jujur dan solutif. b) Menjadi pendidik yang menumbuhkan etika berpikir. c) Menjadi warga digital yang bertanggung jawab dan bijak. d) Menjadi generasi yang menolak apatisme dan memelihara harapan.
Seperti kata Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Dan di era modern ini, perjuangan yang dimaksud adalah melawan kejahatan intelektual, korupsi moral, dan kemalasan berpikir.

Pahlawan Ada di Dalam Dirimu
Kepahlawanan sejati bukan hasil dari satu tindakan besar, tetapi dari ribuan tindakan kecil yang konsisten. Meneliti dengan sungguh-sungguh, berbuat adil, menepati janji, berbagi ilmu, menolak kecurangan. Semua itu adalah kepingan kecil dari mozaik kepahlawanan bangsa yanga ada dalam diri kita.
Pahlawan adalah orang yang menjadi cahaya ketika banyak orang memilih menjadi bayangan. Dan sebagaimana Rumi sampaikan , “Raise your words, not voice. It is rain that grows flowers, not thunder.” Bangsa ini tidak membutuhkan teriakan, tapi tindakan yang menumbuhkan.
Kini, saat kita menatap Indonesia Emas 2045, mari kita tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku sudah menjadi bagian dari perubahan itu? Apakah ilmuku, profesiku, dan tindakanku memberi makna bagi sesama? Apakah aku sudah berjuang melawan ketidakadilan di lingkunganku, sekecil apapun itu?
Karena pada akhirnya, seperti yang pernah dikatakan Albert Camus, “Di tengah musim dingin yang gelap, aku menemukan dalam diriku musim panas yang tak terkalahkan.” Dan musim panas itu adalah semangat kepahlawanan yang tak pernah padam di dada generasi muda Indonesia.

Dari Perjuangan Menuju Perubahan
Kini, menjadi pahlawan berarti mengubah perjuangan menjadi perubahan. Tidak cukup berjuang untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kemaslahatan yang lebih luas. Tidak cukup bangga dengan sejarah, tetapi harus menciptakan sejarah baru. Pahlawan masa kini tidak menunggu momentum; mereka menciptakan momentum. Mereka tidak menunggu inspirasi, mereka menjadi inspirasi.
Karena bangsa ini akan menjadi besar bukan karena jumlah pahlawannya, tetapi karena semua warganya hidup dengan semangat kepahlawanan.
“Kita lahir bukan untuk mengulang sejarah, tetapi untuk menulis bab baru yang lebih bermakna dari perjuangan menjadi perubahan.” Wallahu’a’lam bis showaab
Lilis Sulastri, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung